Birokrasi Pilihan

Haruskah Meningkatkan Produksi Minyak Goreng Nasional dengan Deforestasi?

17 Mei 2018   01:35 Diperbarui: 25 Mei 2018   00:33 356 0 0
Haruskah Meningkatkan Produksi Minyak Goreng Nasional dengan Deforestasi?
seriouseats.com

Maraknya kegiatan deforestasi di hutan tropis Indonesia perlu mendapatkan perhatian khusus. Jika tidak, maka label Indonesia sebagai paru-paru dunia terancam hanya akan tinggal julukan saja. 

Indonesia memanglah negara yang memiliki hutan yang sangat luas. Angka sebesar 93,6 hektar (Data statistik BPS, 2018) menjadi saksi bahwa Indonesia memiliki dataran hijau yang cukup untuk menyuplai oksigen dunia sekaligus menjadi rumah ribuan flora dan fauna. 

Namun hal itu rawan menjadi data statistik saja, lantaran tidak kuasanya Pemerintah Indonesia untuk mempertahankan dan tetap menghijaukan hutan tropis Indonesia.

Masuknya para Inventor asing ke Indonesia untuk mendirikan perusahaan baru dengan cara membumi hanguskan hutan milik negara tentu bukan perkara yang baik. Karena tidak adanya hutan berarti memberikan dampak buruk terhadap lingkungan seperti menambah polusi udara, menaikkan temperatur bumi, dan menambah limbah pabrik yang sangat berbahaya. 

Tak hanya itu juga, ribuan flora dan fauna dengan segala keelokannya akan mati dan punah akibat hilangnya hunian lagi bagi mereka. Sehingga kebijakan pemerintah untuk membiarkan hutan yang lebat menjadi santapan produksi bagi para pelaku industri tentu bukanlah kebijakan yang tepat.

Salah satu Industri yang kerap kali menggunduli hutan adalah industri kertas dan kelapa sawit. Tidak dipungkiri lagi bahwa kelapa sawit merupakan bahan mentah serbaguna untuk diambil baik minyak, sabut, dan batok untuk berbagai keperluan. 

Salah satu produk yang masih membutuhkan bahan mentah dari kelapa sawit adalah minyak goreng, pelumas, mentega, pomade, handbody dan masih banyak lagi. 

Sementara produk yang dihasilkan oleh industri kertas adalah pulp, kertas, papan, dan produk berbasis selulosa lainnya. Keduanya memang industri yang penting dalam pembuatan produk nasional demi menggenjot ekonomi negara, Namun terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan terutama bagi pelaku industri kelapa sawit.

Disini penulis menekankan kepada penggunaan minyak goreng yang semakin meningkat setiap tahunnya. Data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik pada tahun 2013 Konsumsi minyak goreng perkapita adalah sebesar 0,197 liter, pada tahun 2014 sebanyak 0,205 liter, pada tahun 2015 sebanyak 0,223 liter, pada tahun 2016 sebanyak 0,230 liter, dan pada tahun 2017 sebanyak 0,221 liter. 

Dari statistik tersebut dapat dihitung bahwa penggunaan minyak goreng perkapita hampir mengalami kenaikan setiap tahunnya sebesar 0,005 liter. 

Sehingga penggunaan minyak goreng untuk kebutuhan pangan nasional harus lebih diperhatikan karena mengalami kenaikan setiap tahunnya. 

Namun, hal itu harus diimbangi dengan produksi kelapa sawit yang tinggi karena penyumbang terbesar dari minyak goreng adalah dari kelapa sawit (8 Juta Ton pada tahun 2016). 

Sementara cara yang harus dilakukan untuk mendongkrak produki kelapa sawit adalah dengan menambah hutan untuk diubah menjadi lahan perkebunan kelapa, karena dari segi teknologi rekayasa kelapa sawit masih belum mampu mempercepat munculnya buah kelapa.

Keberadaan hutan topis yang merupakan ciri khas dari Indonesia semakin terancam setiap tahunnya. Banyaknya kebutuhan minyak kelapa sawit mengundang investor baik lokal maupun internasional untuk ikut andil dalam menyumbang saham ataupun membangun perusahaan kelapa sawit. 

Jika kita menilik dari data statistik dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), nilai luas perkebunan kelapa sawit meningkat setiap tahunnya dari tahun 1980 hingga 2016. Jika menilik 7 tahun terakhir, pada tahun 2010 luas perkebuan kelapa Indonesia sebesar 8 Juta Hektar dan untuk tahun 2016 sebesar 12 Juta hektar. 

Ini artinya nilai kenaikan rata-rata luas perkebunan kelapa sawit Indonesia adalah dalam 7 tahun terakhir adalah 0,67 Juta Hektar setiap tahunnya. Hal ini tentu menjadi sinyal merah bagi hutan Indonesia lantaran banyaknya peristiwa deforestasi dari hutan tropis menuju perkebunan kelapa sawit demi mendongkrak produksi minyak sawit nusantara. 

Akankah Hutan Tropis Indonesia menyusut setiap tahunnya? Dimakanah rumah dari ribuan flora dan fauna khas Indonesia selanjutnya? Apakah negara ini siap menyulap Hutan Tropis menjadi perkebunan sawit hanya untuk uang semata? Berikut solusinya.

Minyak larva kumbang mealworm

ilgiornale.it/
ilgiornale.it/

Dilihat dari segi klasifikasi, Larva kumbang mealworm ini termasuk divisi Artrophoda, kelas Insecta atau serangga, Ordo Coleoptera, familily Tenebrionidae, genus Tenebrio, dan memiliki nama spesies Tenebrio molitor.

Larva ini memiliki 4 tahap kehidupan layaknya serangga holometabolic lainnya, yaitu : telur, larva, pupa, dan dewasa. Hal unik terjadi pada ukuran dewasa dengan panjang 1,25-1,8 cm sementara pada larva mencapai 2,5 cm. Sehingga dengan ukuran yang cukup besar ini, larva kumbang sangat mudah untuk ditangani, dipelihara, dan digunakan untuk sampel penelitian. 

Selama pada tahap larva, larva mealworm memakan vegetasi dan serangga yang telah mati. Ulat ini juga mengalami molts berkala. Fenomena ini terjadi pada setiap larva atau instar (rupa) yang termasuk dalam tahap perkembangan arthropoda seperti serangga. 

Mealworm mengalami 9-20 instar dimana yang terakhir akan membentuk pupa. Pupa ini berwarna putih dan berubah menjadi coklat seiring berjalannya waktu. Setelah berpuasa selama sekitar 30 hari, mealworm akan berubah menjadi kumbang dewasa.

Penitian lebih lanjut, larva ini ternyata dapat digunakan sebagai minyak alternatif kelapa sawit. Salah satu hasil penelitian dari larva kumbang mealworm yang merupakan produk inovasi Mahasiswa Universitas Brawijaya telah diajukan pada Thought For Food Challenge (TFF) 2016 mewakili negara Indonesia di Swiss. 

Mereka menamakan Produk tersebut dengan "Biteback" yang merupakan hasil olahan larva serangga dengan harga lebih murah daripada kelapa sawit. Tidak hanya itu, kandungan nutrisi Biteback jauh lebih tinggi daripada minyak kelapa sawit mencakup zat besi, Omega-3, dan Omega-6.

Ditinjau dari segi daur hidup dan hasil minyak, mealworm membutuhkan masa pertumbuhan selama 30 hari dengan kalkulasi setiap 31 ton larva menghasilkan 6,51 ton atau 21% dari massa awal. 

Hasil ini tidak jauh berbeda dengan konsumsi minyak goreng nasional yang sebesar  8 ton tahun pada tahun 2016 sehingga bahan larva ini sangat berpotensi menjadi pengganti kelapa sawit.

Minyak Biji Canola

thebubble.com
thebubble.com

Bunga yang memiliki nama latin Brassica napus ini merupakan anggota divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Capparales, famili Brassicaceae, dan genus Brassica. Spesies ini memang dikenal sebagai kelompok tumbuhan yang menyuplai minyak di penjuru dunia. 

Canola merupakan hasil persilangan antara Brassica rapa dan Brassica Oleracea secara alami. B. napus dapat mencapai tinggi hingga 2,5 m yang dilengkapi dengan cabang yang banyak. 

Tanaman ini memiliki akar tunggang serta bersifat elastis terhadap ruang, dimana jika tumbuh sendirian maka akan memperbanyak cabang secara otomatis. 

Para ilmuwan telah membagi B. napus menjadi 3 kelompok, yakni kelompok Napobrassica, Napus (pakan ternak), dan Oleifera. Jenis yang terakhir itulah yang akan diproses untuk diambil minyaknya menjadi minyak goreng siap pakai. 

Cerita mengatakan pada akhir 1960-an, pemulia di Kanada menemukan mutan rapa dari ras ‘Bronowski’ yang mengandung 0% asam erukat praktis. Beberapa tahun kemudian dibuat kultivar dengan kadar asam erukat dan glukosinolat yang rendah sehingga rasa pahitnya menjadi hilang. Sejak saat itulah B. napus dikenal sebagai tanaman sumber minyak dengan jenis asam lemak tak jenuh yang sangat tinggi.

Minyak canola merupakan bahan alternatif kedua pengganti minyak sawit yang berasal dari biji bunga canola. Keunggulan minyak canola adalah lebih sehat daripada minyak kelapa sawit karena memiliki kandungan lemak yang rendah dan kaya kandungan vitamin E yang berfungsi untuk menjaga regenerasi kulit. 

Selain itu, minyak ini dapat menjaga kadar glukosa dalam darah sehingga sangat cocok bagi penderita penyakit diabetes. 

Pembuatan minyak ini juga lumayan mudah, yakni dengan menghancurkan biji canola hingga halus kemudian mengekstraknya untuk menghasilkan 45% kandungan minyak. 

Keunggulan lainnya dari minyak ini adalah memiliki cita rasa yang ringan karena mengandung asam lemak tak jenuh tunggal. 

Sehingga dari sifat inilah minyak canola cocok digunakan untuk menumis atau teknik penggorengan frying-pan.

Minyak Jagung

imagelon.co.uk
imagelon.co.uk

Jagung merupakan kingdom plantae yang berordo Polaes, famili Poaceae, genus Zea dan bernama ilmiah Zea mays. Dilihat melalui genetiknya, jagung memiliki 10 kromosom, sehingga pada setiap sel somatik jagung terdapat 20 kromosom. 

Banyak para ahli yang menyatakan bahwa jumlah keberagaman molekuler jagung sebanding dengan manusia dan simpanse. 

Keberagaman ini tercermin dari jumlah total bijinya yang berjumlah 9 kultivar, yaitu Tunicata (jagung bersisik), Identata (jagung giig-kuda), Amylacea (jagung yang biasa digunakan untuk membuat tepung), Jagung QPM (Quality Protein Maize), Everta (Jagung yang biasa digunakan untuk berondong), Saccharata (Jagung manis), Jagung HO (High Oil), Glutinosa (jagung ketan), dan terakhir Indurata (Jagung mutiara). 

Keberagaman itu berfungsi pada masing-masing karakteristik yang menonjol pada jagung, misalnya pada jagung QPM digunakan untuk diambil protein nabatinya. 

Sementara jika menilik pada pembuatan kultivar jagung, terdapat 4 jenis yaitu galur murni (merupakan hasil seleksi terbaik galur terpilih), kultivar komposit (campuran beberapa populasi yang diseleksi), kultivar sintetik (gabungan dari benih jagung yang memiliki keunggulan umum), dan kultivar hibrida (keturunan langsung dari persilanagan 2,3, atau 4 galur yang menyebabkan heterosis).

Pembuatan minyak jagung juga tidak susah, yakni dengan merendam selama satu atau dua hari, kemudian digiling secara kasar hingga bakal buahnya lepas, terakhir dipres menggunakan mesin mekanik untuk mendapatkan minyaknya. 

Kandungan dalam minyak ini bervariasi, mulai dari 99% triasilgliserol, asam lemak tak jenuh ganda 59%, asam lemak tak jenuh tunggal 24%, dan asam lemak jenuh 13%. Hal yang menarik, minyak jagung tidak dapat berasa "tengik" dalam waktu yang cukup lama karena mengandung gamma-tokoferol dan alfatokoferol yang tinggi.

Ditinjau dari segi suhu, minyak ini mulai menguap atau mengeluarkan asap pada suhu 204-213oC sehingga dapat digunakan untuk memasak berbagai makanan. 

Manfaat yang didapatkan dari mengkonsumsi minyak ini adalah terjaganya kesehatan kulit karena mengandung asam linoleat, kebal terhadap penyakit ginjal dan pencernaan karena mengandung Icosanoid, dan terjaganya kolestrol dalam darah.

Melalui uraian-uraian diatas, kita tentu berfikir kembali terkait deforestasi terhadap hutan tropis menjadi perkebunan sawit demi memenuhi pasokan minyak goreng yang tinggi. 

Padahal minyak goreng tidak hanya didapatkan dari minyak sawit saja, tapi juga larva kumbang, jagung, dan biji bunga canola yang bahkan lebih unggul daripada minyak sawit baik dari segi manfaat maupun kandungannya. 

Kebijakan pemerintah untuk melepaskan hutan tropis dengan harga yang murah kepada pihak asing pun kini harus direka ulang demi tetap terjaganya rumah bagi flora dan fauna khas Indonesia. 

Selain itu, berkurangnya hutan tropis berdampak terhadap meningkatnya kandungan CO dan CO2 serta bertambah panasnya temperatur bumi. Sehingga dengan segala pertimbangan yang telah disebutkan praktik deforestasi demi meningkatnya produksi minyak goreng perlu dikaji ulang agar tidak merusak hutan Indonesia.

Salam Penulis Muda,

Ardhi Kamal Haq

Referensi: