Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Dari Petani, Penari, hingga Profesor Jadi Kompasianer

5 Juni 2020   23:31 Diperbarui: 6 Juni 2020   12:00 146 37 26 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dari Petani, Penari, hingga Profesor Jadi Kompasianer
Prof. Ronny Rahman Noor dari IPB dan Atase Pendidikan di Australia yang juga Kompasianer. Sumber: Kompas.com

Beberapa saat yang lalu, tepatnya dua tahun yang lalu, putri kami menceritakan tentang tulisan saya di Kompasiana tentang kehidupan Suku Tengger dijadikan salah satu referensi mata kuliah sastra seorang dosen di Universitas Negeri Malang (UM) dan sejak itu mahasiswa dari Thailand yang ikut BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) kadang ke rumah dan ke padepokan untuk sekedar tanya jawab tentang budaya Jawa khususnya tentang tari topeng gaya Malang.

Satu dua dosen di UM yang kebetulan teman kuliah dan sekarang menjadi tetangga kadang juga masih berbincang santai masalah budaya dan hasil pengamatan yang saya tulis kadang dijadikan salah satu referensi pula. Inilah yang kadang memacu semangat putri kami semakin tertarik di bidang sastra dan budaya. Cukup senang rasanya, kala tulisan saya yang bergaya wong desa ternyata menarik. Tetapi di sisi lain kadang juga kebat-kebit jika dibaca oleh mereka yang sebenarnya lebih mumpuni sebagai seorang penulis atau Kompasianer yang sebenarnya seperti padi tua yang penuh isi. Merunduk tak mengangkat kepala sedikit pun. Sehingga pada tulisan mereka pun saya tak berani komen apalagi sekedar basa-basi bahkan kadang sungkan memberi rating karena kuatir dianggap klik bait. Cukup membaca dan mencoba memahami saja. Satu dua komen dari sekian ratus tulisan para pakar ini memang kadang muncul jika tangan terasa gatal untuk menanggapi sesuatu yang perlu dikoreksi. Itu pun harus memilih kata dan kalimat yang pas supaya tidak keliru ngomong dan menggurui. Gawat.

Siapa sih para pakar ini?

Sebut saja Pak Tjiptadinata yang begitu menggebu-gebu di tahun pertama tulisannya tentang perjuangan hidupnya yang membuat para pembaca merinding. Bambang Setiawan yang kini tak aktif lagi karena sibuk dengan tugas sosialnya. Pakde Sakimun yang ahli karawitan sekalipun sebagai orang Jawa asli Blitar namun belum pernah sama sekali ke Pulau Jawa, menurut pengakuannya. Sudah tiga tahun ini saya tak bertelpon ria karena kehilangan kontak serta Beliau sudah tak aktif lagi sebagai Kompasianer. Masih ada lagi yang tak bisa saya jelaskan selain namanya seperti mereka inilah yang kadang mengoreksi tulisan saya WS Thok, Abah AJ, Pramana Hadi, Mbak Arimbi Bimosena, Mbak Aridha Prasetya, dan Mbak Yusticia Arif walau kadang tidak memberi komen.

Kompasianer dari kalangan akademisi.

Siapa yang tak kenal Mbak Suprihati, Mas Danang Dhave, Mbak Listhia H. Rahman sang ahli gizi dan penari mungil yang lincah dan gemulai, Mas Achoman (nama di medsos), Mas Sutomo Paguci, dr. Posma Siahaan, Mas Julianto seorang arkeolog serta yang paling bikin saya grogi adalah Prof. Ronny Rachman Noor seorang dosen dan salah satu guru besar di Fakultas Peternakan (Faper) di IPB. Hingga Mei 2020 ini tulisannya  mencapai 1.063  dan telah dibaca 1.881.412. Luar biasa lagi kala pertama kali menulis di Kompasiana.com saat menjabat sebagai Atase Pendidikan di Australia.  Sumber: Kompas.com

Di antara para pakar dan akdemisi di atas sebenarnya masih ratusan yang saya ketahui adalah para padi yang sedang menunduk dan bersembunyi di balik  daun padi kering yang berdiri tegak macam saya ini.  Sebut saja Mbak Gaganawi si penari ulung, Mama Syasya si penulis tentang Korea, Ariyayani si potografer dan penjelajah alam, Mbak Sari si penari dari Solo, Mas Hendra Wardhana, Mas Rahab Ganendra, Acjp Cahayahati, Felix Tani, Tiara Piladika, Robbi Gandamana, Teguh  Hariawan, Dizzman, Gong 2000,  dan....mereka inilah yang saya ingat karena kalau komen bukan karena klik bait dan pernah menyentil saya dan komen penuh humor. Paling tidak satu kali.

Menjadi Kompasianer memang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. Sedang tujuan lainnya adalah ke dua, ke tiga, dan seterusnya.... Maka bagi pendatang baru jadilah Kompasianer yang tangguh dan tahan banting. Sepi pembaca dan komen tetap saja menulis. Asal jangan lupa pekerjaan dan tugas yang lain. Lihat saja pak guru muda Mas Ozy V. Alandika, Mbak Nita, dan ...... masih banyak lagi kan....

#Sebuah catatan 9 th menulis di Kompasiana. 

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x