Aldo Manalu
Aldo Manalu pelajar/mahasiswa

menekuni bidang kepenulisan

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Bohemian Rhapsody

11 Februari 2019   20:31 Diperbarui: 11 Februari 2019   21:20 77 1 0
Bohemian Rhapsody
www.pinterest.com/bobdewald

Aku mengira kalau hidup ini adalah sebuah fantasi. Tapi ternyata aku memang berada dalam sebuah kenyataan yang buatku tak bisa melarikan diri. Meski aku harus menatap menatap ke atas langit, takkan mengubah kenyataan kalau aku hanyalah seorang lelaki miskin. Tapi jangan salah sangka. Aku tidak mengharapkan simpati dari kalian yang punya harta melimpah dan popularitas. Orang bijak berkata kalau hidup ini punya pasang surut. Tapi aku merasa pepatah mereka benar-benar tidak berarti. Betul-betul tidak ada artinya. Persis dengan apa yang terjadi padaku. Semuanya bagaikan embusan angin. Cuma menumpang lewat saja lalu terlupakan.

***

 Ed, itulah panggilanku. Aku tinggal bersama dengan ibuku. Kami tinggal di sebuah desa yang masyarakatnya terbilang berkecukupan. Mayortitas penduduk di sana punya ladang dan sawah luas. 

Setiap memanen mereka bisa berpenghasilan dua puluh juta ke atas. Mereka punya mobil dan sepeda motor. Rumah mereka terbilang cukup besar. Setiap aku melintas di rumah mereka, aku refleks tersenyum. Berandai-andai jika kehidupanku seperti mereka. Tapi di saat itu pula aku merasa kesedihan menyeruak dalam hati.

***

Ayahku dulunya merupakan seorang kepala dinas pendapatandaerah. Jangan tanya soal kekayaan kami. Kami merupakan orang terpandang di kota A. Kami punya perusahaan garmen dan pabrik susu. Rumah kami rumah beton berarsiktur Spanyol dengan air pancur dan replika patung Aristoteles di halaman rumah. Rumah kami sering sekali dijadikan tempat berpestanya kaum borjuis dan birokrat. 

Maklum saja, ayah juga merupakan ketua dewan pengurus daerah salah satu partai pro pemerintahan. Ayahku sering sekali melakukan pertemuan-pertemuan penting atau sekedar berbincang-bincang di rumah kami. Ayahku sering sekali memperkenalkan diriku pada teman-temannya.

"Perkenalkan ini putra saya---Edgardo. Kalian tahu, di sekolah dia selalu mendapat pujian dari guru-guru bidang studi. Dia anak yang pintar. Aktif dalam menjawab pertanyaan seputar pelajaran," ucap ayah, bangga.

"Kau beruntung punya anak seperti dia, Fran. Barangkali dia bisa menggantikan posisimu sebagai kepala dinas atau jadi ketua dewan pengurus partai kita," puji salah satu teman separtai Fran.

"Untuk itulah aku selalu menekan padanya untuk belajar giat dan jikalau dia sudah menyelesaikan sekolahnya, dia akan kukuliahkan di luar negeri di fakultas hukum." Ayah menepuk pundakku sambil menatap penuh keyakinan padaku.

Mendengar apa yang dikatakan ayahku tentu senangnya bukan main. Aku selalu berdoa pada Tuhan semoga ayahku sehat walafiat. Agar cita-cita itu dapat terwujud di masa depan. Agar aku bisa meneruskan posisi ayahku sebagai kepala dinas dan ketua dewan pengurus partai.

Tapi siapa bisa menebak bagaimana alur hidup ini ke depannya? Semua terjadi begitu cepat. Secepat mengedipkan kelopak mata. Suatu hari, aku, adikku dan ibuku  melihat dua orang berpakaian polisi mendatangi rumah kami.

"Selamat malam, Nyonya Fran, kami dari komisioner pemberantasan korupsi dan kepolisian diperintahkan untuk membawa suami Anda ke kantor polisi. Suami Ibu terlibat dalam kasus korupsi pajak bumi bangunan sebesar 5 miliar rupiah." Pegawai komisioner pemberantasan korupsi dan dua polisi memasuki rumah kami, mencari keberadaan ayahku di sana. 

Mereka bertiga telah menemukan ruangan pribadi ayahku. Tetapi ketika diketuk beberapa kali, mereka tidak mendengar suara apapun dari dalam. Dalam hati aku begitu khawatir terjadi sesuatu dengan ayah. Ibu cepat-cepat menyuruhku membawa kunci cadangan dari kamarnya, membuka ruangan pribadi ayah.

Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin. Kakiku bergetar. Kedua bola mataku melebar dengan sendiri. Menyaksikan pemandangan mengerikan ini cukup menurunkan tensi keberanianku. Kami menyaksikan ayah dalam posisi duduk bersandar meregang nyawa dengan mulut berbuih. 

Di tangan sebelah kiri memegang sebuah botol kecil yang menjadi jalannya untuk mengakhiri hidup di dunia ini. Sementara ibu dan adikku masih meratap pilu, aku berjalan perlahan-lahan bersama dengan ketiganya menuju meja kerja ayah. Aku melirik secari kertas yang bertuliskan'untuk Edgardo' di meja kerja ayahku. Aku meraih kertas itu lalu membaca tulisan yang tercetak di atas surat wasiat.

Nak, tolong jaga baik-baik ibu dan adikmu ya. Ayah mau pergi.

tertanda,

Ayahmu---Fran.

Aku menggeleng tak percaya dengan apa yang dituliskan ayahku. Benarkah ini ditulis oleh ayahku? Kalau memang benar ini tulisan ayahku, apa, apa yang mendasarinya melakukan tindakan sebodoh ini. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6