Mohon tunggu...
Arnold Adoe
Arnold Adoe Mohon Tunggu... Lainnya - Tukang Kayu Setengah Hati

Menikmati Bola, Politik dan Sesekali Wisata

Selanjutnya

Tutup

Cerita Pemilih Pilihan

"Tiki Taka" Jokowi yang Berjalan Mulus

20 Mei 2019   05:56 Diperbarui: 20 Mei 2019   08:38 2312
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Penemuan besar Pep Guardiola yang merevolusi sepak bola dan akan dikenang oleh pecinta bola adalah tiki-taka. Konsep taktik ini cukup sederhana. Para pemain sepak bola bermain dengan mengandalkan umpan-umpan pendek dengan fekuensi sebanyak-banyaknya, dan kecepatan umpan secepat-cepatnya.

Barcelona ala Pep adalah yang paling ideal mampu melakukannya. Xavi Hernandez, Andress Iniesta dan Lionel Messi membuat bola bergulir kesana kemari, dengan umpan pendek dengan akurasi tinggi dan menjaga agar para pemain tetap bergerak.

Tiki-taka terlihat sangat indah, namun efeknya sangat destruktif bagi lawan. Lawan yang terpancing untuk merebut bola, akan lupa akan pola pertahanan mereka sendiri, lalu bernafsu dan akhirnya melupakan pertahanan mereka sendiri.  

Disadari atau tidak, Jokowi mampu memainkan ini dengan sangat mulus di dalam kisruh perpolitikan pasca pemungutan suara. Bola politik berhasil bergulir ke sana-kemari dengan kontrol penuh kemana bola dioper dan kapan dikembalikan.

Kita mulai dari bola rekonsiliasi. Jokowi memulainya lebih dahulu dengan sebuah diskursus cantik, mengutus seorang LBP untuk bertemu Prabowo. Bola ini dimainkan untuk mengetahui pola yang ingin dimainkan lawan sesudah hasil quick count keluar.

Lawan terpancing, menolak utusan, menganggap diri dilecehkan hingga takut pertemuan rekonsiliasi itu berarti adalah menyerah kalah, padahal sudah terlanjur melakukan klaim kemenangan. Lawan bahkan terpancing untuk merebut bola yang bergulir dari rekonsiliasi ke soal adu data.

Untuk hal data, seperti Xavi, akurasi yang dimainkan oleh Jokowi sangat ilmiah dan dapat diterima oleh akal sehat. Bagi lawan, ketika tidak mampu meladeni urusan data karena tidak punya kekuatan yang cukup, maka lawan berubah menjadi agresif, menekel dengan keras, dengan seruan-seruan people power dan sebagainya.

Santai saja bagi Jokowi, selama bisa menguasai bola, tekel keras lawan hanya berakibat negatif bagi mereka sendiri. Wasit akan menjerat dengan hukuman, sedangkan penonton di stadion akan memberi sorakan, bukan sorakan pujian tetapi olokan.

Semakin tidak dapat merebut bola, lawan semakin depresi. Visi permainan lawan menjadi tidak terkendali, saling menyalahkan satu sama lain di antara kubu lawan terjadi. Selama tidak menguasai bola, hal seperti itu seperti membunuh diri perlahan-lahan.

Jokowi amat menikmati permainan. Ketika safari politik di dalam wadah buka bersama para petinggi lembaga tinggi lain berjalan baik dan diisi dengan sukacita, di lain sisi, lawan terus diisi dengan kebencian dengan pola-pola yang sudah kadaluarsa.

Terkadang ketika bola ketika sudah hampir digiring  masuk ke kotak penlati lawan, masih sempat-sempatnya dioper lagi ke belakang. Seperti hanya ingin menghibur  penonton, mungkin karena permainan masih belum selesai 90 menit. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerita Pemilih Selengkapnya
Lihat Cerita Pemilih Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun