Moh. Ashari Mardjoeki
Moh. Ashari Mardjoeki

Memelajari tentang berketuhanan yang nyata. Berfikir pada ruang hakiki dan realitas kehidupan.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Andaikan Saya Ahok, "Saya Tidak Mau Banding"

19 Mei 2017   06:09 Diperbarui: 19 Mei 2017   08:25 2852 3 7

REVOLUSI SPIRITUAL

Sudah berulang kali Ahok diganjal "lawan-lawannya" pakai Al  Maidah 51 dan gagal ikut jadi salah seorang pejabat negara di tanah airnya—N.K.R.I..     

Hanya dengan bantuan ulama besar yang kecerdasannya mencerdaskan dan membangkitkan kecerdasan banyak orang, almarhum K.H. Abdurrahman Wahid, ganjalan surat tersebut pernah tidak bisa menghentikan langkah Ahok menjadi Bupati Bitung  Timur.

Demikian pula halnya ketika sebagai petahana di Pilkada DKI Jakarta 2017  yang lalu.  Ahok harus kalah dengan “Al Maidah 51.”

Seluruh Indonesia. Bahkan seluruh dunia gempar seperti tak menerima vonis hakim yang menyatakan Ahok terbukti menista agama sehingga layak dihukum 2 tahun penjara langsung ditahan.

Ketika hakim bertanya kepada Ahok, apakah saudara akan banding?

Seandainya penulis adalah Ahok yang penulis lihat sosoknya lewat televisi dan hape yang bisa melihat YouTube.  Penulis akan menjawab:

“Saya tidak mau banding! Silahkan saja kalau tim penasihat hukum atau mungkin tim jepeu mau naik banding. Mereka adalah para penegak keadilan yang dipercaya negara ini.”

Kalau ada yang bertanya, kenapa Anda tidak mau banding?

Seandainya penulis adalah Ahok akan menjawab:

“Hakim sudah menyatakan saya terbukti menista agama dan harus dihukum 2 tahun penjara langsung masuk tahanan. Maka saya harus terima. Karena hakim pasti memutuskan tidak hanya berdasar pasal-pasal dalam ka'uhape saja. Pasti karena hati nurani lima hakim semua sama. Tanpa keraguan memutuskan perkara. Buat saya vonis itu justru masih terlalu ringan.

Bagi saya. Menghina agama, ulama dan Alqur’an adalah perbuatan yang sungguh-sungguh melampaui batas. Hukumannya harus ditembak mati supaya cepat masuk penjara di neraka. Tetapi menurut agama saya, kalau ditembak mati mungkin supaya cepat masuk surga he he.

Maaf ya. Agama saya bukan agama Anda dan juga bukan agama yang dianut para hakim. Tuhan yang saya sembah juga bukan Tuhan yang disembah orang lain. Bukan Tuhan yang disembah orang tua saya, istri saya dan bukan pula Tuhan yang disembah anak-anak saya. Mereka semua menyembah Tuhan masing-masing."

Andaikata ada yang bertanya, di mana logikanya maka Tuhan Anda bukan Tuhan istri dan anak-anak Anda?

Seandainya penulis adalah Ahok akan menjawab: “Kami pasti saling berdoa. Istri dan anak-anak akan berdoa bersama Tuhan masing-masing, semoga saya bisa bersabar dan tabah menjalani hukuman dan tidak lupa menjaga kesehatan jasmani dan rohani. Sedang saya  berdoa semoga istri dan anak-anak saya tidak terlalu bersedih dan menderita karena saya dihukum hakim hanya dua tahun. Itu hanya sementara. Toh di mana-mana banyak orang yang menghibur hati kita dengan cara masing-masing. Ada yang bikin acara menyalakan ribuan lilin, karangan bunga dan lain-lain.”

Seandainya ada yang berkata, mereka yang tidak suka Anda bersuka ria.

Seandainya penulis adalah Ahok akan menjawab: “Itu hal yang wajar. Memang mereka harus bersyukur. Dan tidak lagi terus mendesak pemerintah untuk menegakkan keadilan. Janganlah menuduh yang berbau fitnah. Pemerintah laah dituduh intervensi? Presiden laah dituduh melindungi Ahok? Dan macam-macam lagi.

Anda tahu? Seandainya saya ini turunan Bangsa Jepang yang menjunjung tinggi kehormatan harga diri pribadi, mungkin saya sudah harakiri. Untungnya saya warga negara N.K.R.I.. Hidup saya adalah milik negara."

Seandainya ada yang bertanya tentang naik banding. Bagaimana kalau kalau Anda kalah di pengadilan tinggi?

Seandainya penulis adalah Ahok akan menjawab: “Kalah atau menang sama saja. Toh mesti akan sampai pada kasasi di em’a. Kalau di sana juga kalah dan dihukum lebih berat. Saya nggak keberatan. Presiden toh mungkin bisa kasih amnesti. Ngemplang pajak aja ada tax amnesty? Saya kan bukan pengemplang pajak atau koruptor. Dan saya dihukum bukan sebagai penjahat. 

Saya dihukum karena dituduh menista agama bukan? Suatu tuduhan yang sangat menyakitkan dan sangat menghina buat saya. Saya dihukum karena dituduh menista agama. Dan hakim menyatakan saya terbukti menista agama. Lalu mau apa kalau orang sudah bilang begitu . . .?  Banding? Buat apa? Seluruh rakyat Indonesia dan FPI yang beramai-ramai menuntut saya juga tahu duduk persoalan yang sebenarnya?"

Lalu ada yang bertanya lagi, bagaimana kalau seandainya amnesti presiden didemo lagi sama ormas-ormas sejenis FPI?

Seandainya penulis adalah Ahok akan menjawab: “Mungkin mereka akan berhenti demo kalau yang kasih amnesti bukan lagi Pak Jokowi.  Semoga Pilpres 2019 benar-benar demokratis,  luber--luhur dan bersih, dan bebas tukang nujum dan tujul yang pinter ambil suara rakyat dan bagi-bagi amplop door to door."

Demikian. Terimakasih kepada yang telah sempat membaca tulisan ini.  Diiringi salam bahagia sejahtera bagi kita semua.