Ekonomi

Prospek Tanaman Bambu sebagai Solusi Ketahanan Energi di Indonesia

15 Desember 2016   21:38 Diperbarui: 15 Desember 2016   21:47 152 0 0

Indonesia merupakan sebuah negara dengan kondisi geografis yang berkepulauan. Salah satu tantangan sulit yang dihadapi oleh Indonesia adalah pendistribusian sumber energi listrik yang merata. Saat ini, hanya kota-kota besar saja yang telah mendapat pasokan listrik yang memadai, namun pada daerah terpelosok pasokan listrik yang diterima masih minim.  Selain itu, sebagai negara yang kaya akan sumber energi, Indonesia masih mengandalkan pemanfaatan sumber energi fosil. Sedangkan, apabila terus dieksploitasi, cadangan sumber energi akan terus menipis dan habis.

Solusi yang tepat untuk masalah tersebut adalah energi terbarukan yaitu sumber energi yang dapat dihasilkan secara lokal dari tenaga air, angin, panas bumi, panas matahari, dan biomassa. Namun, tidak semuanya cocok untuk dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia. Secara geografis, solusi yang paling tepat dan efektif untuk Indonesia adalah sumber energi biomassa, dan bambu merupakan sumber energi biomassa yang cocok untuk ditanam di seluruh wilayah di Indonesia.

Berdasarkan latar belakang tersebut, investasi pada rencana usaha yang saya ajukan yaitu pendirian PT Bamboo Biomass Energy  yang bergerak dibidang penyediaan tenaga listrik melalui biomassa bambu dinilai memiliki prospek yang gemilang. Proyek ini fokus pada salah satu wilayah yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, yaitu Kalimantan. Masih banyak daerah di Kalimantan yang minim listrik sehingga menghambat kesejahteraan rakyatnya. Pemanfaatan sumber energi di Kalimantan pun masih banyak bergantung pada minyak bumi, gas alam, dan batubara.

Dengan melihat banyaknya daerah di Kalimantan dengan lahan yang sangat luas dan tidak dimanfaatkan secara optimal, penanaman bambu dapat menjadi alternatif yang memberikan berbagai manfaat, termasuk di dalamnya manfaat sebagai sumber energi terbarukan. Bambu dapat menjadi sumber energi biomassa melalui proses gasifikasi dengan pemanasan bambu pada perangkat gasifikasi untuk kemudian diproses menjadi gas yang akan disalurkan menjadi tenaga listrik. 

Sisa proses gasifikasi menjadi arang alami yang dapat membantu kembali proses regenerasi bambu. Proses gasifikasi tersebut merupakan konsep yang sangat berbeda dengan insinerator sehingga lebih ramah lingkungan.  Dua batang bambu dengan berat masing-masing sekitar sepuluh kilogram dapat memenuhi kebutuhan listrik satu keluarga selama 24 jam.

Selain itu, bambu dapat menjadi penyeimbang ekosistem karena bambu menyerap karbon dioksida yang dihasilkan oleh pembangkit listrik empat kali lebih sehingga tercipta karbon netral. Bambu menghasilkan oksigen 35% lebih banyak dari tanaman lain yang memiliki tinggi sama.

Luas lahan 300 ha dapat menghasilkan 9.000 ton bambu per tahun. Jika 3 - 4 kg bambu mampu menghasilkan 1 kWh, maka dengan 9.000 ton bambu mampu menghasilkan 2.250.000 kWh/tahun. Menurut Peraturan Menteri ESDM RI No. 27 Tahun 2014, harga jual tenaga listrik dari PLTBm di pulau Kalimantan adalah Rp. 1.150/kWh x 1,30. Maka, 2.250.000 kWh/tahun dapat menghasilkan Rp. 3.363.750.000/tahun.

Ayu Yuniati Putri

1406621613

*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas ujian akhir semester mata kuliah evaluasi proyek, Universitas Indonesia