Mohon tunggu...
AyahArifTe
AyahArifTe Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Ayah

Penulis dan mantan wartawan serta seorang ayah yang ingin bermanfaat untuk orang lain.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

"Maaf Mengganggu... "

19 Desember 2021   16:34 Diperbarui: 21 Februari 2022   17:33 1570
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Image by  Arek Socha from Pixabay 

Kata-kata "maaf mengganggu" mungkin bagi Anda terasa biasa saja. Atau basa-basi. Nothing burden. Kata-kata ini biasa digunakan oleh kita bila sedang berbicara secara lisan atau pun melalui pesan singkat telepon pintar. "Maaf mengganggu, bisakah ... " Atau "Maaf bila mengganggu hari libur ... bla bla bla ... " Namanya basa-basi, ya biasa saja. 

Tapi, tidak bagi seorang mahasiswi, anak bimbingan saya. Ia merasa bahwa kata-kata tersebut bermakna harfiah. Setidaknya bagi dirinya pribadi. "Saya merasa memang telah mengganggu waktu si ibu, pak," kata Bunga (sebut saja namanya begitu). Padahal, posisi dia mengirimkan pesan singkat itu ke seseorang pejabat sebuah perusahaan itu memang ada urusan mentoring. Dia hanya sebagai perantara (liason) antara si pejabat (mentor) dengan sekelompok mahasiswa yang menjadi tim anak magang di kantor pejabat tersebut. 

"Kenapa harus ada kata 'maaf'?" tanya saya. 

"Ya, khawatir saya sudah mengganggu waktu dia, pak," tukas Bunga.

Saya pun tertawa. Duh, anak bimbingan saya ini memang anak baik banget. Begitu baiknya, sampai dia merasa khawatir telah mengganggu waktu si pejabat. Lalu saya bilang, "Kamu gak perlu minta maaf. Sudah tugas kamu sebagai perantara mengingatkan beliau. Jadi posisi kamu ada penolong antara beliau dan kelompok anak magang itu."

Akhirnya ia menceritakan bahwa kata-kata "maaf mengganggu" sudah biasa ia lakukan selama tiga tahun di kampus untuk menghubungi dosen. Astagaaaa ... pikir saya. Selama itu? "Iya, pak ... saya selalu pakai kata-kata itu, dan saya selalu berpikir bahwa saya khawatir telah mengganggu waktu dosen. Dan itu memang disarankan oleh senior-senior saya."

Oo my God! Bersikap sopan memang perlu. Tapi, kalau kemudian sikap sopan itu telah membawa dampak kita merasa bersalah, ya seharusnya tidak begitu. 

Saya pun bilang ke dia bahwa penggunaan kata-kata tersebut memang telah lama saya persoalkan. Kenapa harus minta maaf kalau memang kita dalam posisi yang benar? Kenapa harus merasa telah mengganggu, kalau memang kita minta hak kita atas waktu lawan bicara kita?

"Jadi, sebaiknya pakai kata apa, pak?" tanya Bunga. 

"Bisa pakai kata-kata yang menyenangkan atau kata yang lebih halus yang tidak perlu kita merasa bersalah dan tetap sopan."

"Contohnya?"

"Misal, 'Selamat pagi, ibu. Semoga pagi ini sedang lowong ya waktunya.' Atau 'Selamat siang, ibu ... kalau waktu ibu sudah lowong mohon pesan saya bisa dibalas ya, bu ... ', bisa pakai kata-kata itu," jawab saya.

Lalu saya tambahkan, "Hindari kata-kata 'maaf', 'mengganggu', 'sibuk'. Gunakan kata-kata yang kita harapkan dia sedang dalam posisi tersebut. Kalau kita berharap dia sedang punya waktu lowong, ya gunakan kata-kata 'waktu lowong'."

"Jadi gak apa-apa, pak, gak perlu minta maaf?" Bunga masih ragu. 

"Apa kesalahan kamu sehingga harus minta maaf?" tanya saya.

"Ya khawatir telah menggangu waktu dia ... " kilah Bunga.

"Kan dia sebagai mentor. Artinya dia sudah berkomitmen dong dengan tugas sebagai mentor. Apa pun kesibukannya. Coba bayangkan, kalau tidak ada kamu yang mengingatkan, apakah tugas atau komitmen dia sebagai mentor akan lancar jalannya? Seharusnya, bahkan sebaliknya, dia berterimakasih ke kamu," saya coba jelaskan.

Saya pun mencoba memahami perasaan dia. Selama tiga tahun dia sudah terbiasa dengan kata-kata itu, ya tidak mudah memang. Akhirnya saya tidak memaksa, tapi mencoba mengingatkan dia kata-kata motivasi "you are what you are thinking". Jadi, apa yang kita pikirkan, ya itulah yang terjadi. Bila kita berpikir kita telah mengganggu, ya kemungkinan besar kita benar-benar telah mengganggu. Begitu juga sebaliknya. 

Jadi, saya sarankan dia untuk selalu berpikir apa yang kita mau  suatu hal terjadi. Bukan sebaliknya. Kalau kita mau seseorang ada waktu luang/lowong untuk kita, ya gunakan kata-kata itu. Bukan sebaliknya. That's it!

Semoga bisa membantu anak bimbingan kesayangan saya, dan juga semoga bermanfaat untuk para pembaca di sini, aamiiin ... 

 

 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun