Mohon tunggu...
@Arie
@Arie Mohon Tunggu... Orang biasa yang mau berfikir luar biasa. that

Orang biasa, yang mau berfikir luar biasa. Hobi menulis sejak remaja, sayangnya baru ketemu Kompasiana. Humanis, Humoris, Optimis. Menjalani hidup apa ada nya.@ Selalu Bersyukur . Mencintai NKRI. " Salam Satu Negeri,!!" MERDEKA,!!

Selanjutnya

Tutup

Novel

Bertemu untuk Berpisah (Eps, 54)

23 Oktober 2019   06:00 Diperbarui: 24 Oktober 2019   12:03 0 2 0 Mohon Tunggu...
Bertemu untuk Berpisah (Eps, 54)
Image : Ketika Ulay, bertemu satu menit dengan ke kasih nya, Marina- grid.id

TRUE Story : Dari Kisah, Kusujudkan Cintaku di Mesjid Sultan

Bab.XII.hal.7 # Bertemu Untuk Berpisah, Pontianak tahun 2011. ( lihat berita nya disini )
Sambil nongkrong di warung kopi, iseng ku telfon Dia.
"Salam alaikom," sapa ku pada nya.
"Kom Salam, ape di buat,?" tanya nya.
"Ana age nongrong di warung kopi Sudirman, depan PSP, dekat Matahari Mall," jawab ku sekena nya

"Haaa, Benarlah.?" Tanya nya setengah tidak percaya.
"Benar!",   jawab ku meyakinkan nya.
"Bile datang?,"
"Udah tige hari dah,!" jawab ku pula."Besok Ana balek,
Jadi camane, boleh ndak kite ketemu,?" tanya ku.
"Kame takot," jawab nya.
"Tak ape ape, asal ditempat ramai dan terbuka, kite kan bukan budak-budak age,?"  kata ku pula.
Setelah berdialogh cukup lama, aku mampu meyakinkan nya, tidak akan terjadi apa-apa, jika pun  kami bertemu.  Akhirnya kami sepakat untuk berjumpa keesokan hari nya, Jam satu siang untuk makan bersama, di Ramayana ,  jalan Imam Bonjol, daerah Kampung Kemboja.  

Malam ini aku tak bisa tidur. Ingatan ku menerawang  jauh  ke masa silam. kenangan tentang nya kembali memenuhi  benak ku. Masih jelas di pelupuk mata, ketika Ia mengenakan seragam putih biru, berjalan ke kantin, lewat di depan ku, tersenyum manis, dan sempat menyapa, ;
" Tak ke kantin ke?," Gelagapan aku menjawab,:" Eh, Oh, Anok, maseh nunggu kawan!," dengan badan gemetar, panas dingin, salah tingkah!"


Hari ini adalah hari pertemuan kami.
Sudah hampir tiga puluh tahun aku tak  bertemu dengan nya. Sejak selesai SMP, sekitar tahun sembilan belas delapan tiga.  Sudah tiga puluh tiga tahun, aku mencintai nya, sejak pertama melihat nya, sekitar tahun sembilan belas tujuh puluh delapan, ketika ia masih kelas tiga sekolah dasar, melintas di depan SD.18.
Jam sebelas siang aku sudah menyiapkan diri. Kukenakan kemeja terbaik yang kupu nya.  ku rapikan kumis dan rambut ku, yang satu dua sudah mulai memutih itu. Ku semprotkan farfum ke tubuh ku, aku merasa  segar dan percaya diri.  Ku starter sepeda motor Mio yang  di pinjamkan  sahabat ku  untuk ku gunakan selama disini.  Ketika turun dari jembatan Kapuas Satu, waktu sudah pukul  dua belas Lebih lima puluh menit.  Akhh, aku mungkin terlambat,  gumam ku. Ketika selesai memarkir sepeda motor, di areal parkir Ramayana,  handphone  ku  berdering di saku kemeja.


"Dimane?"  terdengar suara nya bertanya.
"Ana baru sampai nih, udah di tempat parkir, kite nak makan di mane,?" tanya ku.
"Di KFC jak, !" kata nya. "Oke!", jawab ku, sambil menutup Hp.

DOKPRI:
DOKPRI:
Aku segera berputar kedepan, masuk dari pintu utama yang menghadap ke jalan raya. Di sudut kanan, Terlihat gerai KFC , tepat di depan sebelah kiri bangunan Ramayana Imam bonjol . Ketika pintu ku dorong, mata ku mencari sesosok wajah, yang aku sudah tak punya gambaran seperti apa rupa nya. Pakai baju apa, bersama siapa, dan berkerudung atau tetap tanpa penutup kepala?  Memakai sedres atau celana panjang seperti biasa?Mataku tertumbuk pada sesosok wanita di sudut meja, yang sedang menunduk , memencet-mencet tombol hp nya. Dia duduk sendiri!


"Salam alaikum, "Sapa ku pada nya." lama ke nunggu,?' tanya ku lagi


Dia mengangkat muka, sejenak mata kami bertumbukan, dan tubuh ku mendadak bergetar rasa nya. Tulang ku seperti  lolos dari rangka nya.  aku hampir tak sanggup berdiri lagi. Cepat ku sambar kursi, dan ku dudukkan tubuh ku, tepat dihadapan nya. Kami hanya dibatasi meja. Rupanya rasa ini tak mampu ku tutupi. Aku masih sama seperti yang dulu, tiap kali bertemu dan melihat nya. Menggigil dan gemetar! Kurasakan badan ku panas dingin,  jantung ku berubah cepat getaran nya.  Sekitar sepuluh menit, kami tak mampu bicara. Untunglah dia cepat mengambil alih situasi, dan menggeser kursi, sambil berkata,:
“Kite nak pesan ape nih,?” ,:  Suara nya di telinga ku terdengar bak suara biola , bunyi nya.
Aku tersentak seperti baru tersadar, “ Pesan ape jak, ana ikot Ente jak,!”  kata ku tak mampu mengatur kata.
Dia hanya tersenyum tipis, dan berkata lagi,: ” Paket jak ye,?”  lanjut nya.
“ He e, !,” jawab ku
Sambil berdiri dan mengeluarkan dompet, serta meletakkan selembar seratus ribu diatas meja. Dia meninggalkan tempat, menyambar uang yang ku siapkan, dan berdiri mengantri    di depan meja pesanan.  Aku masih menunduk, meremas remas tangan,   dan menyambar selembar tissue, mengelap  muka ku, sekedar menutupi malu.

Bersambung Episode,55 ( baca disini ) ( baca dari awal ) @ Arie, 20102019, Surabaya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x