Ardi Winangun
Ardi Winangun lainnya

Kabarkan Kepada Seluruh Dunia

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Pergulatan Pemikiran

6 Agustus 2018   12:09 Diperbarui: 6 Agustus 2018   12:30 486 0 0

Di tahun 1970-an, cendekiawan muda Muslim, Nurcholish Madjid, dalam sebuah acara halalbihalal organisasi muda Islam yakni Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam, dan Pelajar Islam Indonesia menyampaikan sebuah pidato yang isinya mengundang perdebatan yang sangat panas saat itu hingga saat ini. Dalam pidato, pria asal Jombang, Jawa Timur, itu mengatakan, "Islam Yes, Partai Islam No!".

Apa yang diungkapkan tersebut pastinya menimbulkan perdebatan yang sengit antara pihak yang pro dan kontra. Dalam pidato, Nurcholish Madjid menawarkan gagasan baru mengenai hubungan antara Islam dan negara. Sebab saat itu belum ada media sosial seperti facebook, twitter, dan media massa yang massif seperti saat ini, membuat perdebatan yang terjadi hanya pada kalangan kampus, tokoh ormas Islam, dan politisi. Pasti pidato itu menimbulkan keresahan bagi yang tidak suka dengan ungkapan Ketua Umum PBHMI dua periode itu namun keresahan yang terjadi tidak menimbulkan kekhawatiran dan ancaman sosial. Mungkin ada bully dan caci maki namun sebatas bisik-bisik atau di ruangan diskusi.

Pada tahun 1990-an, lagi-lagi alumni Pondok Modern Gontor itu melontarkan ungkapan yang menimbulkan reaksi yang keras di masyarakat, Dalam ungkapan kali ini, pria yang akrab dipanggil Cak Nur itu menerjemahkan laa ilaaha illallah dengan Tiada Tuhan Selain Tuhan. Terjemahan yang demikian menimbulkan keterkejutan pada ummat Islam terutama di kalangan kampus dan aktivis masjid kampus. Ummat Islam yang mengartikan kalimat tauhid Tiada Tuhan Selain Allah itu bertanya-tanya apa maksud pendapat Cak Nur itu. Meski Cak Nur sudah melakukan klarifkasi pada beberapa hal. Saking 'menariknya' masalah itu membuat Cak Nur ditantang debat oleh kawan-kawannya di HMI seperti Ridwan Saidi.

Berita mengenai ungkapan itu ramai tetapi bukan di media sosial tetapi di media-media Islam yang beredar. Saking jengkelnya, Nurcholish Madjid kalau jaman sekarang di-bully. Ia saat itu disebut sebagai agen Yahudi namun bully-an yang terjadi hanya pada kalangan tertentu dan tidak menyeruak ke tengah masyarakat awam sehingga tidak menimbulkan intimidasi, persekusi, atau teror kepada alumni UIN Syarif Hidayatullah itu.

Massifnya pemikiran Cak Nur yang digagas dan dilontarkan saat ceramah, diskusi, atau lewat buku pada masa itu, tahun 1970-an, 1980-an, dan 1990-an, membuat adanya sebutan terjadi Pergulatan Pemikiran (Islam). Terjadi Pergulatan Pemikiran sebab banyak cendekiawan Muslim saat itu ada yang mendukung pendapat Cak Nur, ada pula yang menentangnya. Sebab hal demikian terjadi di lingkup cendekiawan Muslim dan kalangan aktivis muda Islam terutama HMI, maka perdebatan yang terjadi dilakukan secara teologis dan sosiologis dengan menggunakan rujukan, dasar-dasar, dan dalil-dalil yang ada.

Kalau merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa, Edisi Keempat, Departemen Pendidikan Nasional, pergulatan diambil dari kata gu.lat. Arti dari gulat adalah n olahraga bela-diri dng cara merangkul dan menjatukan lawan atau mengimpitnya. Bila mendapat awal per dan akhiran an (per. gu.lat. an) maka artinya n1 pergumulan; 2ki perjuangan; usaha yg keras. Dengan demikian Pergulatan Pemikiran mempunyai arti pergumulan atau perjuangan yang kuat untuk mempertahankan gagasan atau pikiran serta membantah gagasan atau pikiran yang lain.

Ketika media sosial seperti facebook dan twitter kali pertama diluncurkan, status yang diunggah para pengguna sebatas menanyakan kabar teman. Dalam perjalanan waktu, media sosial ini digunakan menjadi alat kepentingan politik. Berawal ketika terjadi Pemilu Presiden Amerika Serikat Tahun 2008. Di mana dengan menggunakan media social membuat Barack Obama mampu menjadi Presiden ke-44 Amerika.

Apa yang terjadi di negeri Paman Sam itu menular di Indonesia. Berawal menjelang Pilkada Jakarta Tahun 2017, facebook dan twitter juga digunakan untuk mendukung salah satu pasangan calon. Menggunakan media sosial ini untuk berkampanye dirasa lebih efektif, gratis lagi.

Masalahnya status yang ada di media sosial yang popular di masyarakat itu, sejak Pilkada Jakarta hingga saat ini, status yang ada sudah menimbulkan keresahan di masyarakat. Menyinggung suku, agama, dan ras menjadi kebiasaan. Emosi pendukung salah satu pasangan Pilkada dan kelak Pilpres membuat pengguna saling caci maki, memfitnah, bahkan menyebar berita bohong. Pelaku tidak hanya masyarakat awam yang tingkat pendidikannya rendah namun juga para professor.

Kalau kita amati, mereka yang menggunakan media sosial untuk mendukung salah satu calon dalam Pilkada maupun kelak pasangan saat Pilpres 2019, sebenarnya juga melakukan Pergulatan Pemikiran. Contoh, bila kita simak dalam unggahan di media sosial menjelang lebaran, soal jalan tol, pendukung Joko Widodo menyebut masyarakat bisa lancar mudik karena jalan tol yang dibangun Presiden Joko Widodo. Namun hal demikian dibantah oleh oposan bahwa banyak ruas jalan tol dibangun Presiden Soeharto hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Oposan menyebut pendukung pria asal Solo itu tak paham.

Dalam melakukan Pergulatan Pemikiran, ada yang menggunakan data dan fakta, ada pula lewat meme. Mereka bergumul dengan perjuangan keras untuk mempertahankan unggahan dan membantah unggahan yang lain. Sayang dalam Pergulatan Pemikiran kali ini dibumbui caci maki, intimidasi, persekusi, dan teror yang sangat mengkhawatirkan.