Mbah Ukik
Mbah Ukik tani

narima ing pandum

Selanjutnya

Tutup

Travel-story Pilihan

Percayalah, Tuhan Akan Mengirim Juru Selamat

17 April 2018   19:12 Diperbarui: 17 April 2018   19:27 582 13 7
Percayalah, Tuhan Akan Mengirim Juru Selamat
Perahu kami ditarik peahu penolong saat mogok di tepi Samudra Hindia. Dokpri

Kala kita akan melakukan sesuatu, maka rencana senantiasa dipersiapkan dengan matang. Agar yang akan kita kerjakan bisa dijalankan dengan baik. Demikian juga, kala akan melakukan perjalanan. Sekalipun tak terlalu jauh. Segala tetek bengek, mulai dari yang kecil sampai yang besar dan utama. Bahkan doa mohon berkat Tuhan juga kita panjatkan, agar selamat dalam perjalanan.

Namun, manusia tetaplah mahluk yang lemah dan mempunyai kekurangan. Persiapan yang seakan sudah matang ternyata adahal sepele yang terlupakan. Selain itu, di luar kemampuan manusia, ada saja hal-hal yang tak terduga terjadi menimpa kita tanpa bisa kita menolaknya. Pada saat inilah, kita sering baru menyadari betapa kita sungguh lemah dan hanya dapat berharap pertolongan dari Tuhan.

Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman kami sekeluarga kala mengalami sebuah kejadian luar biasa di mana bayangan kematian sudah di depan mata, ternyata Tuhan mengirim Juru Selamat dan kami tetap bisa menikamati indahnya hidup di dunia ini.

Terjebak lumpur kaldera. Dokpri
Terjebak lumpur kaldera. Dokpri
Ditarik Trooper. Entah siapa? Dokpri
Ditarik Trooper. Entah siapa? Dokpri
Pertengahan Januari 2011

Letusan Gunung Bromo yang terjadi di awal Oktober 2010, ternyata hingga awal 2011 belum juga mereda. Padahal, Gunung Merapi yang saat itu juga meletus sudah mulai reda dan tenang kembali. Atas bantuan dari sebuah LSM di Jogja, kami diminta mengirim 25 dos besar masker bagi warga Suku Tengger di Desa Ngadisari, Probolinggo.

Setelah berupaya minta bantuan kendaraan pada beberapa instansi maupun perusahaan swasta tak ada yang bersedia karena takut, maka kami mendapat pinjaman mobil rakitan SMK N 1, Malang. Yakni mobil SUV Esemka Digdaya 20.1

Force Majeur, tak dapat ditolak.

Mobil terjebak dalam kemacetan jalan raya adalah sesuatu yang biasa. Tetapi terjebak di tengah lautan pasir yang saat itu boleh dikatakan lautan lumpur akibat letusan Gunung Bromo adalah sesuatu yang luar biasa. Takut? Tidak! Kuatir? Tentu saja.... Berani saya katakan tidak takut, sebab selama 30menit menunggu bantuan dari Desa Ngadisari dari tempat kejadian, kami tetap bergurau lepas. Bahkan, saat saya dan Si Sulung harus menyerahkan 25 dos masker, istri dan Si Tengah, serta Si Bungsu kami tinggal sendirian di kaldera yang terus bergemuruh. Padahal jarak kami dengan kawah Bromo yang menyemburkan debu tak lebih dari 400m!

Tuhan mengutus juru selamat, lewat 6 orang Linmas utusan Lurah Desa Ngadisari, Probolinggo.

Terjebak di tengah lautan pasir dan letusan G. Bromo. Dokpri
Terjebak di tengah lautan pasir dan letusan G. Bromo. Dokpri
Linmas membantu mendorong. Dokpri
Linmas membantu mendorong. Dokpri
Pertengahan Juni 2013

Sudah beberapa kali, penulis berniat mengarungi tepian Samudra Hindia di selatan P. Jawa. Namun selalu terbentur kegiatan lain. Rencana dari Pantai Grajagan, Banyuwangi ke Pantai Ayah, Kebumen gagal akibat ada kapal pengungsi illegal dari Iran dan Afghanistasn yang tenggelam. Atau dari Pantai Ngliyep, Malang ke Pantai, Pangandaran juga gagal karena ada perahu pengungsi Iran yang dihantam pasukan Nyi Roro Kidul.

Karena selalu batal, maka pertengahan Juni 2013 kami mencoba berpetualang ke luar dari batas pantai di Pulau Sempu di Pantai Sendang Biru, Malang Selatan. Dengan menyewa perahu kecil nelayan seharga Rp 400,000,- saja, kami mencoba sensasi goyangan gelombang tahta Nyi Roro Kidul.

Setelah 40 menit menikmati alunan gelombang setinggi 2m, tiba-tiba perahu bocor. Sepuluh menit kemudian mesin mati! Takut? Ya tentu saja.... Terjebak di lautan pasir masih bisa berlari. Terjebak di tepian Lautan Hindia sungguh tak pernah kami bayangkan! Istri dan ketiga putri kami sudah habis isi perutnya. Sinyal HT dan HP naik turun.

Dokpri
Dokpri
Hampir sejam menunggu bantuan di tengah tarian gelombang yang berjoged bersama ikan-ikan pari dan lumba-lumba yang tampak, Tuhan mengirim seorang nelayan. Lalu dengan tali plastik, nelayan tersebut melemparkan tali bagaikan melempar laso untuk menangkap kuda. Kami pun diseret dibawa ke tepi pantai. Kami pun selamat. Dan, tak lebih dari 10 menit setelah melepaskan rasa takut, kami sekeluarga kembali bersedau gurau. Tuhan kembali mengirim juru selamat.

Pertengahan Juli 2014

Kali ini, perjalanan kami sebenarnya tidak terlalu jauh. Tetap di sekitar Gunung Bromo. Bukan untuk bersenang-senang selain hanya untuk melepas kejenuhan menghadapi tugas harian. Niatnya hanya untuk menemui kerabat. Biasanya kami naik sepeda motor. Entah mengapa kok berubah pikiran naik sedan lawas yang telah berumur 12 tahun. Baru berjalan sekitar 30km, mendadak radiator bocor. Padahal saat itu berada di pinggiran hutan di Penanjakan. Untunglah kami membawa HT, lalu lewat komunitas K.U ( Kamling Udara ) kami mohon bantuan untuk dibawakan sebotol air.

Gayung bersambut, seorang Komandan Korem di Nongkojajar, Pasuruan segera menanggapi. Lewat HT pula, rekan kami dari Desa Wonorejo langsung mengirim air yang kami perlukan.

Sekali lagi, lewat kasih sesama yang tak pernah memandang siapa kami, Tuhan telah menolong dan menyelamatkan kami.

Tiga kisah di atas, hanya sebagian dari pengalaman kami yang senang berpetualang di alam. Kejadian mogok di Grojogan Sewu, Gunung Lawu atau terjebak di gelapnya hujan malam di pinggiran hutan Pantai Ngrenehan, Jogja. Juga penulis pernah dilempar gelombang ke tepi pantai saat bergaya di Pantai Ngliyep.

Boleh jadi semua terjadi karena kesalahan kami. Tetapi Tuhan, Allah Sang Maha Kasih tetap menyelamatkan kami. Kami percaya dan yakin bahwa pembaca sekelurga pernah ditolong dan diselamatkan Tuhan lewat kasih sesama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2