Hijau

Pentingnya Sistem Rotasi Tanaman di Lahan Pertanian

6 Maret 2018   23:52 Diperbarui: 7 Maret 2018   00:14 3450 1 3

Beberapa petani di Indonesia masih menerapkan sistem pertanaman tunggal atau monokultur. Pertanian monokultur adalah pertanian dengan menanam tanaman sejenis atau dari famili yang sama sepanjang tahun. 

Misalnya sawah ditanami padi saja, jagung saja atau kedelai saja. Dampak dari sistem monokultur ini yaitu menyebabkan ledakan populasi hama yang menyerang tanaman pertanian sepanjang tahun, berkurangnya kesuburan tanah akibat pengerasan struktur permukaan tanah, hilangnya vegetasi organisme yang bersimbiosis dengan tanaman dan kemampuan serapan air (infiltrasi) oleh tanah.

Salah satu cara mengatasi dampak-dampak tersebut yaitu dengan menerapkan jenis pola tanam rotasi tanaman. Rotasi tanaman atau pergiliran tanaman adalah penanaman dua jenis atau lebih secara bergiliran pada lahan penanaman yang sama dalam periode waktu tertentu. Jenis pola tanam ini memiliki banyak manfaat. Pada beberapa sistem budidaya tanaman organik, rotasi tanaman sangat direkomendasikan. 

Beberapa manfaat rotasi tanaman adalah mampu mengurangi intensitas serangan hama atau penyakit, meningkatkan kesuburan tanah, serta mampu membentuk ekosistem mikro yang stabil. Disamping itu, pada beberapa jenis komoditas terutama jenis sayuran mampu memenuhi permintaan pasar yang diinginkan.

Contoh sederhana dari rotasi dua jenis tanaman yang dapat diterapkan adalah dengan membudidayakan leguminosa sebagai sumber pupuk nitrogen sebelum penanaman jagung. Hal ini dikarenakan tanaman kacang-kacangan  atau leguminose akarnya mempunyai bintil-bintil berisi bakteri yang mampu menambat nitrogen udara, sehingga nitrogen tanah yang telah diserap tanaman dapat diganti. 

Contoh lainnya yaitu dengan membudidayakan umbi-umbian sebelum penanaman jagung. Dengan cara tersebut sirkulasi kehidupan organisme tanah dapat berjalan dengan sangat baik dan tanah akan menjadi semakin subur dari tahun ke tahun. Lebih dari itu hama dan penyakit juga akan berkurang.

Referensi:

Thahir, S. M., Hadmadi. 1999. Tumpang Gilir. Jakarta: Yasaguna.