Mohon tunggu...
Chairunnisa Ilmi
Chairunnisa Ilmi Mohon Tunggu... Freelancer - An Ambivert

Mahasiswa jurusan Antropologi Budaya di ISBI Bandung

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Akankah Masyarakat Memahami Penderitaan Korban Pelecehan Seksual?

20 Juni 2021   18:43 Diperbarui: 20 Juni 2021   18:50 429
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
sumber ilustrasi news.detik.com

Dari tim pengada survey yang dilakukan koalisi sejumlah LSM pada 62.000 warga Indonesia, mengungkapkan bahwa pelecehan seksual tidak hanya terjadi di malam hari dengan baju terbuka saja. Bahkan yang lebih mengejutkannya lagi adalah mereka menemukan survey bahwa mayoritas korban pelecehan di ruang  publik tidak mengenakan baju terbuka, melainkan memakai celana atu rok panjang (18%), hijab (17%), dan baju lengan panjang (16%).

Hasil survey pun menunjukan waktu korban mengalam pelecehan mayoritas terjadi pada siang hari(35%) dan sore hari (25%).

Hal ini mampu menjawab mitos di tengah masyarakat yang cenderung menyalahkan korban atas keadan korban. Padahal yang terjadi adalah seberapa tertutup pakaian korban, seberapa anggun (tidak mengundang nafsu)nya korban, bila disana ada predator pelecehan, maka musibah ini akan terjadi.

Seharusnya, yang dilakukan orng-orang apabila menerima aduan tentang pelecehan seksual baik itu dari korbannya langsung ataupun dari orang lain, ia bersimpati dan membantu masa pemulihan korban. Menjadi korban atas musibah pelecehan seksual bukanlah hal yang mudah, ada banyak trauma yang terus diingatnya. Hal yang bisa dilakukan orang terdekat dari pihak korban adalah mendengarkan cerita korban tanpa sedikit pun menyalahkan korban. Ingatlah selalu bahwa tidak ada orang yang meminta untuk dilecehkan. Dengan menyalahkan korban, kamu hanya mendukung aksi kejahatan seksual yang dilakukan oleh pelaku.

Selain mendengarkan, biasanya korban mengalami traumatic seperti rasa takut terjadi lagi atau rasa takut ketika mengingat bayang-bayang pelaku. Oleh karena itu, berikan ia bantuan yang dibutuhkan korban, misalnya tempat beristirahat dan tempat berlindung.  Berikan sikap yng menunjukan empati terhadap korban.

Bantu ia mengumpulkan bukti untuk laporan ke penegak hokum. Misalnya memfoto luka, pesan teks yang diberikan pelaku, atau bukti lainnya.

Jangan lupa untuk menjaga privasi korban. Setelah itu, bantu ia mendapatkan pemulihan dan dukungan. Bila cukup memungkinkan, ajukan pengaduan ke Komnas Perempuan untuk diberikan arahan atas kondisi psikis maupun fisik korban. Dengan melakukan pengaduan pun pelaku akan diberikan hukuman yang setimpal atas apa yang tela ia perbuat.

Sesbenarnya, pelecehan seksual kepada perempuan berakar dari diskriminasi terhadap perempuan.

Diskriminasi ini menyebabkan perempuan dalam posisi subordinat dan menjadi objek seksual.

Selain itu, posisi perempuan sebagai simbol moralitas di dalam masyarakat patriarkis juga digunakan untuk melemahkan korban.

Masyarakat cenderung menyalahkan korban (perempuan atas dasar latar belakang, gerak gerik, cara busana, dan lingkungan pergaulannya sebagai alasan pembenaran tindak pelecehan seksual.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun