Mohon tunggu...
Any Sukamto
Any Sukamto Mohon Tunggu... Belajar dan belajar

Ibu rumah tangga yang berharap keberkahan hidup dalam tiap embusan napas.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Surat dari Editor Kompas.com yang Menginspirasi antara Ekonomi dan Kesehatan

23 Juli 2020   12:00 Diperbarui: 23 Juli 2020   13:02 143 11 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Surat dari Editor Kompas.com yang Menginspirasi antara Ekonomi dan Kesehatan
Gambar tangkapan layar email dari editor Kompas.com

Pertama kali menerima email dari Mas Wisnu Nugroho, editor Kompas.com, saya sangat kaget sekali. Bagaimana tidak, saya yang baru bergabung dengan Kompasiana pernah melakukan kesalahan saat awal menayangkan artikel, hingga mendapat pesan khusus dari admin Kompasiana. 

Eh, dapat lagi email dari editor Kompas.com, kesalahan apalagi yang telah saya lakukan? Pertanyaan yang langsung muncul saat membaca judulnya saja. Biasa, judul yang menarik akan selalu membuat orang ingin tahu isi cerita di dalamnya. 

Sama halnya dengan saya, buru-buru menanggapi judul sebelum membaca isi. Setelah email dibaca, ternyata nggak ada hubungannya sama sekali antara email dari Mas Wisnu Nugroho dan akun saya di Kompasiana. 

Sekali, dua kali, menerima email rasanya senang saja. Membaca rangkuman berita dari peristiwa beberapa hari terakhir. Namun, beberapa minggu lalu email sempat terhenti. Entah karena apa saya juga tidak tahu pasti. 

Kemarin lusa, ternyata saya menerima email lagi masih dari Mas Wisnu. Alhamdulillah, beliau masih sehat. Saya jadi tahu rangkuman berita sepekan sekaligus memperbarui perkembangan berita. 

Berkaitan dengan topik pilihan di Kompasiana, saya jadi punya gambaran untuk menulis setelah membaca email dari Mas Wisnu. 

Mana yang lebih utama, kesehatan atau ekonomi? 

Keduanya tidak bisa saling dilepaskan, karena harus berjalan seiring sejalan. Bagaimana mungkin ekonomi bertumbuh jika sakit. Sebaliknya, bagaimana bisa sehat kalau tidak ada dana untuk berobat? 

Gambar tangkapan layar email dari editor Kompas.com
Gambar tangkapan layar email dari editor Kompas.com
Permasalahan yang sangat sulit, ditambah dengan kadar kedisiplinan masyarakat yang masih kurang. Menganggap seolah penyakit masih jauh, sedangkan korban tiap hari berjatuhan. Belum bertindak jika penyakit belum singgah dan terinfeksi. 

Beberapa kali saya bertemu dengan warga yang menganggap virus ini hanya akal-akalan. Jika ada yang sakit lalu meninggal di rumah sakit sebelum diketahui penyakitnya, otomatis pemulasarannya menggunakan protokol covid. Kemudian pihak keluarga dikenakan biaya tinggi oleh rumah sakit. 

Bagaimana jika masyarakat banyak yang masih beranggapan demikian? Sudah tidak mau mematuhi saran dan aturan, malah mereka-reka cerita yang belum tentu kebenarannya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x