Arif Meftah Hidayat
Arif Meftah Hidayat pelajar/mahasiswa

dengan atau tanpa saya menulis, dunia juga tidak akan berubah

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Damai Tertampil dalam Pelukan Dua Keponakan

14 Maret 2018   17:03 Diperbarui: 14 Maret 2018   17:12 182 0 0

Ganang langsung saja menangis segera setelah bangun ketika ibunya masih sibuk memandikan Buwana. Ganang baru berumur dua bulan dan wajar ketika bangun ia menangis karena lapar. Sementara Buwana, kakaknya Ganang, umurnya belum genap dua tahun dan wajar kalau dia belum bisa mandi sendiri. Dan tangis Ganang usai segera setelah eyang putrinya menghampiri kemudian menggendongnya. Kerepotan kecil-kerepotan kecil yang hampir pasti terjadi setiap hari. Belum lagi ketika Ilham, kakak Buwana yang masih duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar minta dibelikan atau diambilkan sesuatu.

Adalah kejadian sehari-hari di rumah yang hanya bisa dirasakan secara langsung dua sampai tiga bulan sekali. Pekerjaan yang jauh di perantauan mengharuskanku tinggal jauh dari kampung halaman. Jauh dari tiga keponakan lelaki yang memiliki selisih umur tidak terlalu jauh, Ganang, Buwana, dan Ilham.

Sama sepertiku, ayah Ganang, yang juga kakak iparku, juga merantau. Jadi bisa dibayangkan betapa repot ibunya. Repot sekaligus gemas dengan tingkah polah dan pikiran alami khas anak-anak.

Rasa ingin lebih diperhatikan dan dinomorsatukan terkadang menjadi sebuah kecemburuan. Protes-protes kecil dan mungkin keributan-keributan. Kali ini tidak hanya melahirkan kerepotan dan kegemasan, tetapi juga ke-"baper" an. Semua repot dan capai sudah bisa diatasi. Namun keributan akibat keinginan untuk dinomorsatukan  yang seringkali tidak kuasa untuk membendung air mata agar tidak tertumpah di pipi.

Ganang yang semanya minta air susu ibunya, Buwana yang tetiba datang dengan tubuh kotor dan segera minta dibersihkan, juga Ilham yang tetiba minta diajari untuk mengerjakan PR. Kerepotan yang tak lagi terasa saat semuanya berkumpul. Kehangatan keluarga yang kental terasa saat setidaknya ada seorang anggota keluarga yang pulang dari perantauan.

Terasa ada beban yang baru saja dilapaskan saat semua sedang berkumpul bersama. Terasa, Ganang lebih bisa menahan diri untuk tidak menangis segera ketika ibunya sedang mengurus Buwana. Terasa, Buwana tidak merasa cemburu ketika ibunya sedang memberi minum Ganang. Dan terasa, Ilham pun bisa kapanpun minta diajari mengerjakan PR tanpa ada seorangpun yang mengganggu.

Kehangatan keluarga yang timbul dari kerepotan-kerepotan bersama. Kehangatan keluarga yang hadir karena tidak setiap saat berjumpa.

Jauh dari keluarga dan jarang bisa berkumpul bersama adalah tantangan sekaligus peluang untuk senantiasa bisa memupuk kebersamaan dan kekompakan bersama keluarga. Menjaga kepercayaan tidak hanya ditujukan kepada pasangan. Menjaga kepercayaan juga berarti menjaga dan menghidupkan harapan-harapan orang orang tersayang di pundak kita semua.

Ganang, Buwana, Ilham, dan kerabat-kerabat yang lain juga merupakan motivator dan alasan untuk melakukan pekerjaan sebaik-baiknya. Untuk bekerja sekeras dan secerdasnya. Karena terkadang tidak ada artinya ketika sudah memiliki semuanya namun keluarga dan kerabat dekat masih banyak membutuhkan bantuan.

Dan malam tiba, sifat egois khas anak hilang seketika digantikan oleh sisi humanisme paling dalam dari anak-anak. Buwana tidur di samping Ganang dan memeluknya alami dengan penuh kasih sayang. Tidak ada rasa ingin dinomor satukan. Tidak tampak perasaan ingin dimenangkan. Hanya wajah polos khas anak kecil yang tidak bisa bersandiwara.

Diamati juga kejadian tersebut oleh ibunya. Diambil handphone dan diarahkan kamera ke mereka berdua. Dikirim gambar ke suaminya.

Senyum simpul dan damai tersungging di bibirnya. Ada kata-kata yang keluar dari mulutnya,"Semoga mereka menjadi orang berbakti kepada orang tua, sholeh, dan bisa berguna untuk keluarga, agama, bangsa, dan negara"

"aamiin", jawabku bersama ibu dan bapakku.