Mohon tunggu...
Arinta Adiningtyas
Arinta Adiningtyas Mohon Tunggu... Full Time Blogger - "Sinau Tanpa Pungkasan"

Arinta Adiningtyas adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki hobi menulis. Ia tergabung dalam beberapa komunitas kepenulisan seperti Kumpulan Emak-emak Blogger dan Ibu-ibu Doyan Nulis.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Impas

10 Maret 2020   23:19 Diperbarui: 10 Maret 2020   23:22 119
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Setiap tanggal 9 Maret kita merayakan Hari Musik Nasional. Dan rasanya, aku ingin sekali melewatinya. Di tanggal itu, ingatanku tentangnya datang lebih sering dari hari lainnya.

Bayangkan! Di hari biasa saja, pikiranku selalu melayang ke tanggal 9 Maret tujuh tahun lalu. Tanggal di mana dia pergi dengan gitar kesayangannya. Bagaimana bisa aku melalui 9 Maret dengan senyum dan perasaan tenang?

"Wis to, Nduk. Mbok terima saja lamarannya Anton anaknya Pak Sugi itu. Umurmu itu makin lama makin tua. Teman-teman sebayamu sudah pada punya anak. Anak-anaknya sudah pada sekolah. Lha kamu, apa mau kayak gini terus to?" Ibu melihat ke arahku yang sedang menyiapkan perkakas untuk memasak.

"Apa kamu nggak bisa membuka hati selain buat pengamen itu?"

Aku tersentak, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Tidak biasanya ibu berbicara seperti itu. Iya sih, dulu dia adalah seorang pengamen. Tapi, sekarang dia sudah menjadi musisi yang terkenal di seantero negeri. Dia sudah menelurkan album, dan kini sedang mempromosikan albumnya di sana-sini bersama band-nya.

Ah, ibu mulai nggak asik! Dulu waktu bapak masih ada, ibu selalu membelaku. Ya, ibu selalu bilang, apapun pekerjaannya, yang penting adalah tanggung jawabnya. Tapi kenapa sekarang ibu berubah?

Ibu menyadari keterkejutanku. "Ibu malu, Nduk. Sudah berapa lelaki yang kamu tolak? Banyak yang bilang kamu kemayu, sok cantik karena menolak semua laki-laki."

"Sudah lah, Bu. Nggak usah didengerin," ucapku. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa untuk menenangkan ibu. Jika aku di posisi ibu,mungkin aku akan melakukan hal yang sama. Hanya saja, aku saat ini berada di posisi seorang gadis yang gagal move on. Atau, terlalu setia?

"Kamu enak ngomong begitu karena kamu nggak pernah keluar rumah. Lha ibu? Tiap ke warung, ke kebun, selalu saja ada yang tanya-tanya. Apalagi kemarin banyak yang lihat Pak Sugi ke rumah." Ibu tampak kesal. Beliau kemudian beranjak. "Ibu mau ke warung dulu. Bawang merahnya habis."

Tanganku masih menggenggam seikat bayam yang belum sempat kupetik, ketika suara mobil terdengar menderu di halaman rumah. Segera kuraih kerudung yang kusampirkan di belakang pintu dapur. Kupakai sebelum aku keluar untuk melihat siapa yang datang.

Ada pria berkacamata hitam duduk di belakang setir. Pandangan kami bertemu saat aku berusaha memastikan siapa pria itu. Degup jantungku agak kacau setelahnya, tetapi aku mengharuskan diriku untuk tetap terlihat santai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun