Mohon tunggu...
Mbah Ukik
Mbah Ukik Mohon Tunggu... Buruh - Jajah desa milang kori.

Wong desa

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Sehari Mengamati Kerawanan Kerusakan Alam di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

18 Oktober 2019   14:20 Diperbarui: 18 Oktober 2019   22:37 325
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik


Rabu, 16 Oktober 2019

Hingga jam sepuluh pagi saya masih di rumah lalu ke kebun dan ke vihara sebentar untuk mendokumentasikan ibadat yang yang diadakan setiap hari Rabu mulai jam 11 siang. 

Kali ini saya tidak mengikuti, selain menggali kearifan lokal dan ajaran kebijaksanaan menurut pandangan orang Jawa. Sekitar tiga puluh menit saya berbincang dengan sesepuh seperti Pak Wi dan Pak Tomo dan tokoh muda Jawa Sanyata, Mas Tumari.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Selesai berbincang, Pak Wi mempersilakan saya melanjutkan perjalanan ke kaldera sekitar Bantengan yang merupakan tapal batas Malang, Probolinggo, dan Lumajang. 

Tampak sisa-sisa kebakaran di tebing barat kaldera Bromo yang melahap rerumputan dan akasia hutan serta cemara dan pinus pada beberapa minggu yang lalu. Sebuah kebakaran yang hampir setiap tahun terjadi karena kelalaian dan kesembronoan manusia.

Jam dua belas siang, saya masih berada di tengah padang rumput atau savana yang kering kerontang namun masih menunjukkan keindahan bagai permadani kuning yang menghampar di kaldera selatan Bromo. 

Rasa syukur, tertulis di hati melihat kenyataan bahwa hingga pertengahan Oktober di mana mendung sudah menggelayut namun kaldera selatan masih bebas dari kebakaran.

Tiga foto di bawah ini 3 jam sebelum terbakar. | dokumentasi pribadi
Tiga foto di bawah ini 3 jam sebelum terbakar. | dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Setelah merasa puas mendokumentasikan keadaan lingkungan yang tak mengalami kerusakan selain kerawanan bencana kebakaran, jam 12,15 saya meluncur ke Ranu Pani lewat jalur yang tadi karena memang itu satu-satunya. 

Sekitar jam 12.30 saya sudah sampai di Ranu Pani yang kini keadaannya betul-betul sangat memprihatinkan. Kerusakan alam akibat ulah manusia  kini sudah nyata dan akan menimbulkan malapetaka jika tidak ditangani secara revolusioner dengan tegas. 

Selama dua jam, saya berbincang dengan beberapa masyarakat tentang keadaan alam yang memprihatinkan serta perkembangan kehidupan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat yang meningkat tajam sekitar sepuluh tahun terakhir.

dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
dokumentasi pribadi
Sampah pendaki dari Pos Ranu Pani. | dokumentasi pribadi
Sampah pendaki dari Pos Ranu Pani. | dokumentasi pribadi
Sekitar jam tiga siang, saya kembali ke Jemplang untuk berbincang dengan petugas penajaga alam di Pos Jemplang. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun