Mohon tunggu...
Ajeng Arainikasih
Ajeng Arainikasih Mohon Tunggu... Sejarawan - Scholar | Museum Expert | World Traveller

Blogger - Writer - Podcaster www.museumtravelogue.com www.ajengarainikasih.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Orang Indo, Orang Maluku, dan Kisah Mereka di Museum Belanda

3 Juni 2020   16:45 Diperbarui: 3 Juni 2020   22:09 897
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Salah satu sudut display di Dutch Resistance Museum mengenai pendudukan Jepang di Indonesia | dokpri

Ketika pertama kali saya pindah ke Belanda, saya cukup shock dengan kuliner Indonesia di Belanda. Bukan hanya banyak tersebar rumah makan Indonesia, tapi makanannya memang ala Indonesia!

Setiap malam saya bebas memilih mau delivery (atau take away) makanan apa: soto, sate, rendang, tumis buncis, atau lontong dan opor ayam? 

Di supermarket Belanda (bahkan yang bukan Chinese supermarket) segala jenis sambal dan kerupuk juga ada. Mau beli bihun, nasi goreng, bumbu sate atau bumbu babi kecap, ada semua! Bahkan Chinese food di Belanda rasanya sama dengan Chinese food yang biasa saya makan di Indonesia. 

Teman saya yang betul-betul berasal dari Cina bahkan tidak mengenali menu-menu di Chinese restaurant. Saya jadi membandingkan, dahulu, ketika saya tinggal di Australia, makanan Indonesianya tidak seperti di Belanda. Padahal secara geografis Indonesia dan Australia lebih dekat letaknya daripada Belanda. 

Pertanyaan saya terjawab ketika saya berkunjung ke museum-museum di Belanda dan membaca banyak tulisan mengenai postcolonial immigrant di Belanda. Ternyata, ada bagian dari sejarah yang rasanya tidak pernah saya pelajari di Indonesia. 

Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda di akhir tahun 1949 menyebabkan hubungan politik antara Indonesia-Belanda memburuk. Perusahaan-perusahaan Belanda dinasionalisasi. 

Hal tersebut menyebabkan orang-orang yang diasosiasikan dengan Belanda menjadi "tidak diinginkan" untuk berada di Indonesia. Efeknya, antara tahun 1950-1963, ada sekitar 200.000 - 300.000 orang Indo-Eropa (Indisch) dan 7.000 Peranakan Cina-Indonesia yang "dipulangkan" ke Belanda sebagai postcolonial immigrant.

Di Belanda mereka disebut dengan "repatriates" padahal, sebagian besar dari mereka belum pernah ke Belanda sebelumnya. Namun, di Belanda mereka juga "ditekan". Mereka "dipaksa" untuk beradaptasi dan "dididik" untuk betul-betul menjadi orang Belanda, serta melupakan identitas ke-Indonesia-an mereka. Mereka menjadi silent generation. 

Memori dan kisah buruk mereka saat mengalami Perang Dunia II di bawah pendudukan Jepang di Indonesia serta peristiwa Revolusi tahun 1945-1949 "dibungkam" dan tidak didengar, hanya disimpan menjadi "rahasia keluarga". Namun, ternyata selera makanan tidak bisa diubah ya. 

Sejak tahun 1990-an situasi politik di Belanda berubah. Pemerintah Belanda mulai terbuka untuk mendengarkan sejarah dari berbagai versi mengenai komunitas yang berbeda. Mereka juga sudah mulai terbuka terhadap sejarah kelam mereka sendiri. 

Kini, generasi anak-cucu para postcolonial immigrant menjadikan identitas Indisch sebagai gaya hidup tersendiri. Bahkan, Indisch culinary (seperti yang saya ceritakan di atas) sudah dinobatkan menjadi warisan intangible Belanda.    

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun