Mohon tunggu...
Azizah Herawati
Azizah Herawati Mohon Tunggu... Penulis - Penyuluh

Pembelajar yang 'sok tangguh'

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Toleransi Tanpa Basa-Basi

3 Januari 2021   13:43 Diperbarui: 3 Januari 2021   13:56 1100
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Demikian pula sebaliknya, apakah kami merasa terganggu dengan dentang lonceng gereja yang menandai dimulainya kebaktian? Tidak, semua menjadi satu irama dalam alunan keberagaman yang akrab di telinga. Terlihat keberagaman yang begitu indah tanpa saling mencaci dan menyakiti. Toleransi yang begitu nyata, saling menghormati tanpa saling mencampuri. "Lakum dinukum wa liyadin ", Bagiku agamaku, dan bagimu agamamu." Subhanallah, so sweet!

Selain ajaran tentang toleransi antar umat beragama yang sangat nyata, saya juga belajar tentang bagaimana kita menjalin kerukunan dengan sesama umat beragama. Ya, sesama muslim. Perbedaan klise yang masih saja digembar gemborkan. Diasah, dipertajam, sengaja dibuat jarak, seolah-olah kami tidak mungkin disatukan. Matahari tidak mungkin bersatu dengan bumi.

Mereka lupa, kalau matahari dan bumi harus saling bersinergi. Matahari tidak akan berarti tanpa ada bumi. Sebaliknya bumi akan terasa dingin dan sunyi tanpa ada matahari. Luar biasa bukan?

Ketika orang masih mempermasalahkan qunut, masih galau dengan hitungan rakat tarawih, masih ngotot dengan hisab atau ru'yat, kita tidak akan maju. Kita hanya akan disibukkan untuk mencaci dan menghujat saudara kita sendiri. Kondisi seperti ini justru membuka peluang untuk dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang akan merusak Islam.

Mengapa kita tidak saling mengisi, saling menguatkan. Bukankah Nabi kita menegaskan bahwa perbedaan adalah rahmat? "Ikhtilafu ummati rahmatun." Taman akan menjadi indah saat ditanami bunga berbagai warna. Kolam akan terasa senjuk dan nyaman dilihat saat disinggahi berbagai jenis ikan. Mereka tumbuh, mekar dan berkembang dalam satu wadah yang sama, wadah keberagaman.

Saya jadi ingat apa yang biasa dilakukan oleh kyai saya di pesantren. Memimpin sebuah pesantren besar yang tidak berafiliasi pada salah satu organisasi keagamaan, berdiri di atas semua golongan diperlukan teknik tersendiri. Antara lain saat menjadi imam sholat Subuh. Saya dan beberapa santri mungkin sempat bertanya dalam hati, "Mengapa Pak Kyai selalu berdiri agak lama saat i'tidal pada rakaat kedua? Bukankah Pak Kyai tidak membaca qunut?"

Pak Kyaipun menjelaskan secara gamblang, ketika menjawab rubrik "Santri Bertanya, Kyai Menjawab" yang digelar ba'da subuh. Ternyata diamnya Pak Kyai memberikan kesempatan kepada jamaah Subuh yang terbiasa membaca qunut, untuk tetap melaksanakan keyakinan dan kebiasaannya itu. Hemmm, begitulah!

Pelajaran dari Pak Kyai ini selalu saya ingat. Ketika saya harus berbeda paham dengan salah satu sahabat akrab saya, hal inipun saya terapkan. Apa yang terjadi? Kami tetap enjoy dan tetap best friend forever!

Masih banyak pelajaran tentang toleransi dan ajaran tentang kerukunan yang saya dapat. Bagaimana saya begitu terkesan kita  mengikuti jamaah sholat tarawih di masjid kampus saya yang heterogen. Ketika sampai pada rakaat kedelapan, mereka yang mengikuti tarawih 23 rakaat, dengan rela hati menunggu saudaranya yang menutup tarawih dengan witir hingga lengkap 11 rakaat. Baru kemudian mereka melanjutlkan sampai cukup bilangan 23 rakaat. Damai, tanpa saling menghujat. Kebersamaan itu begitu lengkap ketika mereka duduk bersama lagi untuk mendengarkan tausiyah dari penceramah dilanjutkan tadarus. Tidak lupa kudapan teh panas dan aneka snack mereka nikmati dalam tawa dan canda. Paket toleransi yang sangat komplit.

Satu lagi paket toleransi antar intern umat beragama yang begitu terasa di kampung halaman saya. Kampung kami punya masjid warisan leluhur yang cukup besar di tengah dusun. Di situlah kami melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah setiap hari. Namun, saat Ramadan tiba, ada sedikit yang berbeda. Kegiatan buka bersama dan ceramah jelang ta'jil digelar bersama di masjid. Penceramah menghadirkan mubalig dari luar dusun secara bergantian dari dua organisasi. Semua gembira dan menikmati.

Saat pelaksanaan sholat tarawih tiba, jamaah yang melaksanakan tarawih 11 rakaat memisahkan diri ke mushola. Sedangkan jamaah yang melaksanakan tarawih 23 rakaat tetap berada di masjid. Namun begitu tarawih dan ceramah ba'da tarawih usai, mereka kembali duduk bersama untuk melaksanakan tadarus di satu majelis. Pembagian zakatpun demikian, mereka mentasyarufkan bersama-sama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun