Attar Musharih
Attar Musharih

Seorang pengamat bola.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

[Kontroversi Pengamat Sepakbola] Membandingkan Messi dan Maradona

12 Oktober 2017   19:18 Diperbarui: 14 Oktober 2017   01:59 4047 5 0
[Kontroversi Pengamat Sepakbola] Membandingkan Messi dan Maradona
ISumber foto:90Min.in.

Argentina adalah negara yang notebennya adalah salah satu negara adidaya sepakbola penghasil mesin gol dan penghancur gawang lawan serta motor serangan bagi tim mereka. Tim tanggo era 1986 diakui sebagai masa terindah dan terbaik milik Albiceleste. Mereka memiliki taktik yang tidak bosan membuat barisan lawan terkocar-kacir. 

Maradona bertugas sebagai the destroyer dan game maker. Sedangkan Burruchaga dan Valdano menjadi momok yang menakutkan bagi garis pertahanan lawan. Argentina kala itu berhasil keluar sebagai jawara piala dunia dengan memperkenalkan taktik serangan 7 hari 7 malam, mereka mengurung pertahanan lawan dengan kualitas penyerangan dan dribbling luar biasa dari tim mereka mengandalkan Maradona sebagai motor. 

Negeri tim tanggo selalu menghasilkan pemain berkelas namun,kekuatan tim mereka tidak merata. Hanya 1 sampai 3 pemain yang sangat menonjol dalam squad Albiceleste yang akan memimpin seluruh tim menuju jalan kemenangan. Selalu ada yang disebut sebagai generasi emas, tim Tanggo hanya memiliki 2 masa yakni tahun 1978 dan 1986, kali itu Argentina dipimpi oleh squad Mario kempes dan pimpinan Maradona di tahun 1986. 

Argentina mungkin bukan penghasil masterclass generasi emas seperti Brazil era 2002 yang mampu memproduksi squad terbaik sepakbola ajang dunia yang diisi oleh megastar sekelas Ronaldo,Ronaldinho dan Rivaldo. Negeri saingan Brazil ini dijuluki sebagai negeri penghasil raja Sepakbola setiap era yang tidak beruntung tinggal di Argentina. 

Setiap era berganti era, Argentina mampu melahirkan berbagai nama terhebat yang kelak akan memegang dunia persepakbolaan. Berbeda dengan Spanyol dan Prancis yang memiliki generasi allstar yang akan membawa nama negaranya menggila didunia. Argentina adalah tipe individualis dan rata-rata pemain tipe kerja keras. Bukan tim dengan taktik filosofis dan kreatif. 

Era 70-an Argentina dipimpin oleh Mario Kempes yang benar-benar memimpin timnas Argentina yang kala itu juga diperkuat pemain berkualitas seperti Tarantina dan Pasarella. Setelah itu Argentina juga kembali melahirkan pemain berbakat atau the hand of god! Diego Armando Maradona, tipe pemain ini adalah menggusur bola meskipun dari lapangan bawah sampai ke area penyerangan. Tim kerjanya tinggal santai saja entah menunggu gol samba dari Maradona atau menunggu passingnya dan mencetak gol dari umpan Maradona.

Dari taktik Maradonalah dan si Kempes, mengapa Argentina bisa jawara untuk kedua kalinya. Kalau si Mario Kempes masih jauh lebih jumawan dalam membagi bola beda dengan Maradona yang mengangkut seluruh timnya untuk bergantung di pundaknya dan membawa mereka menuju catatan rekor. 

Senandung permainan Argentina membuat kita mempelajari indahnya sebuah permainan pragmatis yang berbuah pada penyerangan luar biasa. Bukan hanya Mario Kempes dan Maradona, ada yang ingat dengan Batistuta, pemain yang musuhnya jaring gawang ini benar-benar membuat kiper lawan tidak bisa tidur jika dikatakan akan bertemu dengan Batistuta. 

Selain Batistuta yang masuk dalam jajaran pemain terbaik dan sosok pahlawan Argentina, ada yang ingat tidak dengan Riquelme dan Cambiasso, era 2006 yang membuat Argentina termasuk jajaran pemain ditakut. 

Angkatan pemain Maradona tetaplah yang terbaik. Namun bertahun-tahun berselang setelah kepergian Maradona, kita bertanya-tanya siapakah sosok yang akan menggantikan Maradona, "the destroyer'!. Tahun Tahun 1988 akhirnya kita menemukan jawaban yang terpampang lurus menuju masa depan hingga kini. 

Lionel Messi tidak pantas disebut penerus Maradona, mengapa? siapa itu Lionel Messi. Messi yang dijuluki sebagai La-Pulga dan pemegang sepakbola jaman sekarang adalah pemain dengan kredibilitas dan olah bola yang menarik. Pemain ini unik, memiliki koneksi dengan lapangan dan pantas disebut sebagai playmaker,goalscorer, winger, Killer, humble. Segala bisa dijuluki buat pemain satu ini. Lionel Messi adalah pemain yang bijaksana dan pantas disebut sebagai raja sepakbola Argentina masa kini. 

Argentina sangat beruntung bisa mendapatkan pemain semegah ini, namun banyak yang berpendapat bahwa Lionel Messi benar-benar pemain yang sangat sial dan tidak beruntung karena harus berjuang membawa tiang Argentina untuk unjuk gigi di ajang piala dunia. Sebuah ketidakadilan Tuhan membuat Messi pemain superklas ini lahir di Argentina, banyak yang beranggapan seperti itu, yah memang rata-rata dari yang mengatakan statement itu sebenarnya tidak peduli Argentina melainkan hanya iba melihat Messi belum pernah meraih trofi dunia padahal dia adalah pemain terbaik dunia. 

Kecintaan Messi terhadap Argentina juga bisa kita buktikan, La-Pulga hampir saja bermain di timnas Spanyol, megabintang Barca yang melawan penyakit hormon ini menolak karena ia adalah Argentina asli. Messi ditawari karena kebetulan pada saat itu Messi mempunyai 2 paspor dan lebih lama menghabiskan kehidupannya di Spanyol demi membangun karir sepakbolanya. 

Suatu kesialan Messi, mengapa dia tidak lahir cepat supaya bisa bermain dengan pemain terbaik milik Argentina dan kita sebagai pencinta bola bisa menyaksikan duet maut pemain berbeda filosofi yang menghancurkan porak rumah tangga pertahanan lawan dengan aksi mereka yakni Maradona dan Messi. 

Bahkan Messi harus mengesot bersama timnas Argentina untuk lolos ke piala dunia 2018, Argentina nyaris tidak lolos dalam ajang akbar ini. Untung saja berkat hattrick Messi, Argentina  bisa melenggang ke babak piala dunia yang akan datang di tahun 2018 nanti.

Terkadang saya merasa heran, mengapa banyak orang menganggap Messi jauh dan tidak boleh dibandingkan bersama Maradona sang lagenda Argentina? katanya Messi hanya bisa bermain di Barcelona karena dibantu oleh Iniesta, Xavi, Suarez dan bahkan Neymar. 

Pertanyaanya? apakah pada saat Maradona menghantarkan Argentina menjawarai panggung dunia tidak dibantu oleh pemain berkelas? apakah pemain seperti Burruchaga, Valdano,Pasarella,Ruggeri dan Enrique bukan gambaran pemain dan generasi sukses yang berkelas. Memang Maradona adalah pemain yang paling menonjol,namun ayolah publik dunia buka mata anda. 

Membuka mata lebih lebar, mengapa? coba bandingkan dengan Argentina masa kini yang tidak memiliki fondasi masa depan, striker mereka yang bernama Icardi yang digadang-gadang sebagai tandem kuat Messi saja belum kunjung mencetak gol. Dybala belum bisa menjadi penyeimbangan Lionel Messi. Ini berbeda jaman bung!. 

Argentina memang lebih cenderung hanya menghasilkan 2-3 bibit emas unggul tetapi itulah yang paling terbaik pada masa itu. Begitu pula dengan tim sekarang, namun tim Tanggo masa kini tidak sehebat dan seganas dulu setidaknya mereka dulu dapat menyeimbangi Maradona dan Kempes. Messi bisa dibilang mirip dengan Batistuta. Sulit memang, sebuah tim harus dibangun dengan kesolidaritasan bukan menggantung pada pundak lain. 

Maradona mungkin menaruh Argentina pada pundaknya di piala dunia 1986, setidaknya Diego mengangkut mobil Lambhorgini, nah Messi malah seperti mengangkut 10 kardus yang tidak berguna. Jadi wajarlah mengapa Messi memang belum bisa mengantar Argentika ke piala dunia. Argentina yang dulu berbeda dengan yang sekarang. 

Di kualifikasi saja kesulitan, ini menjadi tugas Sampaoli untuk merombak tim dan membuat Icardi dan Dybala serta lini serang Argentina menjadi lebih garang lagi sehingga kita bisa melihat flashback dan de-javu seperti kembali dan melompak ke mesin waktu untuk ke masa era Maradona yang dulu. Bagaimanapun hebatnya seseorang, olahraga adalah permainan tim,11 orang dilapangan bukan 1 orang. Bagaimanapun timnas Argentina harus mengimbangi Messi dan Dimaria yang merupakan pemain unggul dalam tim.

Apakah Messi akan berhasil di Piala dunia 2018? layak dinantikan dan ditunggu. Perjalanan masih panjang!...

Salam Olahraga.