Mohon tunggu...
Rahmayu Attri Murni
Rahmayu Attri Murni Mohon Tunggu... belajar dan terus belajar

Jangan hanya memandang dari salah satu sisi, agar pandanganmu tidak tersempitkan

Selanjutnya

Tutup

Kuliner

Nasi Padang

1 Mei 2019   07:10 Diperbarui: 1 Mei 2019   09:56 0 2 0 Mohon Tunggu...
Nasi Padang
dokumentasi pribadi

Nasi (Masakan) Padang

Nasi Padang. Ini salah satu makanan favoritku. Sejak dulu. Entah dari kapan, mungkin dari aku dilahirkan dan mengenal nasi. Sejak masih di kota kelahiranku, kambang kabupaten pesisir Selatan Sumatera barat.

Nasi Padang. Sangat mudah dijumpai. Termasuk ketika aku menetap di provinsi bengkulu, saat ini.

Di sini, rumah makan Padang, tak selalu identik dengan orang minang. Beberapa rumah makan masakan Padang--untuk memudahkan saya singkat RM saja-- pemiliknya bukan berasal dari Sumatera Barat.

Usaha RM Padang, ada yang dimiliki dan dikelola oleh warga yang bukan berdarah   dari tanah Andalas. Bahkan beberapa diantara RM Padang ini dimiliki dan dikelola oleh warga keturunan Bengkulu sendiri dan juga ada dari warga lain.

Menjamurnya rumah makan masakan Padang membuat kita bisa memilih.  Soal rasalah yang membuat orang mampir dan makan atau menjadi pelanggan.

Jika makan di RM masakan Padang, saya paling suka gulai jengkol, gulai kaki (tunjang, kikil) goreng kering rabu sapi, dendeng lado merah atau hijau.

Kalaupun sedang memasuki tanggal krisis biasanya saya makan dengan telur dadar yang tebal. Soal kuah Ini yang paling dahsyat. Sesekali saya akan berteriak "tambuah ciek". Tapi sangat jarang, karena porsi yang diberikan beberapa RM lumayan bisa memenuhi usus dan lambung saya yang mini.

Terkadang saya membawa pulang nasi Padang. Aroma nasi Padang yang dibungkus itu lebih maknyus. Apalagi jika dibungkus dengan lapisan daun pisang. Wiiii, maunya segera sampai di rumah.

Di rumah keluarga tercinta menyambut dengan senyum. Kantong kresek di rumah diambil lebih dulu baru cium tangan.
Piring hanya sebagai alas saja. Makan rebutan. Meski lauk cuma telor dan lado hijau yang dua sendok membuat saya dan suami terpaksa rebutan. Hahahaha

Kalau sudah rebutan dengan suami saya harus lebih mengedepankan sikap bijaksana. Mengalah itu lebih baik. Sebab hubungan ini harus terus berlanjut. Jangan sampai tercerai berai hanya karena porsi nasi Padang. Biarlah sedikit asal kenyang. Lagi pula saya sangat suka jika melihat suami makannya lahap tanpa ampun.

Menyantap nasi Padang sangat disarankan untuk tidak menggunakan sendok. Dengan tangan pasti lebih nikmat. Adukan tangan di antara nasi putih pulen dan kuah santan yang kental menyatukan semangat membara yang didera lapar.

Ah, kapan ya terakhir kami berdua makan nasi Padang?

Makan nasi Padang ternyata kerap bikin keringat saya bercucuran. Tapi saya tidak sendiri, banyak juga orang di luar sana yang berkeringat saat menikmati nasi padang.

Entahlah, saya tidak berani mengklaim ini penyakit. Butuh penelitian lebih lanjut.

Ah, saya tiba-tiba selera nasi Padang.(*)