Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Tukang Kayu

Menulis Untuk Berbagi...

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan Pilihan

Makna "Bukan Salah Jakarta" Jokowi dalam Pindahnya Ibu Kota ke Kaltim

27 Agustus 2019   07:57 Diperbarui: 27 Agustus 2019   08:31 0 5 3 Mohon Tunggu...
Makna "Bukan Salah Jakarta" Jokowi dalam Pindahnya Ibu Kota ke Kaltim
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Wapres Jusuf Kalla (kanan) dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Sofyan Djalil memberikan keterangan pers terkait rencana pemindahan Ibu Kota Negara di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8/2019). Presiden Jokowi secara resmi mengumumkan keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara ke Kalimantan Timur.(ANTARA FOTO/AKBAR NUGROHO GUMAY)

"Ini bukan salah Pemprov Jakarta tapi beban yang diberikan ke Jakarta," ujar Jokowi.

Jokowi membuat sejarah. Sebagai Presiden, Jokowi berani mengambil keputusan besar dengan memindahkan Ibu Kota dari Jakarta ke Kalimantan Timur. Padahal wacana ini sudah sempat dikatakan oleh beberapa Presiden sebelumnya seperti  Presiden pertama RI, Sukarno yang telah menyebut Palangkaraya di Kalimantan Tengah sebagai tempat ideal ibu kota Indonesia yang baru.

Selanjutnya, Pada akhir 1980-an dan awal 1990-an, Presiden Soeharto juga mewacanakan pemindahan ibu kota ke kawasan Jonggol, Jawa Barat. Lalu, pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pemerintah ingin memperluas wilayah ibu kota hingga Sukabumi dan Cianjur. 

Namun semua rencana pemindahan tersebut tidak pernah terealisasikan.

Salah satu alasan utama perpindahan ini karena beban Jakarta yang sudah begitu berat.

Jokowi,  lantas mengatakan bahwa besarnya beban Jakarta tersebut bukanlah salah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.  Jakarta harus menopang beban yang semakin berat, sehingga satu-satunya jalan yang mungkin ditempuh adalah memindahkan ibu kota. Menariknya, Jokowi mengatakan bahwa ini bukan kesalahan Pemrov Jakarta.

"Ini bukan salah Pemprov Jakarta tapi beban yang diberikan ke Jakarta," ujar Jokowi.

Apa makna di balik pernyataan "bukan salah Pemrov Jakarta" ini?  Untuk memahaminya, kita dapat melihat dalam dua illustrasi. Pertama, mengillustrasikan seperti sedang mengunjungi orang yang sedang sakit sekarat dan kita mengatakan bahwa ini karena keadaan dan bukan karena kesalahan si orang tersebut.

Jakarta memang "sakit parah" atau sekarat.  Beban Jakarta yang  dimaksud adalah beban kemacetan, beban polusi, beban kepadatan penduduk, dan beban lainnya. Oleh karena itu, Jokowi berpikir Jakarta perlu dibantu.

"Kenapa urgent sekarang? Kita tidak bisa terus-menerus beban Jakarta dan Pulau Jawa semakin berat dalam hal kependudukan, kemacetan parah, polusi, dan air yang semakin buruk," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Coba kita lihat detailnya, misalkan kepadatan penduduk.  Ketika Djarot Saiful Hidayat menjadi gubernur pada 2017, Djarot  mengatakan bahwa  kepadatan penduduk DKI Jakarta telah melebihi batas ideal.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x