Mohon tunggu...
Aten Dhey
Aten Dhey Mohon Tunggu... Senyum adalah Literasi Tak Berpena

Penikmat kopi buatan Mama di ujung senja Waelengga. Dari aroma kopi aku ingin memberi keharuman bagi sesama dengan membagikan tulisan dalam semangat literasi.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Sore Menanti Ayam Bertengger

30 Oktober 2020   06:38 Diperbarui: 30 Oktober 2020   07:09 23 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Sore Menanti Ayam Bertengger
dok. Aten Dhey

Hujan lama sekali. Butiran air jatuh ke debu. Menguap asap. Mengepul aroma tanah. Harumnya langka. Tunggu musim hujan. Sekarang saat oktober bersemi ke april.

Burung-burung berderet di ranting. Mengepak sayap sehabis hujan. Merapikan sarang yang dirusak angin. Sesekali meluncur ke tanah. Memaguk ranting rumput. Menyulam rumah tuk rebah malam ini.

Sedangkan di dapur ramai sekali. Ada api menjalar di atap rumah. Kayu kering basah semua. Bunyi priuk meriuk-riuk. Kruk. Kruk. Pertanda ada makan di atas meja.

Bocah-bocah kembali dari sungai. Melihat air jernih bercampur lumpur tanah asam. Dari langit jatuh. Turun ke gunung. Mengalir ke hilir.

Mereka bernyanyi. Berteriak kencang sekali. Sebentar lagi kebun disapa dengan kacang dan jagung. Pacul dan cangkul diarak. Mematuk badan membuang capai. Ini musim hujan. Saatnya tanam.

Di atas pohon mangga. Di sore menanti. Ayam bertengger. Berbaris rapi. Ada induk dan anak-anak. Satu kotekan mengantar mereka pada malam. Semoga ular tak berkeriapan. Mencari mangsa di atas pohon. Biar 'kan ayam duduk manis dalam mimpi. Jatuh ke tanah esok pagi.

Sore menanti ayam bertengger. Senja cemburu langit memburuh. Doakan saja. Malam panjang hidup aman. Pagi menjeput asa tersingkap.

VIDEO PILIHAN