Mohon tunggu...
Andreas Doweng Bolo
Andreas Doweng Bolo Mohon Tunggu... Dosen - fides et ratio

Biodata: Nama: Andreas Doweng Bolo Pekerjaan: Dosen

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud Pilihan

Relung Perjuangan Kebangsaan Pemuda-Catatan Kegiatan Geladi Hominisasi UNPAR

5 April 2021   10:40 Diperbarui: 5 April 2021   11:01 4684
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pada hari pertama kongres setelah mendengar pidato ketua Mohammad Tabrani yang menyerukan persatuan para pemuda menuju kemerdekaan. Setelah itu dilanjutkan dengan pidato Soemarto berjudul "Gagasan Persatuan Indonesia". Kongres hari ke-2 diisi oleh para pembicara Bahder Djohan, Stientje Ticoalu-Adam, Djaksodipoera. Ketiganya menyoroti penting peran perempuan dalam perwujudan persatuan dan kemerdekaan. Dan pada hari ketiga, Mohammad Yamin menyerukan untuk mempelajari Bahasa Belanda sebagai kunci membuka jalan menuju harta karun ilmu pengetahuan dan peradaban Barat. Setelah itu Yamin mengusulkan untuk meninggalkan Bahasa Belanda yang dipakai para pemuda saat itu dan mengembangkan Bahasa Melayu. Pidato kedua dihari ketiga dari Pinontoan   Pemuda Minahasa mengatakan janganlah agama menjadi halangan membangun persatuan diantara para pemuda.

Foto-Kompas/Nina Susilo
Foto-Kompas/Nina Susilo
Bangunan berpilar di Jalan Budi Utomo Nomor 1, Jakarta kini  saksi bisu perjuangan para Pemuda 1926-tempat diselenggarakan Kongres Pemuda Pertama, 30 April -- 2 Mei 1926-menurut Onghokham, sejarawan Indonesia di masa itu penduduk menyebut tempat ini sebagai "Gedung Setan" karena menjadi tempat berkumpul kelompok Freemanson yang berkostum aneh

 1928-Para Pemuda menunjukkan Sikap  

Kerapatan Para Pemuda kedua yang kemudian dikenal dengan nama Kongres Pemuda II dihadiri oleh 750 orang. Hadir dalam kongres ini para pemuda dari berbagai golongan termasuk juga orang-orang Belanda yang bersimpati terhadap perjuangan para pemuda. Rapat pertama, diadakan di Sabtu, 27 Oktober 1928 19.30-23.30 diadakan di Gedung Pemuda Katolik (Katholieke Jongenlingen Bond), di Jalan Waterlooplein (Jalan Lapangan Banteng-Sekarang menjadi Gedung Pertemuan Gereja Katedral Jakarta). Pilihan tempat ini juga memberi sinyal bahwa perjuangan para pemuda ini tak dibatasi oleh sekat-sekat keagamaan. Moh. Yamin (sudah mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum di Batavia) berpidato pada pertemuan pertama ini dengan mengangkat tema Persatuan dan Kebangsaan Indonesia. Pidato ini mendapat tanggapan luar biasa termasuk dari Siti Soendari, adik dr. Soetomo Pendiri Budi Utomo. Kala itu Yamin harus menerjemahkan pidato dalam Bahasa Belanda karena Siti Soendari tak bisa berbahasa Indonesia (Melayu).

Video mapping yang mengambil cerita "Hai Pemuda Pemudi Indonesia" diproyeksikan pada sisi depan Gereja Katedral Jakarta dalam acara peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2019 - Foto-Kompas/Radtya Helabumi
Video mapping yang mengambil cerita "Hai Pemuda Pemudi Indonesia" diproyeksikan pada sisi depan Gereja Katedral Jakarta dalam acara peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2019 - Foto-Kompas/Radtya Helabumi
Pada hari kedua Minggu 28 Oktober 1928, kongres dipindahkan ke Gedung Bioskop "Oost Java" di Koningsplein Noord (Sekarang, Medan Merdeka Utara). Pada sidang kedua dari pukul 08.00-12.00, tema yang diusung adalah pendidikan dan perannya dalam mewujudkan kebangsaan. Ada 4 pembicara pada tema ini yaitu Poernamawoelan, Sarmidi Mangoensarkoro, Djokosarwono, dan Ki Hajar Dewantara (tidak hadir). Salah satu yang menarik adalah pendidikan dengan sistem asrama yang dipandang bisa membaurkan kaum muda dari berbagai daerah. Pada sidang ketiga, masih di tanggal 28 Oktober 1928, Jam 17.30-23.30 tempat pertemuan di pindahkan ke Gedung Klub Indonesia (Indonesische Clubgebouw). 

Gedung ini sebenarnya tak asing bagi para pemuda karena menjadi tempat pertemuan mereka untuk membincangkan berbagai hal-hal kebangsaan. Ini sebenarnya merupakan rumah tinggal Sie Kong Liong yang telah menjadi rumah singgah dan pemondokan bagi para pemuda yang berasal dari berbagai wilayah Indonesia. Tempat ini juga mengindikasikan bahwa Indonesia tumbuh dari imaginasi yang melampaui sekat-sekat ras, etnis. Tema ketiga yang dibahas pengembangan persatuan dan cinta tanah air (patriotisme). Ada tiga pembicara yaitu Ramelan yang beragama Islam dari Kepanduan Serikat Islam Afdeeling Padvinderij-SIAP), Theo Pangemanan yang beragama Kristen dari Kepanduan Nasional (Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie-INPO), dan Mr. Soenarjo sebagai ketua Persaudaraan Antar Pandu Indonesia (PAPI).

3-606a81e9d541df7f375c7ea3.png
3-606a81e9d541df7f375c7ea3.png
                                                                                                                                                                          Foto Kompas/JB Suratno

Gedung Sumpah Pemuda, di Gedung Kramat Raya 106 Jakarta, tahun 1976. Ini merupakan rumah milik Sie Kong Liong yang menjadi tempat para pemuda berkumpul membahas perihal kebangsaan

Pada sidang ketiga ini, polisi rahasia negara (Politieke Inlichtingen Dinest-PID) terus mengganggu kegiatan para pemuda. Sampai tibalah saat ketika Wage Rudolf Supratman, wartawan Sin Po memperdengarkan lagu karyanya dengan Biola dan Dolly Salim (Putri Haji Agus Salim) mengiringi dengan piano. Lagu Indonesia Raya dengan hikmat diperdengarkan kepada semua hadirin.

Malam hari akhirnya sampai pada putusan kongres.

Putusan Kongres Pemuda-Pemuda Indonesia

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun