Edukasi

Makna Tangisan si Kini

23 Februari 2019   22:34 Diperbarui: 23 Februari 2019   22:50 22 2 1
Makna Tangisan si Kini
dokpri

Pertengahan tahun 2017 merupakan babak baru dalam kehidupan saya. Ketika itu, untuk pertama kalinya saya mendengar tangisan si sulung. Tangisan kebahagiaan karena saya diberi amanah baru untuk menjadi seorang ibu yang akan membersamai buah hati tercinta. Namun terkadang tangisannya membuat saya panik. Saat itu saya tidak tahu pasti kenapa dia menangis, atau apa keperluan sebenarnya? Saya hanya meraba-raba mengikuti insting sebagai seorang ibu.

Seiring dengan waktu, ketika saya dan si kecil sudah saling memahami, saya mulai tahu bahwa ia menggunakan tangisan yang berbeda untuk mengutarakan kebutuhannya. Saat si sulung lapar ternyata tangisannya berbeda dengan kondisi saat dia kegerahan karena cuaca panas atau merasa tidak enak karena buang air besar atau buang air kecil. Saya mulai tahu bagaimana menenangkan si sulung.

Saat ini anak-anak saya sudah melewati masa balita. Namun terkadang di antara anak-anak saya itu sesekali masih ada juga yang menangis, lebih tepatnya sih menangis karena ingin diperhatikan misalnya kalau sedang rebutan mainan dengan sodaranya dan dia ingin dibela ibunya, atau saat ibunya terlalu sibuk mengerjakan sesuatu .

Setelah saya bisa memenuhi kebutuhan anak atau ketika mampu menenangkannya, biasanya saya akan merasa tenang. Namun terkadang saya tidak menemukan penyebab kenapa anak-anak menangis atau apa yang dapat saya lakukan untuk menenangkannya, ujung-ujungnya bikin galau juga.

Tidak dapat dipungkiri terkadang sebagai ibu ada juga khilaf atau terpancing emosi saat anak-anak berbuat onar. Pada saat kondisi tersebut diperlukan peran bijak dari suami. Sesekali suami perlu juga ambil porsi dalam pengasuhan anak dan memberi kesempatan kepada istri untuk menenangkan diri atau melakukan "me time" yang akan menjadi mood booster sehingga sang istri bisa kembali segar dan rileks saat mengasuh buah hati tercinta.

Teringat kutipan puisi Gabriela Mistral "Banyak kekhilafan dan kesalahan yang kita perbuat namun kejahatan yang paling nista adalah kejahatan yang mengabaikan anak-anak kita, melalaikan mata air hayat kita..............Kepadanya kita tidak bisa berkata Esok, namanya adalah Kini". Dari puisi tersebut dapat diambil hikmahnya bahwa pada masa awal-awal kehidupan bayi, semua ekspresi anak kita terhadap kebutuhannya memang harus segera dipenuhi. Bagi bayi, satu menit mungkin terasa seperti satu jam. 

Tapi seiring dengan perkembangan anak, lama kelamaan mereka mulai mendapat pengalaman dan mempelajari kebiasaan orangtuanya saat merespon kebutuhan anak-anak. Anak juga akan belajar bahwa orang - orang akan membuat dia aman dan akan menolongnya. Dan yang harus kita garis bawahi bahwa kita sebagai orang tua adalah  "kunci penting untuk perkembangan rasa percaya diri anak". 

Dari kelekatan kita sebagai orang tua dengan anak kita ternyata merupakan salahsatu modal untuk membangun kepercayaan diri anak. Dari kepercayaan itu, anak akan belajar untuk merasa aman dan terlindungi sehingga dia kemudian akan mengembangkan keakraban hubungan. 

Kesabaran, kejujuran, serta kemampuan untuk berempati merupakan bagian dari kepercayaan. Pada akhirnya anak kita akan merasakan bahagia serta memiliki kemampuan untuk bermain. 

Semua itu ternyata datangnya dari perkembangan rasa percaya selama masa bayi. Jadi bunda, sekarang jangan takut anak bau tangan ya kalau saat bayi ternyata si kecil minta digendong terus. Last but not least semoga kita mampu menjadi orang tua yang mampu mendidik anak kita menjadi anak #generasimaju yang cerdas yang mampu mengatasi segala permasalahan di dalam hidupnya.

#mombassadorsgmeksplor
#generasimaju
#sgmeksplor