Mohon tunggu...
Ikhwanul Halim
Ikhwanul Halim Mohon Tunggu... Editor - Penyair Majenun

Author of 'The Geek Got The Girl', 'Rindu yang Memanggil Pulang', 'Kafe Pojok dan Barista tak Bernama' (Antologi Puisi), 'Terdampar dan Cerita-cerita Lain' (Kumpulan Flash Fiction), '2045' (Kumpulan Cerpen) dan 'Bobo Pengantar Dongeng' (Kumpulan Dongeng Kekinian). Father. Husband. Totally awesome geek. Urban nomad. Sinner. Skepticist. Believer. Great pretender. Truth seeker. Publisher. Author. Writer. Editor. Psychopoet. Space dreamer. https://web.facebook.com/PimediaPublishing/ WA: +62 821 6779 2955

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Pintu

7 Agustus 2022   16:46 Diperbarui: 7 Agustus 2022   17:01 113 11 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Dia tak bisa menunggu sukses, maka dia melanjutkan tanpanya.

Tampaknya satu strategi yang memadai, karena waktu dan ruang terlibat dalam kesadaran kita, bukan abstraksi di luar pikiran.

Dia menyukai absurditas. Menangani pekerjaan setiap hari dengan absurditas, lalu mengabaikan pekerjaan itu sendiri.

Dan siapa yang bisa memproyeksikan apa yang mungkin muncul? Pikiran itu sendiri tidak dapat diprediksi.

Dia mencuci pakaian, memotong rumput, mengepel lantai. Sementara itu merasa seolah-olah dia harus melakukan sesuatu yang lain, keluar dari kotak, kompetensi tertentu di luar lintasan tugas-tugasnya.

Jika dia bermain kecapi, mengendarai sepeda roda satu atau berbicara bahasa Klingon, bakatnya akan memberikan bobot dan bentuk yang substansial. Orang mungkin akan mengenalnya karena itu, dan mungkin dia bisa berhenti menggeliat dalam pikirannya yang bergejolak penuh amarah.

Tentu saja, kompetensi khusus ini akan memajukan ritmenya sendiri, melibatkan kesabaran dan disiplin, dan tentu saja, pengorbanan.

Dia tidak yakin apakah dia siap untuk itu. Dia merasakan kengerian akibat membayangkan perpindahan lintasan tugas-tugasnya, sebagai satu absurditas alih-alih yang lain.

Dia tak bisa menunggu sukses, maka dia melanjutkan tanpanya.

Dan ketika tidur, dia adalah seseorang yang wajahnya tertelungkup di bantal tetapi matanya tertuju pada pintu-pintu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan