Mohon tunggu...
Arlini
Arlini Mohon Tunggu... Sebaik baik ucapan adalah dakwah, sebaik baik tulisan adalah dakwah

ibu rumah tangga bahagia, penulis lepas, blogger, pemerhati perempuan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Tradisi Bermaafan (Jangan) Merasa Trauma

12 Juni 2019   21:26 Diperbarui: 12 Juni 2019   21:32 0 3 2 Mohon Tunggu...
Tradisi Bermaafan (Jangan) Merasa Trauma
pictured by Wajibbaca.com 

Sejak kecil saya mengenal idul fitri sebagai momen bermaafan. Itu intinya, di samping adanya ibadah salat idul fitri, makan -- makan dan bagi -- bagi THR. 

Belakangan setelah lebih banyak mendapat informasi mengenai amalan idul fitri sesuai syariat, saya paham ternyata sunnahnya saat bertegur sapa di bulan syawal ucapannya adalah taqabballahu minkum minna waminkum taqqabbal ya karim.

Meski akhirnya saya mengetahui kalau bermaafan bukan tergolong ibadah sunnah yang khusus dilakukan saat idul fitri, tetap saja ucapan maaf terlontar. Sudah tradisinya demikian. Lagipula hal tersebut suatu hal yang baik.

Terkadang masih ada dari kita yang gengsi untuk saling memaafkan dengan sesama di luar idul fitri. Namun ketika idul fitri datang rasanya sayang melewatkan ritual bermaafan yang sudah mentradisi. Alhasil yang gengsi terpaksa ikutan.

Ada sebuah kisah masa lalu yang disampaikan oleh kenalan mengenai pandangan negatifnya terhadap tradisi bermaafan saat lebaran. Waktu itu dia masih kecil. 

Usai salat ied, secara berurutan sesuai usia dia dan saudara -- saudaranya bersimpuh sambil menjabat tangan ibu. Dia yang anak bungsu mendapat giliran terakhir setelah tiga abang dan dua kakaknya lebih dulu melakukan.

Dia melihat abang dan kakaknya sambil bersimpuh komat kamit mengakui kesalahan -- kesalahan yang pernah dilakukan hingga diakhiri kata maaf. Ibu membalas pula dengan kata maaf dan memaafkan.

Sebagaimana umumnya setelah ritual bermaafan mereka semua makan sajian lebaran. Hanya berselang beberapa jam setelah itu, salah satu abangnya berbicara kasar pada ibu. Dalam hati dia berpikir, "Baru saja minta maaf sudah berbuat kesalahan. Apa artinya maaf yang tadi diucapkan."

Dia pun memiliki pandangan negatif tentang ritual bermaafan. Dia anggap itu cuma basa basi, sekedar menjalankan tradisi semata. Dia tidak suka tradisi tersebut. 

Dia berkesimpulan kalau tradisi tersebut tak perlu dilestarikan jika pelaksananya tak mengerti tentang makna tradisi tersebut. Dia pun memilih tak mengikuti tradisi tersebut.

Bila pun harus mengucap maaf pada momen lebaran ya sekedarnya saja. Tidak perlu sampai mengakui berbagai kesalahan masa lalu yang akhirnya diulang kembali tak lama setelah minta maaf. Dia pun menjadi yang terbaik dalam berakhlak pada ibunya.

Sebenarnya kejadian yang dialami kenalan saya itu juga saya alami. Saya melihat sendiri seorang anak yang baru saja minta maaf pada orangtuanya saat lebaran, berbuat kesalahan lagi tak lama setelah itu. Dan minta maafnya tahun depan. Berhubung bermaafan memang tidak disyariatkan sebagai amalan khusus lebaran, saya pun memilih prilaku yang sama dengan kenalan tersebut.

Meminta maaf idealnya dilakukan kapan pun ketika kita merasa bersalah pada orang lain. Dan memaafkan kapanpun saat orang lain meminta maaf atas kesalahannya pada kita.

Allah swt berfirman, "Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan perbuatan baik, serta berpisahlah dari orang-orang yang bodoh". [al-A'raf/7:199]

Rasulullah bersabda , "Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf) nya sekarang juga, sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dia aniaya untuk ditanggungkan kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra)

Baik juga bila tradisi bermaafan tetap dilestarikan saat lebaran. Namun kita tetap harus memahami apa -- apa sesungguhnya yang harus dilakukan saat lebaran sesuai syariat Islam. Lebih dari itu kita harus terus belajar memahami Islam. Agar kita dapat menjadikan Islam sebagai tuntunan kita dapat kehidupan pribadi, bermasyarakat dan bernegara.  Kenapa? Karena kita muslim.