Digital

Revolusi Industri 4.0: Pandangan dan Potensi di Indonesia

14 Mei 2019   13:19 Diperbarui: 14 Mei 2019   13:51 33 0 0
Revolusi Industri 4.0: Pandangan dan Potensi di Indonesia
dokpri

Perkembangan teknologi sudah berkembang dengan sangat pesat, itu adalah suatu hal yang tak dapat dihindari. Dampak yang diberikan dapat memberi hal yang baik, dan hal yang buruk. Salah satu perkembangan teknologi adalah Cyberization yang mengintegrasikan internet pada segala (Internet of Things) pada kegiatan manusia sehari-hari, termasuk industri. Hal ini menimbulkan suatu revolusi baru, dikenal dengan Revolusi Industri 4.0. Apakah revolusi ini dapat kita manfaatkan sebagai salah satu warga negara Indonesia? Mari kita telaah dengan analisis dibawah yang telah kami buat. Silahkan dinikmati :)

Sejarah Revolusi Industri 4.0

Revolusi industri didefinisikan sebagai kejadian (event) yang mengakibatkan perubahan sebesar-besarnya dan berdampak besar dalam kehidupan manusia (sosial, ekonomi, dan budaya), khususnya pada bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Istilah ini muncul ketika terjadinya Revolusi Industri pertama pada tahun 1750-1850 di Britania Raya. Perubahan signifikan yang terjadi adalah peralihan tenaga secara besar-besaran dari tenaga manusia di bidang industri, digunakan dengan mesin manufaktur, yang paling terkenal adalah pengembangan mekanisasi pada industri tekstil (Inikori, 2000). Setelah itu kejadian ini yang dapat disebut sebagai batu lonjakan atau milestone kemudian disebut sebagai Revolusi Industri (Jeevitha & Ramya, 2019).

Terdapat 4 event points pada revolusi industri, yaitu Revolusi Industri industri 1.0, 2.0, 3.0, dan 4.0. Revolusi Industri 1.0 mencakup proses mekanisasi (pekerjaan yang dilakukan dengan mesin, penggunaan energi menggunakan sumber air dan mesin uap). Revolusi Industri 2.0 mencakup produksi massal secara teratur, dan adanya integrasi penggunaan listrik dalam proses manufaktur. Revolusi Industri 3.0 mencakup integrasi penggunaan proses komputer dan automasi pada proses manufaktur, sehingga mempermudah kerja manusia.

Revolusi Industri pertama yang terjadi pada sejarah manusia atau juga disebut sebagai Revolusi Industri 1.0 terjadi pada tahun 1800an, yaitu terjadi penemuan mesin bertenaga air dan uap yang dikembangkan untuk membantu tugas manusia pekerja di manufaktur. Memasuki era revolusi Industri 2.0, yang terjadi pada awal tahun 1900an, diinduksi oleh penemuan listrik sebagai sumber utama energi untuk manusia. Sejak penemuan listrik ini, penggunaannya yang lebih efisien menggantikan fungsi mesin bertenaga air dan uap. Pada era ini juga terdapat pengembangan dalam sistem pabrik yaitu pembagian kerja (assembly line), untuk produksi massal (mass production).

Tak lama setelah revolusi industri 2.0, muncul Revolusi Industri 3.0 pada akhir abad 20, ditandai dengan adanya penemuan chip elektronik seperti transistor dan chip sirkuit terintegrasi pada mesin, mengembangkan fungsi baru berupa mesin otomatis. Dengan automasi, para pengembang mesin dapat mendesain proses kerja mesin tersebut sehingga dapat bekerja secara otomatis dan tidak perlu ada bantuan oleh manusia (operator replacement). Tidak dipungkiri bahwa pada masa sekarang memasuki era Revolusi Industri 4.0 (Cyber Physical Systems) (. Era ini ditandai dengan perubahan signifikan yang terjadi, khususnya dalam bidang manufaktur dalam industri (Jeevita & Ramya, 2019). 

Revolusi Industri 4.0 merupakan kemajuan teknologi terbaru sekarang ini yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis, sehingga menyebabkan perubahan cara hidup manusia secara fundamental. Revolusi yang dikenal sebagai revolusi digital ini terjadi karena adanya proliferasi atau perkembangan pesat dari komputer yang menghadirkan konektivitas tingkat lanjut beserta otomatisasi pencatatan di nyaris semua bidang. Otomatisasi dan konektivitas ini akan menyebabkan perubahan yang sangat signifikan pada bidang tersebut sehingga berimbas pada terbentuknya perubahan signifikan pula di dunia industri yang selain menghasilkan kemudahan dalam hidup manusia namun juga menyebabkan terbentuknya persaingan kerja tidak linier, disebabkan oleh penerapan dan pengaplikasian kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). 

