Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kata Mutiara dan Pesan Moral

24 Oktober 2020   11:47 Diperbarui: 24 Oktober 2020   11:58 81 20 2 Mohon Tunggu...

Tidak elok melewatkan perhatian untuk Kompasiana yang diperingati 12 tahun keberadaannya, sementara 10 tahun saya menikmati keberadaan dan jasanya. Terutama Kompasiana berhasil menghadirkan mutiara-mutiara kehidupan dan pesan moral yang semakin lantang. Semua kompasianer adalah warga budaya Kompasiana yang banyak sedikit berpartisipasi dengan karya tulisnya dan terbina didalam visi humanis-berimannya.

Tidak elok pula tidak menerima "ajakan" atau saran Admin Kompasiana memberi perhatian kepada Hari Santri yang juga baru saja dirayakan para warga ditanah air ini. Hari Santri Nasional diperingati setiap 22 Oktober. 

Peringatan santri ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri Nasional pada tangga 22. Pesan moral kali ini yang saya tangkap sekiranya tidak salah (atau ini opini saya sendiri): "Semakin orang beriman dengan segala pendalaman imannya mestinya semakin paham mana mutiara keimanan, dan mana nilai-nilai keduniawian yang harus dipilih atau dihindarinya".

Warga budaya Daerah di negeri kepulauan kita ini tentulah masih banyak yang bisa menikmati bagaimana sebenarnya Tuhan itu menaruh hati penuh iman dan moral di hati kemanusiaan pada setiap budaya yang ada di Indonesia ini. Itu sebenarnyalah, kalau tidak, pasti para pendiri bangsa Indonesia tidak akan melihat dan berani memberi rumusan Ketuhanan Yang Maha Esa dst.pada Pancasila kita.

Pelbagai cara pewarisan nilai moral menunjukkan betapa sederhana secara dini orang tua menyampaikan pesan moralnya, seperti lewat seni dan lagu kanak-kanak, tradisi dongeng sebelum tidur. Demikian pula karya sastra dari yang besar Cerita Mahabarata dan pewayangan, Cerita Seribu satu Malam, dan khasanah sastra di beberapa kraton di Jawa, Kalimantan, dan Sumatra.

Masih teringat ketika penulis masih kanak-kanak. Tiduran di belakang ibu yang menidurkan adik yang berumur 2 tahun lebih muda dari kakaknya. Masih teringat bagaimana adikku saya ganggu dengan merebut pegangannya di leher ibu. Tetapi setelah adik tidur saya masih menuntut dibacakan dongeng sebelum tidur. Sehabis terbaca satu cerita ibu berdiam mengira saya sudah tidur. Tetapi saya masih melirik dan bertanya pada ibu: Piye liding dongenge, Bu? (Bagaimana "liding- dongengnya"?). Dan ibu jawab: Mengko bapakmu (biar nanti ayahmu).

Setelah ayah ibu membaca cerita biasa disusul pesan moral sederhana, diawali dengan kata: "Liding dongeng".....dst. Istilah liding dongeng menjadi istilah tetap dan populer "setelah cerita". Begitu biasa sampai saya heran sendiri, bahwa sampai kemarin saya harus bertanya ahli bahasa tentang apa arti kata "liding dongeng" mengawali pesan moral. 

Dan dari teman di Balai Bahasa Tembi Bantul (Kompasgroep) dibukakan buku "bausastra" (kamus): kata asal "LID",keterangan maksud pelajaran dari cerita (dongeng). "Di-lid-kan" dijelaskan makna terkandung dicerita (dongeng). Nah, inilah Pewarisan ajaran moral, petunjuk perilaku mana yang baik, mana yang buruk yang harus dihindari.

Saudara perempuan penulis dinikahi oleh pemuda dari Batak maka penulis inipun yang jawa mengenal beberapa budaya dan adat keluarga Batak. Abang ipar pernah mengajak saya dan adik saya berkunjung kepada paman atau apa istilahnya yang dituakan dalam keluarga besar itu. Diwaktu itu saya masih muda beranak satu, sedang adik saya baru saja dapat tahbisan/wisuda sebagai seorang pastur.

Pada kunjungan menghadap tetua keluarga yang terhormat itu tercatat dalam ingatan sebuah nesehat, tampak ringan tetapi unik dan membuat orang perlu berfikir dua tiga kali untuk memahami: "Bangunlah dipagi hari dengan hati penuh cinta kasih dan masuki malam hari dengan hati penuh rasa sabar dan memaafkan. Jangan terbalik sebab kebalikannya hanya untuk bapak ibu yang masih punya tugas panggilannya." Nasehat itu disampaikan dengan nada canda serta mentertawakan kami yang tampak belum paham.

Dalam perjalanan pulang dari kujungan itu abang ipar mencoba memberikan komennya. Pamannya tadi melihat kehidupan kita seperti orang bepergian dipagi hari dan hari tua kita seperti memasuki malam hari. Sejak muda kita harus punya sikap penuh sikap cinta kasih. Sebab cinta kasih itu penyumbang energi dan motivasi hidup. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x