Mohon tunggu...
Sasakala Asisi Suharianto
Sasakala Asisi Suharianto Mohon Tunggu... Penulis - Traveller

Pelintas

Selanjutnya

Tutup

Travel Story Artikel Utama

Menapak Sengitnya Pertempuran Benteng Kedung Cowek

24 Juni 2013   12:57 Diperbarui: 24 Juni 2015   11:30 1906
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption id="attachment_250960" align="aligncenter" width="566" caption="TERJEBAK MASA LALU. Sejumlah penghobi sejarah mengenakan seragam ala perang 10 Nopember. Penulis berfoto dengan seorang yang mengenakan seragam tentara Inggris yang didatangkan dari India (kanan). Kumis yang dikenakannya diambil dari kumis reyog Ponorogo. (Foto: doc pribadi)"][/caption] Aku masih teringat peristiwa di sesi pemotretan prewed kami, tentara dengan wajah galak itu berteriak: "tidak boleh masuk sini!" "Mengapa tidak boleh, pak? Kami hanya memotret?" "Justru itu! Ti-dak bo-leh!!" dia memberi penekanan, masih dengan wajah galaknya. Ada jengkel dalam hatiku. Namun harus kami akui, itu hal yang wajar. Lokasi yang akan kami pakai pemotretan adalah zona militer milik TNI AD, Benteng Kedung Cowek, Surabaya. Sebuah keinginan untuk sambang di situs terlarang ini menyala di hatiku. Dan setelah satu tahun pernikahan kami, kesempatan itu pun datanglah. DARI SINI PETUALANGAN BERAWAL Jambore Sejarah Kemiliteran, yang diadakan oleh UPDT monumen Tugu Pahlawan bersama Museum Sepuluh Nopember Surabaya tanggal 23 Juni 2013 kemarin adalah titik start kami menembus Benteng Kedung Cowek, dimana "blusukan" tersebut merupakan penutup dari rangkaian acara yang didukung Komunitas Roodebrug Soerabaia---komunitas pecinta sejarah Surabaya. Rangkaian acara itu adalah teatrikal perang 10 Nopember,  pameran barang koleksi PD 1 dan 2, dan terakhir, tour wisata Benteng kedung Cowek. Acara yang juga mendapat dukungan juga dari pihak Angkatan Darat ini dimulai pukul 7 pagi, dan praktis berakhir pukul 4 sore. Semuanya gratis kecuali untuk menembus Benteng Kedung Cowek, dipungut biaya 35 ribu per orang. Mataku nyalang melihat kesempatan ini.

[caption id="attachment_250959" align="aligncenter" width="566" caption="PERANG DUNIA II. Sejumlah peralatan perang dunia dipamerkan di halaman Tugu Pahlawan, mulai dari topi baja (kiri) hingga tempat minum dan masker (tengah). Sejumlah penghobi bertukar nomor seluler (kanan). Dua barang dari zaman berbeda pun bertemu ketika hp dikeluarkan dari saku. (Foto: doc pribadi)"]

1372050710523290526
1372050710523290526
[/caption] [caption id="attachment_250961" align="aligncenter" width="551" caption="MASIH KUAT. Sejumlah barang masih belum memperlihatkan tanda-tanda lusuh dan rusak. Tas pengangkut (kiri), sejumlah tanda kesatuan segala zaman (tengah) dan sebuah seragam tentara Amerika dari tahun 67 koleksi dari Paguyuban Pengumpul Gombal Amoh (kanan). Ketika penulis menelusuri jahitannya, wow, masih kokoh. (Foto: doc pribadi)"]
1372051287355403247
1372051287355403247
[/caption] DIANGKUT TENTARA "Mas tidak bawa sepatu?" kata seorang panitia dari Komunitas Roodebrug. Aku tergagap menyadari kealpaan dengan memakai sandal gunung. "Tidak, mas," jawabku. "Mas, medannya nanti berbahaya. Kami terus memperingatkan peserta lewat grup (komunitas ini memiliki grup di facebook) untuk memakai sepatu. Ya sudah, yang penting kami sudah memperingatkan, mas sendiri yang melanggar. Resiko tanggung sendiri ya." Namun akhirnya ada anggota komunitas yang bersedia meminjamkan sepatu padaku, lengkap dengan kaos kaki. Itu sepatu militer, dan sudah kuduga efeknya, kakiku lecet. Ternyata cukup banyak peserta yang ikut dalam ekspedisi ini, yang keseluruhannya diberangkatkan dari lokasi pameran di halaman Tugu Pahlawan sekitar jam 12 siang, dengan memakai truk Angkatan Darat dari Yon Arhanudse 8. Udara panas Surabaya dan deru mesin truk yang keras cukup ampuh mengusir segala bentuk kenyamanan. Heh, bener-bener ekspedisi ke zona militer.

[caption id="attachment_250962" align="aligncenter" width="620" caption="ZONA MILITER. Penulis mendapat pinjaman sepatu yang disesuaikan dengan medan Bentang Kedung Cowek (kiri). Foto-foto selanjutnya adalah keadaan saat perjalanan, tiba di lokasi situs, dan brifing awal sebelum memulai ekspedisi. (Foto: doc pribadi)"]

137205148532240282
137205148532240282
[/caption] Sekitar 20 menit sampailah truk-truk militer kami di lokasi, dan langsung mendapat brifing sebentar dari panitia maupun dari pihak militer. Lokasi ini sama sekali tak terlihat sebagai sebuah situs sejarah, hanyalah sebuah hutan semak liar di pinggir laut yang menjadi tempat mondar-mandir tentara. Bahkan spot-spot utama situs, yakni bangunan benteng terlihat tak lebih dari bangunan beton kuno yang mangkrak dibalut belukar. Sama sekali tak menjanjikan apa pun untuk dinikmati sebagai wahana wisata. Berdasar sumber dari pihak militer, Angkatan Darat bersama komunitas Rodenberg juga warga sekitar selalu secara berkala membersihkan situs Kedung Cowek namun daya tumbuh semak belukar ternyata mampu mengejar upaya tersebut.  Ada tiga "bangunan mangkrak" yang kami sambangi. Peluh dan ancaman gatal dari lokasi yang masih liar menemani pencarian masa lalu ini.

[caption id="attachment_250965" align="aligncenter" width="638" caption="PALING UJUNG. Spot pertama, benteng paling ujung di selatan, nampak dari arah dalam/daratan (foto 1). Bentuk dan ukuran lubang pengintai (foto 2), dimana dari sinilah dahulu moncong-moncong senjata berat diarahkan menghadap laut. Ketebalan tembok benteng (foto 3), dan perbandingan tembok asli (bawah) dengan yang sudah direnovasi (kanan), terlihat dari warna dan teksturnya (foto 4). (Foto: doc pribadi)"]

1372051599692869256
1372051599692869256
[/caption] Awalnya dengan naif kubayangkan benteng Kedung Cowek, yang punya peran besar dalam perang 10 Nopember Surabaya yang legendaris itu adalah sebuah benteng dengan bentuk seperti benteng Eropa abad pertengahan dan berada sedikit jauh dari laut. Namun faktanya tidak demikian, tiga "bangunan mangkrak" di pinggir laut adalah benteng tersebut. Akhirnya aku berkesimpulan, jika menyusur dari pinggir laut meniti jalan miring berbatu, dan jika beruntung tak ketahuan penjaga, pastilah bisa mengakses benteng-benteng ini. Namun tentu saja ada yang membedakan menyambanginya bersama komunitas pecinta sejarah dibanding jika menyusup sendiri, karena di acara kami ada panitia yang menjadi guide sehingga kehebatan benteng Kedung Cowek seolah mampu dihidupkan kembali. "Bangunan mangkrak" itu tak lagi terlihat sebagai onggokan beton yang kosong, namun mampu menyerap antusias kami, melepaskan segala imajinasi yang mampu kami ciptakan, merestorasi sebuah peperangan hebat.

[caption id="attachment_250966" align="aligncenter" width="638" caption="RUANG PENGINTAI. Suasana dalam ruangan pengintai (kiri). Pemandangan keluar dari sudut pandang dalam (tengah dan kanan). Kurang lebih seperti inilah dahulu unit Sriwijaya memantau serangan musuh, kecuali satu hal, tak mungkin ada personil bersantai seperti pada gambar ini di depan lubang pengintai. (Foto: doc pribadi)"]

1372051861981489698
1372051861981489698
[/caption] BETON-BETON PUN BERTUTUR Dibalik tembok beton yang kokoh membisu terkubur kisah yang terlupakan sejarah. Tentang tanggung jawab, keperwiraan, dan pengorbanan. Lokasinya yang berada jauh dari hiruk-pikuk kota menjadikannya terpinggirkan juga, padahal di benteng pertahanan darat terdepan Surabaya inilah, prajurit-prajurit artileri pertahanan udara menguak perannya yang dalam sejarah bangsa. Apabila anda pernah menonton film-film bertemakan pendaratan Sekutu di Normandia, misalnya film Saving Private Ryan, akan terdapat benteng-benteng pertahanan dari beton, dimana darinya tersembul moncong-moncong senjata pada lubang sempit horizontal yang menghadap pantai. Kurang lebih seperti itulah benteng-benteng di Kedung Cowek. "Terdapat tiga benteng-benteng pertahanan seperti ini," kata sang pemandu, "pertama di sini, kedua di Cilacap, dan ketiga di Singapura".

[caption id="attachment_250967" align="aligncenter" width="620" caption="MENEMBUS ZAMAN. Kostum-kostum yang dikenakan peserta secara tak langsung ikut merestorasi suasana pada waktu dulu. Bersantai di depan pengintai (kiri), meneruskan perjalanan untuk spot selanjutnya (tengah). Pemandangan ke arah laut, dimana jembatan Suramadu terlihat kecil di kejauhan (kanan). Dahulu, di laut inilah, mungkin dari sudut pandang ini juga, kapal-kapal AL Inggris terlihat mengancam di kejauhan. (Foto: doc pribadi)"]

1372052173261514758
1372052173261514758
[/caption] Dalam sejarah, benteng Kedung Cowek seolah ditakdirkan hanya berfungsi untuk perang 10 Nopember 1945, sebagai penangkis kekuatan AL Inggris yang mencoba menyerang Surabaya dari arah laut. Menurut pemandu, sejak dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda, benteng-benteng yang berada jauh di sisi utara Surabaya itu tak sempat digunakan hingga tentara Jepang menduduki Indonesia. Letaknya yang strategis membuat Jepang pun memperkokoh dan menambah persenjataan berat di dalamnya. Sungguh beruntung Jepang kalah dalam PD 2 sehingga pertahanan yang kokoh dan penuh persenjataan berat tersebut jatuh ke tangan para pejuang Indonesia.

[caption id="attachment_250968" align="aligncenter" width="590" caption="BENTENG KEDUA. Spot kedua dilihat dari arah darat (kiri), dan dari laut (kanan). Orang-orang harus menanjak tangga yang begitu sempit dan tinggi. Jalur kereta yang sudah ditumbuhi rumput, dahulu digunakan untuk operasional meriam besar (kanan). (Foto: doc pribadi)"]

13720524301115111326
13720524301115111326
[/caption] Pada perang 10 Nopember di Surabaya, di Kedung Cowek pun pecah pertempuran yang sangat sengit. Pihak Inggris yang menganggap para pejuang tanah air tak lebih baik dari tentara reguler, dikejutkan oleh kualitas tembakan dari arah benteng-benteng Kedung Cowek yang berstandar PD 2. Mereka bahkan mengira serangan pertahanan itu dilakukan tentara Jepang yang melawan kesepakatan international, dan membombardir habis-habisan Kedung Cowek. Menurut sumber-sumber Inggris, Inggris sendiri bahkan tak pernah memperhitungkan Indonesia memiliki unit pasukan yang mampu mengoperasikan mesin perang PD 2 tersebut. Siapakah orang-orang lokal yang mengejutkan dunia itu? TANGGUNG JAWAB, KEHORMATAN, DAN PENGORBANAN "Pasukan yang bertugas di benteng ini adalah para mantan pasukan Gyugun (suatu korps bentukan Jepang yang terdiri dari kelompok berpendidikan militer) yang diterjunkan dalam perang Pasifik. Mereka sudah merasakan babak-belur menghadapi Amerika di Morotai. Setelah kalah perang mereka pulang ke tanah air.  Di surabaya mereka bertemu dengan Kolonel dr. Williater Hutagalung, yang memberitahu mereka situasi. Kita sedang berperang! Sekarang pilihan ada pada saudara-saudara, apakah memilih pulang atau tetap di sini mempertahankan kedaulatan negara. Apakah memilih kembali pada keluarga dan tenteram, atau tetap bertahan di sini dengan konsekuensi yang sudah jelas." Sekitar 400-500 orang ini sebagian besar dari Tapanuli, Deli dan Aceh. "Karena sebagian besar mereka dari Sumatra, maka pasukan yang mereka bentuk diberi nama Sriwijaya."

