Mohon tunggu...
Muhammad Armand
Muhammad Armand Mohon Tunggu... Dosen - Universitas Sultan Hasanuddin

Penyuka Puisi-Kompasianer of The Year 2015

Selanjutnya

Tutup

Inovasi Pilihan

Industri Derita di 'Sehangat Matahari Pagi'

18 Desember 2015   05:07 Diperbarui: 18 Desember 2015   07:54 310
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Buku: Sehangat Matahari Pagi [Koleksi: M.Armand]"][/caption]Thamrin Sonata, editor berkelas. Plus pengantar Pepih Nugraha. Menjadi uniklah buku ini, beda dengan buku-buku yang pernah penulis baca. Diberi titel: "Sehangat Matahari Pagi". Jangan berimagi bahwa penulis akan mengurai secara menyeluruh di buku ini. Penulis menariknya ke deret kualitatif. Maka, buku ini akan hidup! Versiku!

Buku Wong Kito Galo sebab ini himpunan artikel Kompasianer, penulisnya orang dalam semua. Inipun resensere-revidere, juga dilakukan orang dalam! Mengasyikkan tentu, sebab buku ini diserpih-serpih. Dari BAB ke BAB, tak tertemukan tali-temalinya seperti sebuah buku ilmiah populer. Adalah industri derita menjadi sentrum buku ini. Itulah hulunya! Inilah yang diapresiasi oleh tiap-tiap penulis.

Oh tidak! Lewat buku ini, penulis 'tak menjagokan lagi' seorang Tjiptdinata Effendi. Ada sosok yang amatlah kuatnya di balik perjalanan lelah seorang Tjiptadinata. Dialah Helena Rosalina. Penulis ulangi: Helena Rosalina! Rosalina-lah 'matahari' Tjiptadinata. Berlaksa derita-luka-kesakitan yang dirasai Tjiptadinata, dilenyapkan oleh Ibu Lina.

Dialah perempuan lugas! Sesampai Pepih Nugraha sempat memerah wajahnya karena merasa 'dipermalukan' oleh Ibu Lina. Bahasa lurusnya begini: "Pepih Nugraha itu sombong!". Manalah ada orang yang seberani ini menyatakan langsung kata-kata bermerica itu di hadapan Pak Pepih Nugraha? Lantas kenapa Bu Lina berujar se-down itu? Rada-rada kecewa? Walah, mosok sih penulis mau jawab sendiri? Itu mah bukan resensere namanya! Ha ha ha

Selatan ke Utara

Apakah tulisan-tulisan atau puisi ataukah komentar di "Sehangat Matahari Pagi" hanyalah sebatas artikulasi untuk menyenang-nyenangkan Tjiptadinata? Iya, penulis memandangnya seperti itu. Di garis Selatan sampai ke Utara, yah buku ini 'menjenuhkan'. Kelewat mudah ditebak kontennya! Ahai!

Kasihanlah Pak Tjip yang disanjung sedemikian tinggi-tinggi! Bisa alpa diri beliaunya di usia yang tak muda lagi itu. Tetapi, arus psikologik kelewat deras, hingga penulis-penulis di sana, tiada sanggup menahan gejolak harunya akan suka-duka Tjiptadinata-Roselina. Sesungguhnya, jibunan kisah-kisah getir serupa ini. Tapi ini beda! Kenapa? Karena kita mengenal secara dekat-emosional-vivid akan seorang yang tertulis dalam buku itu. Jadi, buku ini bukan 'milik' Tjiptadinata. Ini 'ulah' Thamrin Sonata sang inisiator terkreasinya buku ini.

Seolah fiksi

Bagi yang belum sempat menuntaskan buku ini, ataukah malah belum sempat membaca, tentu akan 'meremeh-temehkannya'. Lha, penulisnya kita-kita juga. Emang harus orang lainkah yang gak ngerti seluk-beluk siapa Pak Tjip? itu sama aja recycling bro. Atau penulis-menulis akan sesuatu yang ia sendiri rak ngerti siapa yang ditulisankannya. Itu namanya penyiksaan bin penjajahan. Ha ha ha

Dan,.....kumpulan tulisan di buku ini, seolahlah fiksi, bahasa penelitiannya adalah 'pseudo riset'. Mencerita seheboh-hebohnya akan siapa Tjiptadinata. Sekalinya ditanya: "Mana datamu?". Semua pada diam. Ini pulalah kekurangan sekaligus kelebihan buku ini. Kita diajak-ajak untuk infilmik, masuk ke dalam kehidupan Tjiptadinata-Roselina. Jangan baca buku ini bila berharap adanya kisah-kisah heroik dari orang yang dituliskan di sini. Bila ingin mendapatkan itu, maka baca sendiri artikel-artikel Pak Tjip, termasuk ketika akan ditangkap di sebuah hotel atas suruhan perwira polisi atau polisi perwira.

Judulnya Berat

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Inovasi Selengkapnya
Lihat Inovasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun