Keamanan Pilihan

Mimpi Negara Islam dalam Jejak Terorisme di Indonesia

17 Mei 2018   15:42 Diperbarui: 17 Mei 2018   16:25 363 1 0

Menyoal wajah Islam Indonesia memang tidak ada habisnya-sangat beragam-dari dulu hingga kini selalu ada orang yang mengedepankan jalan moderat dan demokratis, seperti Natsir. Tapi ada pula-karena kekecewaan-menyokong radikalisme dan kekerasan: ia adalah Kartosoewirjo, penggagas negara Islam sekaligus cikal-bakal aksi terorisme yang terjadi hingga sekarang. Penulis menilai, ia adalah 'Bapak' Terorisme di Indonesia.

Berawal pasca kemerdekaan, perseteruan antara ekstremis kanan "konservatif" dengan golongan nasionalis adalah catatan kelam dari sejarah yang terus bergulir hingga 20 tahun pasca reformasi. Salah satunya adalah pemberontakan Darul Islam (DI/TII) yang dipimpin oleh Kartosoewirjo. Demi cita-cita negara Islam, pemberontakannya telah ikut mewarnai sejarah pembentukan Republik Indonesia.

Hampir 6 dekade sejak kematiannya, pemikiran dan cita-cita mendirikan negara islam masih terus bergelora di kalangan sebagaian umat islam dan masih terus mengilhami berbagai kelompok-baik itu melalui jalan damai maupun jalan kekerasan. Terutama tepat 2 tahun setelah pengeboman World Trade Center-16 tahun silam-selang tragedi na'as yang menimpa Amerika Serikat, dengan cepat menjalar ke seluruh dunia termasuk Indonesia yang pada tahun 2002 rentetan tragedi berdarah atas nama ideologi dan agama mulai terbangun.

Rekam Jejak Terorisme

Bertolak belakang dari seruan Kartosoewirjo, motif dibalik pengeboman hari ini nyaris sama sekali menyimpang dari apa yang dilakoni Darul Islam saat membelot terhadap pemerintah Belanda setelah perjanjian Renville. Kekecewaan Kartosoewirjo pada perjanjian renvile semakin menguatkan arah kiblat dimana ia bersandar pada keadilan diinisiasi ketidakadilan dari hasil perjanjian tersebut yang merugikan umat muslim.

Meski pada akhirnya, pemberontakan oleh Kartosoewirjo dan DI/TII berakhir dengan pertumpahan darah, rasisme, dan tindakan anarkis terhadap golongan minoritas.

Setelah DI/TII berhasil ditumpas, teror terhadap integrasi bangsa Indonesia masih belum usai. Dijuluki "Jihad Sebatang Korek" gerakan "Komando Jihad" menjadi awal kebangkitan sekaligus awal dari kebiadaban kelompok ekstremis pada masa itu-bukan bermaksud menjelek-jelekan Islam-namun pada tataran empiris telah terjadi perpecahan di tubuh eks pentolan DI/TII.

Mulailah atas perpecahan yang terjadi, aksi-aksi terorisme dilakukan sendiri oleh eks DI/TII di pelbagai daerah. Gaos Taufik, misalnya, mengebom sejumlah hotel dan rumah sakit Kristen, merampok bank, dan membunuh sejumlah orang. Gaos adalah Komandan Perang Wilayah besar eks Darul Islam Sumatera Utara.

Komando Jihad dan Bayang-bayang Natsir 

Lain dari gerakan DI/TII yang berusaha memperjuangkan kedaulatan nasional, kini para mujahid Islam tidak ragu menjadikan warga sipil sebagai korban. menurut Rapoport kelompok teroris ini disebut gelombang keempat digerakkan ideologi revolusioner serta dorongan religius. Contoh kelompok tersebut adalah Al-Qaeda. Yang menjadi karakteristik terpenting dari kelompok gelombang keempat adalah mereka tidak ragu menjadikan warga sipil sebagai korban atau target kekerasan.

Berkaca dari tragedi pemberontakan pasca-kemerdekaan, pemikiran Islam "Moderat" juga mulai menghegemoni dan bangkit perlahan-lahan, langkahnya tidak seperti dulu, atau lebih tepatnya pendirian negara Islam melalui jalan-jalan kekerasan seperti pemberontakan dan aksi separatisme. 

Akan tetapi di akhir tahun tahun 70'an hingga di penghujung 90'an, saat dunia kapitalisme tengah dilanda kecemasan dan ketakutan menghadapi gerakan Kiri yang mengaku membela hak-hak kaum proletar dan marginal-di Indonesia tanpa sadar rekonsiliasi sosial-politik Islam mulai bangkit sejak dipukul habis-habisan oleh rezim sekuler Soekarno hingga Suharto yang melarang masyarakat mengenakan cadar dan hijab sebagai simbol umat Islam.

Seruan "Jihad Politik" yang dikumandangkan Muhammad Natsir, sang mujahid dakwah sebagai langkah perlawanan umat Islam terhadap kesewenang-wenangan Orde Baru adalah bentuk konsolidasi yang kelak menjadikan Islam dan Natsir sebagai simbol Radikalisme di masa itu setelah Kartosoewirjo di era Soekarno. Usaha Natsir dengan santun ia perlihatkan diantara dua rezim, ia berkali-kali berusaha menyangkal skeptisme Soekarno dan Soeharto yang merasa bahwa Islam tidak bisa dipersatukan dengan negara lantaran dikenal eksklusif, dan merasa paling benar sendiri.

Salah satu antitesa ditengah kejumudan umat islam bila merujuk pendapat Howard M. Federspiel maka paling tidak ada tiga hal yang menuntut perhatian umat Islam pada abad ke -20, yaitu: pertama, menjawab tantangan kebudayaan lokal nonmuslim; kedua, memegang teguh keyakinan dan amalan Islamiyah; ketiga, menyesuaikan diri dengan pikiran dan teknologi modern. ketiga hal ini menjadi pembenaran penulis bahwa tindakan Natsir selama ini hanyalah menjadikan negara sebagai alat untuk mewujudkan ajaran-ajaran Islam yang sempurna bukan sebagai tujuan.

Pemikiran Natsir tentang Islam Moderat kelak menjadi sintesis umat islam di era postmodern, lenturnya pembelaan terhadap kaum komunal atau dikenal kaum Mustad'afin adalah buah juang Natsir dimasa lalu.

Sedang gerakan-gerakan revolusioner yang diperkasai dorongan religius tidak serta merta diakibatkan ketidakpahaman umat secara kognitif sehingga mereka (Teroris) tidak segan-segan menjadikan warga sipil sebagai korban melainkan ditenggarai kekakuan linguistik, dan pemikiran konservatif yang memahami Islam terlalu Tekstual dan mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.

Pada akhirnya, apa yang menimpa golongan minoritas setelah pengeboman gereja di surabaya adalah reka ulang kebodohan yang pernah dilakukan eks DI/TII yang menjuluki diri sebagai "Komando Jihad." Alhasil, rentang tahun 1981-1985 telah terjadi aksi terorisme yang dilakukan Komando Jihad. Kemudian rentang tahun 2000 hingga 2002 telah terjadi 11 peristiwa pengeboman di Indonesia, salah satunya Bom Bali dan Bom Gereja Santa Anna.

Kemudian dari tahun 2003 hingga 2016 telah terjadi 18 peristiwa pegeboman, termasuk baku tembak di Jakarta yang dikenal "Bom Panci" serta baru-baru ini peristiwa pengeboman yang menimpa masyarakat Surabaya. Hal ini tentu dapat diyakini bahwa mereka adalah cikal bakal penerus cita-cita Kartosoewirjo untuk mendirikan negara Islam meski tidak seperti pemberontakan DI/TII, dimana aksi teror dirancang dengan sistematis, hati-hati, dan tidak merugikan warga sipil.