Menurut Herman et al (2016), terdapat beberapa prinsip desain yang mendasari terjadinya revolusi industri 4.0, yaitu: 

  1. Interkoneksi

Yang mana menunjukkan kemampuan dari berbagai komponen untuk saling terhubung satu sama lain dan melakukan komunikasi antar komponen. Komponen-komponen berupa mesin, perangkat, sensor dan user (orang) saling terhubung melalui internet of thing (IoT).

  1. Transparansi informasi

Yang mana menunjukkan kemampuan sistem informasi untuk memastikan adanya keterbukaan informasi pada sistem tersebut. Kemampuan sistem informasi ini ditunjukkan melalui diciptakannya salinan virtual dunia fisik dengan memperkaya model digital menggunakan data sensor (termasuk data dan penyediaan informasi).

  1. Bantuan teknis

Yang meliputi kemampuan sistem bantuan untuk mendukung manusia dengan menggabungkan dan mengevaluasi informasi, sehingga dapat dibuat secara sadar keputusan yang tepat yang sesuai untuk memecahkan masalah terutama dalam keadaan mendesak yang membutuhkan waktu singkat.

  1. Kemampuan terdesentralisasi

Yaitu kemampuan sistem fisik maya untuk membuat keputusan sendiri sehingga dapat menjalankan tugasnya seefektif mungkin.

Perkembangan Industri 4.0 

Di Indonesia sangat didukung oleh Kementerian Perindustrian. Menurut Menteri Perindustrian Indonesia, Revolusi Industri 4.0 merupakan upaya transformasi menuju perbaikan dengan mengintegrasikan dunia online dan lini produksi di industri dimana semua proses produksi berjalan dengan internet sebagai penopang utama. Dalam memasuki Revolusi Industri 4.0 tersebut, Menteri Perindustrian Indonesia telah menetapkan strategi. Terdapat empat strategi yang telah disiapkan oleh Menteri Perindustrian untuk mengimplementasikan Industri 4.0 di Indonesia. 

Strategi pertama yaitu mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri (internet of things). Terkait strategi tersebut, Menteri Perindustrian tengah mendorong  agar angkatan kerja di Indonesia terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi ini. 

Strategi kedua yang dilakukan ialah pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM. 

Strategi ketiga yaitu penggunaan teknologi digital pada industri nasional. Teknologi digital yang dimaksud antara lain Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. Dengan adanya teknologi digital ini dapat memberikan keuntungan kepada industri, seperti menaikkan efisiensi dan mengurangi biaya sekitar 12-15%. Contoh penerapannya di Indonesia yaitu di industri otomotif dalam proses produksinya sudah menggunakan sistem robotik dan internet of things (IoT). Kemudian dalam industri makanan dan minuman teknologi industri 4.0 ini telah diterapkan dalam proses pemilihan bahan baku. Salah satu perusahaan yang telah mengimplementasikan Industri 4.0 di Indonesia adalah PT Schneider Electric Manufacturing Batam (SEMB). SEMB dan Kementerian Perindustrian melakukan kerjasama mengenai pengaplikasian teknologi Virtual Reality untuk mengontrol kondisi mesin. Selain itu juga terdapat Telkomsel sebagai salah satu pihak enabler  Industri 4.0 yang siap mendukung terlaksananya hal tersebut di Indonesia. Telkomsel akan menyediakan sistem IoT melalui program Telkomsel Innovation Center (TINC). Kegiatan yang diadakan dalam program TINC tersebut antara lain, penyediaan laboratorium IoT, program mentoring dan bootcamp bersama expertise di bidang IoT, serta networking access bagi para startup, developer, maupun system integrator dengan para pemain industri terkait. 

Strategi keempat adalah inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis. Untuk mendukung strategi ini Kementrian Perindustrian telah melakukan upaya dengan mendorong penciptaan wirausaha berbasis teknologi yang dihasilkan dari beberapa techno park yang telah dibangun di beberapa wilayah Indonesia, seperti Bandung Techno Park di Bandung, TohpaTI Center di Denpasar, Incubator Business Center Semarang di Semarang, Makasar Techno Park - Rumah Software Indonesia di Semarang, serta Pusat Desain Ponsel di Batam.

Melalui instrumen pemerintah, dari Kementrian Perindustrian juga memprioritaskan pembangunan dan implementasi sistem industri 4.0 dalam 5 sektor Industri nasional seperti tekstil, otomotif, elektronik, makanan dan minuman, serta kimia. Target pemerintah hingga 10 tahun mendatang mampu berkontribusi hingga 70 persen dari produk domestik bruto (PBD) manufaktur indonesia.

Untuk melihat kesiapan menghadapi Revolusi Industri 4.0 di Indonesia, dilakukan survei kepada calon penerus bangsa di Indonesia, yaitu mahasiswa ITB. Hasilnya adalah sebagai berikut:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2