Mohon tunggu...
Arako
Arako Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

Best in citizen journalism K-Award 2019 • Pekerja Teks Komersial • Pawang kucing profesional di kucingdomestik.com

Selanjutnya

Tutup

Hobby Artikel Utama

Mengenal Fujoshi dan Fenomena di Baliknya

21 Januari 2019   10:21 Diperbarui: 23 April 2021   17:03 8916
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Unsur Boys Love dalam komik Chibi Maruko Chan * dok.pri

Ada yang pernah iseng memperhatikan foto profil akun kompasiana saya? Kaos abu-abu yang saya kenakan bertuliskan "I'm Fujoshi". Nah, hari Minggu (20/1) kemarin, dunia per-fujoshi-an Indonesia mendadak "gempar". Penyebabnya adalah tayangan berita di Net TV yang membahas fenomena fujoshi di Indonesia. 

Sayangnya, liputan berdurasi dua menit dua puluh detik tersebut benar-benar hanya mengulas kulit ari saja. Orang-orang yang belum mengerti apa dan bagaimana dunia fujoshi kemungkinan besar akan langsung terteror atau paranoid kalau melihat tayangan tersebut. 

Sebagai orang yang sudah memasuki usia 10 tahun menjadi fujoshi, saya merasa terpanggil untuk berbagi dengan ulasan yang mungkin lebih dalam. Tulisan yang saya buat ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggurui, hanya mencoba memberi sudut pandang lain dari kacamata seorang fujoshi. Sisanya, saya kembalikan lagi pada pribadi masing-masing dalam menyikapinya.

Apa itu Fujoshi?

Fujoshi adalah istilah yang berasal dari bahasa Jepang yang secara harafiah berarti "Perempuan Busuk". Pada praktiknya, istilah ini merupakan sebutan untuk perempuan yang menggemari manga (komik Jepang) bergenre Boys Love atau mengisahkan percintaan antara laki-laki dengan laki-laki (Gampangnya homo-homoan). 

Jika di Indonesia konten LGBT dianggap tabu, tidak demikian di negara asalnya. Genre ini memiliki penggemar dan pasar tersendiri. Tidak sedikit pula toko buku yang menyediakan space khusus untuk genre Boys Love. 

display komik Boys Love di Toko Buku Jepang | wikimedia.org
display komik Boys Love di Toko Buku Jepang | wikimedia.org
Genre Boys Love yang beredar saat ini terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni Yaoi dan Shounen Ai. Perbedaan keduanya terletak pada tingkat kevulgaran. Jika Yaoi kerap menampilkan adegan seksual secara eksplisit, Shounen Ai tidak kentara. 

Mirip unsur bromance dalam karya-karya yang bukan Boys Love. Beberapa teman normal (baca : bukan fujoshi) yang pernah saya minta membaca komik Shounen Ai mengaku tidak melihat keanehan karena cuma bernafaskan persahabatan atau persaudaraan biasa. 

Tayangan Net.TV tentang Fujoshi | dok.pri
Tayangan Net.TV tentang Fujoshi | dok.pri
Ada kekeliruan dalam tayangan Net TV yang saya dokumentasikan ini, yakni dalam kalimat "konten Fujoshi di medsos semakin vulgar". Perlu diluruskan, bahwa Fujoshi adalah penikmat (penggemar) dan bukanlah sebuah konten. Jika yang dimaksud adalah konten, maka istilah yang dipakai seharusnya adalah produk-produk Boys Love (termasuk Yaoi & Shounen Ai). 

Semula Fujoshi hanya merujuk pada penggemar konten berwujud manga, belakangan mulai meluas ke anime, doujinshi (manga independen, buatan sendiri), fanfiction, film, novel, cerpen, atau apapun yang pokoknya berunsur Boys Love.

Fujoshi juga bukan sebuah fenomena baru. Istilah ini sudah dipakai sejak awal 2000-an meski manga yaoi pertama diterbitkan jauh sebelumnya,yakni sekitar tahun 1970-an. Mudahnya akses informasi membuat budaya ini dengan mudah tersebar ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun