Mohon tunggu...
Muhammad Irfan Ayyubi
Muhammad Irfan Ayyubi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Hanya seseorang yang ingin tidur siang di sebuah kolong jembatan dengan bebasnya

Selanjutnya

Tutup

Fiksiana Pilihan

Tertangkapnya Si Burung Kecil

26 November 2020   19:08 Diperbarui: 26 November 2020   19:11 31 8 0 Mohon Tunggu...

Maryam dengan segala misterinya memang sulit diraba. Tak seorangpun tahu di kota itu, siapa dirinya? Dari mana asalnya? Apakah ia memiliki keluarga?

Pono tahu ada kabut tebal yang menyelimuti dirinya dari semenjak awal berjumpa. Dunia keduanya berada di antara kenyataan dan imaji. Nyata tapi tak betul-betul nyata. Terasa tapi tak benar-benar dapat dimengerti. Keduanya bukan makhluk yang dapat mengungkapkan segalanya dengan jelas. Baik perasaan atau perbuatan,  baik kepribadian atau karakteristik, keduanya hanya bisa menyelami relung sanubari satu sama lainnya.

Pono tahu semua itu, dan Maryam pun begitu. Keduanya begitu dekat tapi membuat jarak. Interaksi yang tidak biasa, namun nyatanya membuat batin keduanya semakin mendekat. Keduanya barangkali merasa diri mereka seperti musafir yang hanya sempat bertemu sekilas lalu pergi, tak ada yang saling memberitahu dengan gamblang siapa dan dari mana, seperti apa masa lalu, dan bila diungkapkan, malah hal yang terasa tidak perlu.

Keduanya merajut tali-tali yang saling terkait pada jiwa, namun tidak pada raga. Bagi Pono sendiri, diri manusia berada dalam dualitas antara badani dan roh, badan hanyalah sebongkah materi, yang kelak akan musnah dileburkan waktu. Tiada abadi. Sementara yang hakiki, roh akan kekal, tidak pernah bisa mati dan lapuk oleh waktu.

Namun, bagaimanapun juga, sekeras apapun manusia lari dari realitas, apa yang diselami oleh keduanya, tidak akan bisa terlepas dari belenggu cerita kehidupan. Jalannya tak dapat ditebak, skenarionya tidak pernah dibaca sebelumnya, mereka hanyalah wayang-wayang yang menjalani apa yang diperintahkan Ki Dalang. Tak dapat berkutik, tak memiliki daya upaya, sekeras apapun mereka mencoba. Jiwa dan pikiran memberontak pun takkan dapat menandingi kehendak-Nya.

Jalan cerita, menghendaki Maryam sebagai burung kecil yang pergi melarikan diri dari sangkar besinya, diburu dan terus diburu, kemanapun pergi ia akan terus diburu, biarpun sayap kecilnya mencoba untuk terus terbang ke mana ia mau, akan tetapi, ada hal yang takkan bisa dihindarinya. Yaitu titah Sang pemilik skenario hidupnya.

Sang pemburu yang telah lama kehilangan jejak, rupanya kemudian berhasil mengendus keberadaannya. Menetap dan mengucilkan diri di belantara manapun, pemburu itu akan hadir, kemanapun ia pergi.

"Nampaknya, telah tiba waktuku." Ucap si burung kecil.

Pono terdiam. Kecut oleh keadaan. Apa yang harus dilakukannya? Menyerah atau menentang kehendak takdir? Pemburu tua ada di hadapannya, menodongkan senapan laras panjang tepat menempel pada keningnya. Di sampingnya sesosok pemburu muda, menyeringai dengan wajah mengerikan. Tertawa-tawa penuh kemenangan.

Laki-laki kurus itu tak berkutik. Inilah pemburu yang diceritakan Maryam kala itu. Satu sisi ia ingin seekor burung kecil terbang bebas terbang ke mana ia mau. Namun di sisi yang lain, rasanya tak ada yang dapat dilakukannya selain mengangkat tangan dan duduk persis seperti yang diperintahkan oleh sang pemburu.

"Pulanglah, Maryam, sayangku, kami telah siapkan sangkar emas yang indah untukmu."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x