Mohon tunggu...
Arnold Mamesah
Arnold Mamesah Mohon Tunggu... Konsultan - Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomics - Intelconomix

Infrastructure and Economic Intelligent - Urbanomic - Intelconomix

Selanjutnya

Tutup

Money

The Fed, Renminbi, dan Arsitektur Keuangan Global

19 November 2015   10:38 Diperbarui: 20 November 2015   18:28 319
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dengan masuknya CNY dalam cadangan SDR, CNY akan menjadi mata uang yang digunakan (dalam perdagangan) secara luas (widely used) dan tanpa pembatasan (freely usable). Salah satu implikasinya "quasi floating" (pergerakan terbatas atas nilai tukar CNY terhadap mata uang lain terutama USD) harus ditiadakan dan CNY menjadi "free-floating currency". Dengan kondisi surplus perdagangan China, mekanisme free-floating dapat berdampak terjadi apresiasi nilai tukar yang selanjutnya akan menurunkan "price competitiveness" produk China. Sementara barang impor akan mengalir lebih banyak ke pasar China. Implikasinya, surplus perdagangan China akan menurun dan selanjutnya akan menekan pertumbuhan ekonomi China yang belum sepenuhnya beralih dengan mengandalkan konsumsi domestik.

Masuknya CNY dalam SDR akan memberikan pilihan dalam perdagangan global. Media transaksi perdagangan antar negara dan global dapat menggunakan CNY tanpa harus bergantung pada USD (atau Yen Jepang - JPY, Euro, Pound Sterling - GBP). Namun Bank Sentral China (PBOC) harus disiplin dalam menjalankan kebijakan moneter termasuk dalam hal intervensi.

Arsitektur Baru Keuangan Global

Dalam pertemuan G20 2015 di Turki, Presiden Jokowi menyampakaian usulan perombakan arsitektur keuangan global. Kesulitan likuiditas  khususnya "emerging market", dan utang yang sebagian besar menggunakan mata uang USD, fluktuasi nilai tukar USD akan sangat berdampak pada stablitas keuangan dan memberikan tambahan beban.

Tabel-1 berikut ini memberikan gambaran besaran utang Indonesia dalam berbagai mata uang.

Sumber Informasi : Bank Indonesia - SULNI

Usulan perombakan arsitektur tersebut timbul dari pemahaman Triffin Dilemma. Kuatnya dominasi USD yang digunakan dalam perdagangan dan terlebih pada pasar uang global, menimbulkan kecemasan akan kemampuan dan jaminan atas cadangan dana yang menggunakan mata uang Amerika (USD). Kecemasan tersebut sebenarnya terlalu berlebihan karena mekanisme "floating exchange rate regime" yang akan melakukan koreksi dalam hal perdagangan antar negara dan global. Sedangkan untuk masalah kesulitan likuiditas, perilaku mendapatkan utang dari sumber eksternal dalam mata uang asing khususnya USD seharusnya dikoreksi dengan memberdayakan dana domestik.

Gejolak Menghadang

Setelah mengalami tekanan depresiasi hingga mencapai kisaran IDR 14.700 pada September 2015, kondisi nilai tukar sementara mereda dan dapat dilihat pada grafik-6 berikut ini.

Sumber Informasi : IMF Exchange Rates (dengan normalisasi dan pengolahan)

Dari grafik-6, trend nilai tukar IDR dan CNY naik terhadap USD dan hal tersebut selaras dengan trend yang diberikan pada grafik-7 berikut ini.

Sumber Informasi : Federal Rserve Bank of St. Louis.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun