Arnold Adoe
Arnold Adoe Instruktur Balai Latihan Kerja

Orang biasa...Menulis sekedar untuk berbagi..

Selanjutnya

Tutup

Wisata highlight

Mengusik Nostalgia dengan Menyisir Pantai Nemberala-Mboa di Pulau Rote

21 Maret 2017   09:12 Diperbarui: 21 Maret 2017   11:53 137 3 0
Mengusik Nostalgia dengan Menyisir Pantai Nemberala-Mboa di Pulau Rote
Pantai Nemberla- Indah/ Dokumen Pribadi

To’o-to’o...mari su (Sudah)” teriak keponakan-keponakan lucu dari balik jendela mobil. To’o adalah panggilan untuk kaka atau adik laki-laki dari ibu kandung bagi orang Rote. Sebuah jabatan yang tidak bisa dipandang remeh karena jika ingin melamar anak gadis rote, maka sang To’o ikut mengambil peran dalam menentukan besaran belis atau mas kawin. Ramahlah dengan para To’o, itu pesan saya jika anda ingin melamar anak gadis rote yang terkenal cantik-cantik. 

Itu hanyalah sekedar informasi karena keponakan-keponakan yang baru berusia 8-12 tahun itu tentu bukan memanggil saya karena mau dilamar tetapi karena ada sesuatu yang lebih menarik yang mengundang mereka siang itu, Pantai Nemberala. Bahkan undangan itu mengalahkan siang dengan sengatan terik yang membuat kulit serasa perlu diregenerasi.

Hari itu tepat  15 hari saya di Pulau Rote. Pulau cantik di ujung selatan Indonesia.  Tepat di hari sabtu, hari dimana biasanya anak-anak kecil kerap menagih waktu bersama dengan orang tua mereka.

Iyaa..tunggu sebentar”  kata saya sambil merapikan beberapa peralatan pribadi yang masih tersebar seusai melatih para siswa ketrampilan Meubelair di Desa Batutua.  Singkat cerita, 10 menit kemudian kami sudah bersama dalam perjalanan menuju Nemberala.

Jarak dari Batutua ke Nemberala  mencapai  30an Km. Tetapi perjalanan itu tidak memakan waktu panjang karena  jalan di Rote sudah dihotmix. Campuran panas pembuat aspal yang membuat jalanan rote jauh lebih mulus dari 15 tahun lalu ketika saya pertama kali ke Nemberala. Tahun 1999.

Nemberala- Indah/ Dok Pribadi
Nemberala- Indah/ Dok Pribadi

Lamunan saya kemudian bergerak kembali menuju masa 15 tahun lalu itu,seingat saya masa itu adalah masa penuh perjuangan. Menuju Nemberala, beberapa kali saya dan beberapa orang keluarga  harus turun dari pick up dan kendaraan umum sewaan hanya untuk memastikan bahwa mobil kami bisa lebih mudah melewati beberapa lubang menganga di jalan yang belum sempurna.

Sesekali  pertemuan dengan domba berbulu lebat yang khas rote bergerombol di tengah jalan yang sepi , memaksa kami menunggu dengan kesabaran tingkat dewa, karena domba-domba itu tidak merasa perlu untuk segera menyingkir.

Sesudah perjuangan itu, akhirnya kami sampai juga ke Nemberala. Pantai  dengan hamparan pasir putih luas yang menghiasi bibir laut terlihat dengan jelas. Dibandingkan sekarang, belum terlalu banyak bangunan permanen yang berdiri menutup indahnya Nemberala.

Bahkan, meskipun sudah terkenal dengan tinggi dan arah gelombang yang katanya menyamai gelombang di Hawaii-Amerika sana (meski banyak orang rote pun tidak tahu di mana itu),  namun pada waktu itu belum banyak Surfer asing yang terlihat. Malahan remaja seumuran saya pada waktu itu hanya ingat akan betapa alaminya pasir Nemberala. “Semakin dalam kaki bisa masuk ke dalam, semakin alami pasirnya” kata beberapa orang yang mencoba menilai pasir Nemberala.

Lamunan saya akhirnya terhenti ketika mobil sudah memasuki wilayah Nemberala. Mata saya bergerak kepada pemandangan yang masih asing di 15 tahun lalu. Terlihat seorang pria bule yang sedang bercengkerama akrab dengan dua wanita lokal. Beberapa kali tangannya mencubit lengan salah satu dari wanita. Sebuah sambutan yang menarik perhatian saya.

Sudah banyak bangunan permanen di Nemberala. Mereka menamakannya dengan Villa ataupun Bungalow. Nama-nama seperti Luna Maya, Bambang Trihatmodjo dan putranya Panji serasa tidak asing lagi sebagai pemilik salah satu Villa. Beruntung, akses masuk ke Nemberala masih mudah dan gratis.

Setelah mobil diparkir, kurcaci-kurcaci kecil itu mulai berlompatan keluar menuju pasir putih Nemberala. Nemberala masih indah, pasir putihnya lebar menghampar memanjang dengan beberapa pohon kelapa menjadi penghias yang sempurna. Walaupun tentu pasirnya tidak sedalam dahulu dan jumlah pohon kelapanya sudah berkurang. Semuanya karena dampak pembangunan yang semakin pesat di sana.

Nemberala bersama bule Cewek/ Dok Pribadi
Nemberala bersama bule Cewek/ Dok Pribadi

Anak-anak kecil itu memilih menjauh ketika ada perahu motor yang mulai merapat ke pantai. Seorang bule wanita turun dengan papan selancar yang panjang. Mata ingin tahu anka-anak itu berjalan seiring dalam ketakutan mereka. “Mam, can you take a picture with us?” tanya saya memberanikan diri,  sambil berharap si bule bukanlah orang Perancis atau Rusia yang cuek dan tak paham bahasa Inggris. “Oh..Sure...” jawabnya ramah dengan aksen Inggris yang kental sambil tersenyum pada keponakan kecil.

Toto sa (saja)....” teriak anak-anak ini ketika saya mengajak mereka berfoto. Mereka masih malu dan cenderung takut. Tak mau membuat si bule kecewa, saya pun berfoto dengan wanita  Inggris itu. “Thank you” ucap saya, sehabis berfoto dan wanita itu beranjak pergi sambil melambaikan tangannya ke anak-anak. Anak-anak itu pun kembali kesibukan mereka memilah milih batu-batu laut menarik yang mereka temukan.

 “Ayo berpindah, masih ada yang bagus di sana” kata bapatua, opa dari anak-anak itu sambil menunjuk arah ke barat. Anak-anak walaupun kelihatan belum puas bermain di pasir putih itu tetap taat untuk kembali masuk ke dalam mobil. Kami mulai bergerak.

Pantai di antara Nemberala Mbo'a/ Dok Pribadi
Pantai di antara Nemberala Mbo'a/ Dok Pribadi

Tempat yang dimaksudkan opa yaitu pantai M’boa. Pantai tepat di ujung Barat Pulau Rote yang menawarkan ombak yang sangat tinggi. Jika Nemberala masih banyak perahu yang tertambat baik yang mengantar penumpang ke pulau kecil lain bernama Ndao ataupun mengantar peselancar ke titik tertinggi ombak berada, maka di Mboa ini tidak banyak perahu yang tertambat. Malahan hampir tidak ada.

Alasannya mungkin karena di Mboa inilah ombak mencapai puncak tertingginya. Terlihat dari jauh Ombak itu menghantam batu karang tinggi di Mboa. Entah bagaimana menjelaskannya tetapi ombak itu terhempas sebelum sampai ke pantai.

Seperti ulangan di Nemberala, anak-anak kecil mulai berlarian bagaikan menyambut ombak. "Hati- hati..." teriak opa. Beberapa waktu kemudian, mereka mulai beradi memamerkan batu-batu berwarna yang tak kalah menariknya dengan yang ditemukan di Nemberala.

Nemberala, pantai cantik/ Dok Pribadi
Nemberala, pantai cantik/ Dok Pribadi

Di sudut batu karang besar di Mbo'a tersembunyi pantai yang yang sangat indah. Air laut yang teduh kontras sekali dengan hempas gelombang yang besar di bagian yang lain.

“Dulu waktu kecil, saya sering mencari kayu hingga disini?” cerita bapatua (papa). “Kenapa son beli tanah disini bapa?” tanya kami dalam canda. “ Belum ada duit….” jawab papa sambil tersenyum. Papa hanyalah satu dari sedikit anak rote yang pada tahun 1950-an mau merantau ke kupang untuk bersekolah. Cerita tentang almarhumah oma (nenek) yang rela menjual ternak milik mereka hanya untuk dia bersekolah menemani kami kala menikmati keindahan Mbo’a.

Papa bukanlah dari keluarga kaya, namun orang tuanya sudah punya wawasan baik tentang pendidikan yang baik. Walaupun harus ke kupang dan meminta belas kasihan keluarga untuk “menampung”  selama dia bersekolah, papa tidak lah malu dan tidak Te’koa.

Pantai Mbo'a / Dok Pribadi
Pantai Mbo'a / Dok Pribadi

Te’koa. Sebuah kata Rote yang berarti haus pujian. Banyak keluarga dari Rote jaman itu dan mungkin jaman sekarang terjebak dengan Te’koa. Mereka lebih memilih anaknya tidak bersekolah daripada harus merasa "malu" karena sang anak harus merantau dan memohon belas kasihan orang lain saat merantau.

Dampaknya, pola pikir dan wawasan orang tua dan sang anak perlahan-lahan berubah menjadi lebih sempit. Anak-anak dibiarkan menjadi pengangguran dan terus dibiayai orang tua walalupun sudah beranjak dewasa. Hal-hal negatif dan kontra produktif seperti berjudi pun membuat mereka terjebak  dalam pusaran itu.

Pantai Mbo'a/ Dok Pribadi
Pantai Mbo'a/ Dok Pribadi

Saat tidak punya uang, tanah-tanah milik mereka dijual. Pilihan pelik yang tanpa memikirkan dampak jangka panjang. Bersyukur, papa bukan salah satu dari mereka. Keluarga yang dia telah bentuk adalah keluarga yang walaupun sederhana tetapi mempunyai pendidikan yang cukup. Sebuah pola pikir yang harus menjadi bahan refleksi bagi keluarga lain di Rote yang tanah mereka terutama di Nemberala dan tempat lain sudah dikuasai oleh orang lain/orang asing.

Hari sudah hampir melewati siang, dan kami pun menjadi lapar. Anak-anak kecil itu semakin kelewat gembira menikmati pasir dan keindahan laut di tanah kelahiran mereka. Kegembiraan yang mungkin akan sulit mereka temukan lagi jika pendidikan dan perubahan cara pandang tidak menjadi pandu dalam kehidupan anak-anak dan keluarga di tanah yang indah ini, tanah Rote. ”To’o..to’o…mari berfoto..” panggil para keponakan ini menghentikan lamunan saya sejenak.

"Ah..semoga tidak terjadi…." ujar saya dalam hati, sambil beranjak untuk berfoto bersama mereka…