Mohon tunggu...
Muhammad Asif
Muhammad Asif Mohon Tunggu... Lecturer and reseacher

Dosen dan peneliti. Meminati studi-studi tentang sejarah, manuskrip, serta Islam di Indonesia secara luas.

Selanjutnya

Tutup

Kotaksuara Pilihan

Apa Jawaban Anda Jika Ada "Serangan Fajar" Mendatangi Rumah Anda?

16 April 2019   14:22 Diperbarui: 16 April 2019   14:49 0 3 1 Mohon Tunggu...

H-1 menjelang Pilres dan Pileg sudah dipastikan pasti banyak caleg yang melakukan "gerilya" dengan melakukan "serangan fajar". Seperti pagi tadi misalnya rumah saya sudah di datangi dua kali oleh tim sukses caleg. Bagi masyarakat desa sepertinya "serangan fajar" menjelang pemilihan baik lurah, bupati, hingga caleg tampaknya sesuatu yang dianggap wajar. 

Bahkan kadang oleh sebagian masyarakat itu merupakan sesuatu yang ditunggu-tunggu. Bahkan kadang ada kelompok masyarakat yang menganggap bahwa "serangan fajar" dengan amplop sejumlah tertentu adalah sesuatu yang sudah seharusnya karena dianggap sebagai pengganti mereka libur kerja. Bagi sebagian para para pekerja tidak tetap harian di desa-desa amplop dari serangan fajar itu seringkali dianggap sebagai ganti rugi karena mereka tidak bisa bekerja, karena harus datang dan memilih di TPS. 

Pikiran sederhana mereka begini: jika tidak bekerja sehari, maka sehari itu pula mereka tidak memiliki pemasukan untuk kebutuhan hariannya. Maka seringkali kita dengar seloroh seperti ini diantara mereka, "Nek ra ono duite yo ra nyoblos. Wong para caleg yo niate mergawe" (kalau tidak ada uangnya ya tidak nyoblos, lha para caleg niatnya juga kerja). Mungkin karena terbatasnya pengetahuan dan kesadaran mereka tentang pemilu, mereka berpikir seperti itu. Atau mungkin bukan karena itu, karena mereka frustasi dengan banyak pejabat dan anggota dewan yang awalnya mereka pilih terjebak dalam KKN, jadi tersangka dan akhirnya masuk bui. Atau mungkin juga karena budaya KKN merebak dimana-mana sehingga membuat mereka punya pikiran, "toh, para caleg kalau sudah jadi mereka akan korupsi". 

Jadinya mereka membuat analogi yang sederhana, "karena para calon pemimpin, para caleg itu berniat untuk mencari pekerjaan atau setidaknya peluang-peluang ekonomi baru dengan mencalonkan diri, maka kami pun juga ingin menganggap proses pemilihan itu sebagai bagian dari bekerja. Setidaknya sebagai ganti sebagai bekerja sehari."

Atau ada anggapan yang lebih sederhana: sebagai ganti transport.  Pemilihan lurah di desa-desa biasanya jauh lebih mengerikan. Jika dalam pemilihan caleg atau bupati biasanya rata-rata calon memberikan 50 sampai 100 ribu. Pemilihan lurah biasanya lebih besar. Entahlah apa pertimbangannya. Mungkin karena jumlah pemilihnya lebih sedikit atau justru kadang karena pertimbangan gengsi. Bahkan ada sebuah desa tak jauh dari daerah saya ketika pemilihan lurah para calon bisa membeli 200 sampai 350 ribu per suara.

Yang lebih parah lagi jika ada rumah atau sebuah keluarga yang tidak didatangi oleh serangan fajar itu, mereka justru gelo (bahasa Jawa, kecewa, marah). Merasa diabaikan atau dibedakan dengan tetangga-tetangga lainnya yang juga didatangi. Atau bahkan merasa tidak dihargai. Mungkin karena faktor itu, tadi dua orang tim sukses dari seorang caleg juga mendatangi rumah saya. Padahal saya pribadi justru tidak berharap didatangi oleh tim sukses. Sebelumnya sudah ada seorang dari tim sukses caleg yang sama yang mendatangi saya untuk menanyai: apakah sudah ada pilihan atau belum. Saya jawab dengan baik-baik: saya sudah pilihan sendiri.

Dua orang itu setelah saya persilakan, salah satu daintaranya kemudian langsung menyatakan tujuan kedatangan mereka, "Maaf kami hanya ingin memastikan apakah sudah punya pilihan atau belum mas?" Satunya lagi kemudian menambahkan, "kalau misal belum kami ingin meminta dukungan suaranya untuk caleg kami" begitu kira-kira ungkapan mereka jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia. 

Saya pun menjawab dengan halus, "Ngapunten engkang katah. Kulo pun gadah pilihan sendiri..." Akhirnya salah seorang dari mereka kemudian menggapi, "Sekeluarga sama geh?" "iya" jawab saya. Saya menolak "serangan fajar" itu dengan baik. Sekaligus ingin menunjukkan kepada mereka, untuk memilih dalam Pemilu kita kita tidak perlu dikasih uang dan menerima uang.

Akhirnya mereka bilang, "Geh pun nek ngoten. Kami permisi".

Fenomena serangan fajar seperti itu saya yakin banyak terjadi di berbagai daerah. Bagi para caleg serangan fajar merupakan salah satu strategi yang manjur untuk bisa melaju memenangkan pemilu. Kadang orang yang baik bahkan terpaksa harus melakukan itu, karena takut dikalahkan oleh orang yang tidak baik yang memberikan amplop. 

Bahkan tak sedikit caleg di daerah saya yang jauh-jauh hari sudah melakukan ancang-ancang misalnya dengan membiayai dan memberangkatkan masyarakat untuk berziarah. Dalam hal dia si caleg akan menyediakan transportasi (bus) yang berjumlah sampai belasan bahkan mungkin hingga konsumsi. Maka tak heran untuk menjadi caleg tingkat kabupaten saja ada yang sampai menyediakan lebih dari 1 Miliar. 

Di sebuah kabupaten di daerah Jawa Timur kabarnya juga sama. Kawan-kawan misalnya banyak yang bercerita. Bahkan sebulan sebelumnya tim sukses para caleg sudah mengumpulkan KTP warga sebanyak-banyaknya. Dari KTP itulah mereka mengklaim jumlah pemilih. Dan hanya orang-orang yang mau menyerahkan KTP (tentu yang belum pernah diserahkan ke caleg lain) yang akan diberi amplop dalam serangan fajar yang akan dilangsungkan di hari-hari terakhir menjelang Pemilu.

Fenomena serangan fajar di negara kita tampaknya sudah sangat akut dan sulit teratasi, karena disamping pelaku (calon/caleg) yang untuk bisa menang mereka kadang terpaksa harus melakukannya, para penerima (masyarkat) pun banyak yang menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah bahkan tak jarang sering dinanti. 

Untuk menghilangkan budaya tersebut tentu perlu dilakukan upaya keras untuk melakukan penyadaran terhadap baik para caleg maupun masyarakat yang biasa menerima. Bahwa itu sesuatu yang tidak baik dan bisa berdampak buruk terhadap hasil pemilu. Bahkan terhadap masa depan bangsa ke depan. Biaya politik yang besar dari para calon atau caleg lah yang ditengarai menjadi alasan bagi mereka untuk melakukan korupsi ketika sudah mendapatkan jabatan yang diperjuangkannya dengan mengeluarkan modal yang besar.