[caption id="attachment_250969" align="aligncenter" width="590" caption="RESTORASI. Menceritakan kisah sejarah dengan didukung kostum dan gambar. Tanpa usaha ini, benteng-benteng yang tidak nyaman ini tak terlihat nilai historisnya. (Foto: doc pribadi)"]

1372052623791288946
1372052623791288946
[/caption] Mereka yang sudah mengecap PD 2, dimana pertahanan mereka dibombardir dan digempur pesawat dan kapal Amerika, akhirnya memutuskan tetap bertahan di Surabaya, menggabungkan diri mempertahankan jengkal tanah Surabaya. Pengetahuan mereka dalam mengoperasikan senjata berat seperti meriam digunakan untuk mendukung perjuangan Arek-Arek Suroboyo.

[caption id="attachment_250970" align="aligncenter" width="590" caption="MASIH LIAR. Lokasi situs Benteng Kedung Cowek merupakan lokasi yang masih liar. Foto-foto ini menunjukkan suasana di sekitar benteng. Meskipun usaha-usaha pembersihan dilakukan secara berkala, namun tak pernah berhasil karena daya tumbuh semak yang sangat cepat. (Foto: doc pribadi)"]

1372052799206401422
1372052799206401422
[/caption] Suatu keputusan yang sangat mengharukan. Karena sekitar 200 orang dari mereka akhirnya gugur dan tak sempat dievakuasi. Kiprah mereka yang mencengangkan telah ikut meramaikan deru perang 10 Nopember yang masyur dimana-mana. Tak hanya di Kedung Cowek, unit penangkis serangan udara Sriwijaya ini (pasukan ini dipecah dua kelompok, yang mampu mengoperasikan meriam ditempatkan di Kedung Cowek, sedangkan yang mampu menggunakan senjata penangkis serangan udara disebar menurut lokasi meriam penangkis serangan udara) telah merontokkan pesawat-pesawat tempur Inggris di beberapa titik di Surabaya.

[caption id="attachment_250971" align="aligncenter" width="590" caption="PALING BESAR. Spot ketiga dalam perjalanan kami adalah yang paling besar. secara tidak sengaja seorang peserta merestorasi suasana masa lampau dengan kostumnya (kanan), karena seragam pasukan Sriwijaya yang menjaga benteng ini dahulu warnanya sama dengan yang dikenakannya. Beberapa peserta menjepret foto adegan ini tanpa disadarinya, jika saja dia sadar, tentu akan menyimpan dahulu hpnya karena tidak sesuai zaman. (Foto: doc pribadi)"]

1372053001692051337
1372053001692051337
[/caption] KEPING SEJARAH YANG TERPINGGIRKAN "Anda bisa membayangkannya sekarang," kata pemandu, "lokasinya di sini, di tempat saudara-saudara ini berdiri. Anda di sini, dan di lautan itu, kapal-kapal Inggris telah siap sedia dengan moncong-moncong meriam mengarah pada anda. Suasananya tetap sama seperti sekarang, tenang dan teduh, hanya atmosfirnya yang berbeda."

[caption id="attachment_250972" align="aligncenter" width="590" caption="ANGKER. Suasana dalam bunker yang angker menyimpan hiruk-pikuk masa lalu.Penulis berfoto di bawah lampu bahaya perang (gambar tengah). (Foto: doc pribadi)"]

13720532221211320442
13720532221211320442
[/caption] Merestorasi peristiwa Kedung Cowek dalam benak mampu menimbulkan decak kagum sekaligus haru. Bahwa di suatu masa lalu, pernah bangsa kita berhadapan dengan kekuatan-kekuatan besar international, beradu nyawa, tanpa gentar sedikit pun. Bagaimana anda tidak berdecak, dengan mempertimbangkan skala zaman, kekuatan tempur kita pernah berstandar international, terutama dari sumber daya manusianya. Sementara sekarang?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Travel Story Selengkapnya
Lihat Travel Story Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun