Mohon tunggu...
IbuyyaNafri
IbuyyaNafri Mohon Tunggu... Mahasiswa

Cara menikmati hidup yang paling utama adalah usaha membuang ketakutan-ketakutan yang bersarang di kepala.

Selanjutnya

Tutup

Novel

Goro-Goro: Prolog

20 November 2019   16:05 Diperbarui: 20 November 2019   16:18 0 1 0 Mohon Tunggu...
Goro-Goro: Prolog
dokpri

Semilir bayu menelisir di sela-sela rambut panjang hitam seorang laki-laki yang sedang tegap berdiri, di sebuah bukit. Letaknya tepat di barisan bukit gunung Srangkeng, yang udaranya sejuk menggelitik sampai menembus belulangnya. Hijau royo-royo kemana kedua matanya itu memandang,  gagah hutan belantara lebat yang belum sama sekali terjamah tangan-tangan manusia berada di sebelah barat terlihat.

Laki-laki itu sepertinya seorang pengembara. Tubuhnya agak kurus, namun lengannya menunjukkan otot yang sepertinya sering dilatih. Bagian atas tubuhnya sampai pusat tak tertutupi selembar kainpun, menunjukkan dadanya yang tidak terlalu bidang, dan dari tangan kanannya terlihat menggenggam sebatang ranting pohon yang diujungnya terikat buntalan kain bercorak coklat yang membulat berisi, mungkin beberapa pakaian dan  perbekalan. 

Sementara bagian bawah tubuhnya memakai kain seperti sarung berwarna putih yang berukir corak bunga anggrek berwarna hitam. Usia pemuda itu kelihatannya masih belia, setidaknya itu yang terpancar dari wajah mudanya yang penuh bara api semangat, matanya berkilauan cahaya penuh harapan yang gilang-gemilang, hidungnya tidak terlalu mancung, bibirnya merah darah pekat. Meski kurus, kaki-kakinya kuat terpancang, tergambar dari betis sang pemuda yang berisi pada ototnya terlihat memadat, sementara telapaknya polos tak terbungkus alas.

Nampaknya ia sedang mencari suatu tempat. Pemuda itu berhenti untuk menghela nafasnya sejenak sambil memandang hamparan hijau dibawah bukit dan sebuah perkampungan kecil di sebelah timur tadi yang ia lewati. Rasanya ia telah jauh berjalan. Penat nampak dirasakannya juga, medan semakin serasa berat, namun tujuannya belum juga terlihat. Ah, dilihatnya seorang kakek yang  berjalan bungkuk, memikul kumpulan kayu bakar  menuju ke arahnya. Wajahnya penuh kerut, janggut dan kumisnya pun sudah putih dengan uban tak berbeda dengan rambutnya. Timbul harapan  Barangkali sang kakek  mengetahui dimana tujuannya berada.

"Permisi eyang." Pengembara itu mendekatinya dan kakek tua itu pun nampak tersentak melihat seorang pemuda asing dan menghentikan langkahnya sejenak.

"Aaa..aah engkau mengejutkanku anak muda, nampaknya engkau bukanlah penduduk sekitar sini." Ucap sang kakek  Sambil menaruh kayu bakar yang dipikulnya di tanah.

"Maaf kehadiran hamba mengejutkan kakek, hamba hanya ingin menanyakan sebuah tempat, barangkali eyang mengetahuinya...." Ucap sang pemuda. Sang kakek mendengarkan penuh perhatian.

"....adakah eyang mengenal pertapa bernama resi Wijayandanu...
"....yang pertapaannya kabarnya di gunung Srangkeng ini?" Tanya pengembara muda itu.

"Re..si, Wi..Wijayan..danu?" Nampak sang kakek terkejut mendengar nama itu. Pengembara muda itu pun menganggukkan kepalanya. Kakek tua itu pun menghela nafas sejenak, kemudian  duduk diatas batu disampingnya. Ia terdiam, matanya menerawang seperti  mengingat apa yang bisa ia ingat. Sang pemuda itu pun lantas ikut duduk di depannya mencoba mendengarkan sang kakek yang sejurus bercerita kemudian.

"Banyak orang.. berkata.. keberadaan Resi Wijayandanu itu hanya mitos..." Dengan suara berat sang kakek mencoba memberitahukan apa yang ia tahu.

"...Kabarnya, dia adalah pertapa yang sudah hidup empat ratus tahun lamanya, tapi Nyatanya, tak ada manusia hidup ratusan tahun seperti pertapa itu. Karena itulah ia dianggap mitos. Sang resi itu dianggap bukan manusia, tapi aku pernah benar-benar melihat sosoknya dengan mata kepalaku sendiri.."

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
20 November 2019