Mohon tunggu...
Azizah
Azizah Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa

Penyuka twitter

Selanjutnya

Tutup

Cerpen

Insya Allah

16 September 2020   07:53 Diperbarui: 16 September 2020   07:56 103
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Cerpen. Sumber ilustrasi: Unsplash

Satu jam telah berlalu. Sari masih saja duduk di halaman perpustakaan kota sambil membaca surat kabar yang tersedia di meja kayu yang ada di hadapannya. Tak hanya itu, Sari juga melahap keripik pisang buatan neneknya yang pagi tadi ia sambangi. Tak lupa ia juga membawa botol minuman yang berisi es kopi cincau yang ia contek resepnya di youtube.

Sari pergi ke perpustakaan bukannya tanpa alasan. Kemarin sore, ia telah berjanji dengan Alma untuk berjumpa di perpustakaan kota tepat pukul dua belas siang. Namun, hingga pukul satu siang, Alma tak kunjung kelihatan batang hidungnya.

Otak Sari pun mulai tak fokus untuk membaca cerpen yang ditulis idolanya, Sujiwo Tedjo di sebuah koran ternama. Padahal, biasanya Sari sangat antusias membaca karya sang budayawan tersebut. Ini dikarenakan Alma tak ada tanda-tanda untuk datang ke perpustakaan kota.

"Iya, Insya Allah aku akan datang jam dua belas siang. Kamu tunggu aja di sana ya," tukas Alma kemarin sore di kampus.

"Oke. Stok shoot yang nggak digunakan akan ku hapus. Dan nanti pagi aku juga akan ambil beberapa stok shoot di rumah. Kebetulan di sana ada pemandangan lumayan bagus. Nanti biar langsung kamu edit aja," papar Sari sambil melihat beberapa stok shoot yang sudah ia ambil bersama anggota kelompok lainnya.

Pesan singkat yang Sari kirimkan ke Alma tak kunjung terkirim. Sari pun tak lupa untuk mengusahakan menelepon Alma, namun hanya suara dari operatorlah yang terdengar. Ia pun hanya bisa membaca koran, makan keripik pisang, minum es kopi cincau, sambil menampakkan wajah kusutnya di atas kursi kayu coklat.

Dua bungkus keripik pisang yang Sari bawa sudah hampir habis. Hal ini tak seperti biasanya Sari menghabiskan keripik pisang secepat itu. Barangkali ini pertanda bahwa ia sudah sangat jengkel dan bosan telah menunggu Alma yang entah sedang apa yang ia lakukan hingga melupakan janjinya.

"Sari.... Sari....," teriak Alma sambil berlari dan melambaikan tangannya dari tempat parkir yang tak jauh dari meja yang ada dihadapan Sari. "Maaf, Sari. Aku lupa. Sebulan lagi aku akan ada pertandingan di luar kota. Jadi ya, porsi latihanku ditambah deh," ujar Alma sambil menebarkan senyumannya.

"Lusa videonya sudah harus jadi. Pak Joko bilang kalau lusa jam delapan pagi harus sudah diunggah di youtube. Aku pergi dulu," ucap Sari yang sebenarnya ia ingin meluapkan marahnya di depan wajah Alma. Namun, ia berusaha menahan jengkelnya karena tak mau hubungan pertemanan mereka rusak.

Sebenarnya, hal serupa tak hanya sekali dilakukan oleh Alma. Minggu lalu ia bahkan lupa dengan janjinya kepada Pak Kumis, seorang produsen totebag yang ia kenal beberapa bulan silam. Pak Kumis meminta Alma untuk berdiskusi mengenai produknya agar penjualannya semakin meningkat.

"Lusa, jam sembilan pagi kamu ke sini ya, Alma. Bapak akan mengajarkanmu soal digital marketing agar penjualanmu semakin meningkat. Bapak lihat, kamu sudah bisa berjualan lewat media sosial. Kalau jam sembilan kamu tak kunjung datang, diskusinya kita batalkan saja," tulis Pak Kumis melalui pesan singkat yang ia layangkan ke atlet putri tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun