Mohon tunggu...
Ayah Tuah
Ayah Tuah Mohon Tunggu... Penikmat kata

Pedagang kaki lima Terlambat turun gunung

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Puisi | Di Sebuah Taman Kota, Saat Senja Akan Pamit

9 Juli 2019   06:05 Diperbarui: 9 Juli 2019   06:31 0 22 11 Mohon Tunggu...

Banyak rerontokan daun. Juga kertas-kertas, plastik bekas pembungkus es. Nampaknya pemerintah kota belum menyapu hatinya hari ini. Anak-anak berlarian, sebagian lagi berloncatan tertawa riang di atas balon raksasa berbentuk istana 

Ini Taman Kota 

Bangku beton di sudut, di bawah rerimbunan pohon seorang gadis menulis di ponselnya, "Jangan kirimi aku luka." Dan dari ponselnya mengalir air. Air mata 

Ibu-ibu muda bercengkerama duduk melingkar. Tiap sebentar terdengar cekikik mereka. "Laki gua payah. Masak belum apa-apa udah nyerah." Disambut ledakan tawa rekannya. Mereka bercerita tentang bukan apa-apa, juga tentang bukan siapa-siapa. Hari-hari seperti kurang lengkap kalau belum bercerita apa saja. Sudah tahu pesohor yang dengan sengaja membuka celana dalamnya sendiri? 

Senja makin beranjak. Ibu-ibu mengajak pulang anak-anak mereka. Gadis itu pun sudah bangkit dari tempat duduknya. Semburat merah perlahan menggelap di tepi langit 

Nampaknya senja segera pamit

Cilegon, 2019 

KONTEN MENARIK LAINNYA
x