Mohon tunggu...
Emmanuel Astokodatu
Emmanuel Astokodatu Mohon Tunggu... Jopless

Syukuri Nostalgia Indah, Kelola Sisa Semangat, Belajar untuk Berbagi Berkat Sampai Akhir Hayat,

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Sakit Nyata dan Sakit Metafora

21 September 2015   17:20 Diperbarui: 21 September 2015   18:34 41 0 0 Mohon Tunggu...

Berbagi pengalaman nyata, tentang sakit sesungguhnya. Siapapun pasti pernah sakit. Tetapi tidak ada pengalaman sakit yang sama, kendati nama dan jenis penyakitnya sama.

Saya sejak hari Senin pagi, tanggal 14/09 menderita gangguan pencernaan. Menurut beberapa tetangga itu penyakit tidak serius. Mereka juga merasa dan setelah berbisik kesana dengar kesini dirasa dikarenakan hidangan pesta kenalan yang sama. Tetapi karena mereka segera dapat mengatasi dan tidak ada bukti maka dipentingkan menghormati nama baik yang sedang berbahagia. Namun bagi diri saya sepanjang hari kena diare tak ada hentinya sampai hari Selasa siang. Enterostop tidak bisa menghentikan diarenya. Terpaksalah menerima saran ajakan isteri untuk pergi kedokter.

Pergi ke dokter langsung terbayang, ditemukan penyakit lain. Harus diikuti yang namanya Proses dan Prosedure keras. Betul juga : pergi jalan kaki 100 mt dari rumah ke RS.Elisabeth. Ambil nomor antrean sambil daftar, tunggu dokter 2 jam. Diperiksa, diberi resep tetapi harus periksa tinja ke Lab. Ulang periksa dokter lagi. Terima obat, dijelaskan aturan minum. Kepada semua perawat, termasuk isteri sendiri yang eks tenaga medis, jangan bertanya kenapa atau mengapa, mereka akan ganti bertanya sudah diminum belum obatnya. Titik. Pulanglah saya tidak perlu opname di RS.

Di rumah, disinilah mulainya pergulatan dan pergumulan, lahir batin bahkan iman. Dokter bilang saya menderita desentri amoeba histolytica…… yang bagi penderita awam ilmu kesehatan tidak banyak membantu “meringankan rasa sakit”. Raya sakit sebenarnya tidak seberapa. Sepulang dari RS. Saya masih memposting sebuah artikel di Kompasiana. Tetapi……..

Yang namanya katup bawah dibalik pantat, susah dikendalikan….. apa maunya saja langsung dilaksanakan. Maaf untuk yang ini, saya berkata apa senyatanya saja tanpa metafora. Saya dua hari tersiksa tinggal dikamar tidur dan dua tiga meter saja dari kloset. Sekali waktu saya berjalan ke meja kerja untuk menata peralatan, pergi ke meja makan untuk meringankan kerja isteri. Eeeiiit, ada signal dari bawah dan bergegas ke kamar kecil, tret teretet, tak tertolong semua berantakan……. Bayangkan dua tiga kali bahkan 9 kali celdam harus berganti, belum lagi 2 kali harus membersihkan lantai. Saya merasakan betapa kotor dan najisnya segala yang keluar dari manusia tanpa kendali…..

Dalam pada itulah tiga hari yang berat saya lalui. Perut mulas, kepala panas, hatiku masih hati seorang pasien yang beriman. Terkapar di tempat tidur masih bisa minta alat tulis, majalah, dari isteri, tetapi bagaimanapun ingat akan doa.

Seperti telah kusadari dari awal posisiku adalah pasien dokter, spesialis pula, saya sadar disitulah semua harus ber p r o s e s. Proses ini alami. Yang diatur oleh hukum alam.Tuhan Pencipta dan Pemegang hukum alam itu. Rasanya berlebihan dalam posisi ini saya berdoa untuk kesembuhan. Sebab peristiwa alam ini harus terjadi hingga selesai. Virus atau bakteri yang ada diperutku harus berproses sampai bersih dan itu membutuhkan waktu. Panjang pendeknya proses tentu banyak terpengaruh banyak factor. Saya merasa salah satu factor adalah metabolism tubuh saya terkait pula oleh fakor psikologis saya. Dan Doa membantu kondisi penderita dalam banyak cara.

Pembelajaran bagi saya :
1. Sakit memang berproses
2. Sakit memang membawa pelajaran bersabar, pada diri sendiri dan lingkungan.
3. Sakit memberi peluang orang berdoa dan berrefleksi
4. Ada sakit tubuh ada sakit psikis, ada sakit moral
5. Orang boleh membayangkan sakit kotor luar dalam, dan sakit itu metafora dosa.
Ini bukan fiksi tetapi cerita nyata dan buah refleksi. Mohon kali ini saya menyajikan hidangan yang pahit, yang mungkin bermanfaat.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x