Muhammad Armand
Muhammad Armand Staf Pengajar Universitas Sultan Hasanuddin

Penyuka Puisi-Kompasianer of The Year 2015

Selanjutnya

Tutup

Analisis Artikel Utama

Pembunuhan Karakter di Ajang Pilpres

1 Januari 2019   14:13 Diperbarui: 2 Januari 2019   08:46 1020 26 20
Pembunuhan Karakter di Ajang Pilpres
stocktonuniversity.com

Mereka (Prabowo-Jokowi) baik-baik saja. Harmoni-sejuk-damai. Itu barisan kata-kata psikologik yang penulis sematkan pada kedua Tokoh Nasional itu. Rakyatlah yang dikotom. 

Lahirlah kultur: sudut-menyudutkan, dongo-mendongokkan, hina-menghina, rendah-merendahkan, pojok-memojokkan, caci-mencaci, maki- memaki, bodoh-membodohkan, remeh-meremehkan, singgung-menyinggung, sentil-menyentil, anarkis kata, violensi bahasa, dan berderetan lagi orang-orang memperlakukan jiwanya sedemikian rupa hingga pukulan psikologik mengenai dirinya dan juga sekitarnya (orang lain, sesama, sebangsa, dan lain-lain).

Lama sudah penulis melakukan 'riset media sosial' akan gejala-gejala kejiwaan ini. Ini menyangkut karakter, mengenai genetik, mengenai sosial-budaya. Kepada yang mengembangkan dan menyalurkan ucapan-ucapan negatif, jika ia tak bisa berhenti, maka ia seperti orang sudah makan berkali-kali tapi masih merasa kelaparan. 

Ada prihatin di diri penulis bahwa itu adalah hak-hak azasi warga negara untuk mengungkapkan kerak-kerak kejiwaannya tanpa mengindahkan alur kognitifnya. Karena tiada kelogisan dalam bahasa-bahasa negatif. 

Rumpun ucapan verbal itu, sungguh berpotensi berkembang sejalan dengan usia yang bersangkutan. Lambat dan laun, akan terjadi "dua usia" yang tak harmoni. 

Di Psikologi Kesehatan, amat populer adanya dua jenis usia manusia: Usia Kalender dan Usia Mental. Usia kalender menurut deret ukur, ia konsisten lajunya. Usia mental menurut deret hitung. Usia telah 55, pola bertutur masih berusia 18 tahun. Ini terjadi selisih jauh antara usia kalender (CA/Calender Age) dan usia mental (MA/Mental Age).

Pak Prabowo sedemikian hina, di hadapannya. Pun, pihak lain sedemikian rendah Pak Jokowi di perjalanan hidupnya. 

Kedua Tokoh Nasional ini sungguh-sungguh dimatikan karakternya, dilembahkan sosoknya, diusik soal pribadinya, dirongrong martabat keluarganya, dinistakan asal kampungnya, dinistakan jenis pekerjaan dan masa lalunya, didendangkan sinis asal-muasal, dikebiri soal genetiknya, dimeme-negatifkan fisiknya. Seluruh dicerca tanpa sisa. Bahkan dengan energi emosional (dislike), ia rela dan sanggup lakukan hina-dina di luar batas kemanusiaan dan di luar jangkaun ajaran agamanya.

Lalu bilalah saya menulis begini, berpotensi dijuluki: "Polisi Moral". Ataukah digelari dengan bahasa ambigu: "Berdiri di Dua Kaki". Se-idealnya bagiku adalah sayapun sudah punya pilihan calon presiden 2019. -jauh sebelum 'mereka-mereka' melakukan pesta olok-olokan- karena saya punya hak-hak demokrasi selaku Warga Negara Indonesia.  

Namun, saya hanya bisa memuji kandidatku dalam hati dan tiada 'nawaitu' sama sekali untuk 'menajiskan' calon yang tak saya pilih. Saat sekerumunan orang membunuh karakter salah satu dari kandidat presiden, saat bersamaan saya pun menyatakan dalam pikiran dan batin bahwa "engkaupun telah terbunuh karaktermu di hadapanku".

 Saat engkau merendahkan Pak Jokowi atau Pak Prabowo, sesungguhnya di mataku engkaulah yang hina tercermin dari ucapan-ucapanmu yang juga hina.

Tiada respekku dengan orang-orang seperti ini, tak layak bagiku dijadikan teman selama ia bertabiat seperti itu. Tak rasional bagiku terhadap orang-orang yang setiap hari, hanya sanggup memaki dengan gaya bahasa (mulai halus sampai sarkas), ia tak mengenal hari libur dan tanggal merah. 

Maka, saya ingin gambling, bahwa apa yang engkau lakukan itu adalah fakta, tetapi saya pun menelusuri realitas (fakta di balik fakta) bahwa buah makian juga ditanam oleh orang-orang yang memiliki masalah serius di kejiwaannya. Itu symptom sakit jiwa, kelainan jiwa, disharmonisasi permanen-temporer, hatinya terancam.

Pada batin-batin yang bermasalah, itu sungguh rentan dalam soal ketersinggungan, orang ini berdiri sendiri, bisa disebut anti-sosial. Maka dengan helatan demokrasi lima tahunan, terlihat terang adanya "orang yang dalam anti-sosial massal".

Sedang jiwa kita dibikin Tuhan dengan bahan yang sama, Tuhan takkan mengubahnya jiwa yang suci itu. Engkaulah yang membawa hati itu ke lumpur-lumpur pekat. Pada hati seluruh dunia adalah sama, sederajat, homogen. Merendahkan tokoh nasional ekuivalen dengan merendahkan Tuhan karena Tuhan yang merakit manusia dengan segala keunggulannya. 

Bagaimana perasaanmu jika engkau membuat mobl-mobilan untuk anak-anakmu, adikmu ataukah sepupumu, lalu datang seseorang menghina buatanmu itu. Apakah engkau tidak merasa terhina sebagai kreator mobil-mobilan itu? 

Ataukah di jalan raya, sedang mengendarai mobilmu atau motormu, tiba-tiba ada orang memukul kap mobilmu. Walau mobilmu tak sakit akan pukulan itu, tapi wajahmulah yang memerah sambil gigit bibir pertanda engkau tak terima perlakuan itu, bukan? Karena engkau pemilik mobil itu, sedang engkau adalah milik Tuhan. Demkian juga Pak Prabowo dan Pak Jokowi, mereka milik Tuhan, Tuhan yang 'rakit' mereka, ciptakan mereka. Tuhan Maha Kreator!

Artikel ini hanyalah perihal-perihal penyampai, saya sama sekali tak berhak memperingati, warning dan sejenisnya. Karena saya juga melakukan hal negatif di 'ruang kehidupan' lain tanpa engkau tahu. Ah, serasa merindukan dari seseorang tukang umpat itu ber-resolusi di 2019 ini: "SAYA TIDAK AKAN MENGHINA LAGI CALON PRESIDEN INDONESIA"

------------
Makassar, 1 Januari 2019
Salam Kompasiana