Mohon tunggu...
Anwar Yulistianto
Anwar Yulistianto Mohon Tunggu... Karyawan Swasta -

Aku adalah sebuah titik... Tidak akan pergi menjauh ketika mereka datang mendekat Tidak akah lari mengejar ketika mereka pergi menjauh

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Emotional Bank Account Concept

22 Oktober 2015   08:56 Diperbarui: 28 Oktober 2015   11:52 341
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dasar pemikiran konsep Emotional Bank Account adalah Hukum Kekekalan Energi yakni bahwa "energi tidak pernah habis, ia hanya berubah bentuk".

Maka setiap kita diwajibkan untuk menabung kebaikan pada Emotional Bank Account kita masing-masing, yang kelak tabungan itu akan berguna kelak di kemudian hari bagi diri kita sendiri.

Mudahkanlah orang lain yang dalam kesulitan,  maka kelak Tuhanmu akan memudahkanmu dalam kesulitanmu

Konsep menabung pada Emotional Bank Account amat sederhana. Berbuatlah kebaikan sebanyak mungkin yang bisa kita lakukan untuk orang lain. Dan jangan berharap apapun dari orang tersebut. Karena sesungguhnya apa yang telah kita berikan tidaklah hilang dari keberpunyaan kita, melainkan ia berubah bentuk menjadi tabungan pada Emotional Bank Account kita. Beri kebaikan dan lupakan ! Biarkan Emotional Bank Account kita terus terisi. Dan kelak pada saat kita membutuhkan kebaikan untuk diri kita sendiri, maka Emotional Bank Account kita akan mencairkan tabungan kita. Akan kita dapatkan kebaikan seperti yang kita butuhkan.

Sebaik-baik kita adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sekitar kita.

Menabung kebaikan pada Emotional Bank Account yang paling sederhana adalah tersenyum dan menyapa pada orang lain. Namun hal tersebut menjadi tidak sederhana di kala kita harus melakukannya dengan hati dan empati, bukan sekedar basa basi. Karena kita telah terbiasa membuat klasifikasi setiap orang berdasarkan persepsi kita sendiri, bahkan tak jarang kita menghakimi.

Yang dibutuhkan untuk berempati adalah kerendahan hati. Tidak akan mampu kita melayani tanpa kerendahan hati. Padahal kita adalah hamba-hamba  (pelayan-pelayan) Tuhan. Dan di hadapan Tuhan kita adalah sama, yang membedakan di antara kita adalah banyaknya isi tabungan pada Emotional Bank Account kita.

Kebaikan yang kita berikan adalah energi yang tidak akan hilang, ia hanya berubah bentuk menjadi kebaikan-kebaikan lain di dalam Emotional Bank Account  yang akan kembali kepada kita,  suatu saat kelak saat kita membutuhkan kebaikan itu untuk diri kita sendiri.

Tersenyum dan menyapa adalah bentuk tabungan kebaikan pada Emotional Bank Account yang sederhana namun membutuhkan kebesaran jiwa dan kerendahan hati untuk berempati. Itu adalah modal dasar dari sikap melayani (Service = Self awareness-Enthusiasm-Reform-Value-Impressive-Care-Evaluation).

Dibutuhkan ketulusan dalam melayani. Ketulusan itu akan terpancar dari diri kita dan menumbuhkan rasa trust orang lain pada diri kita. Dan orang akan memperhatikan dan menilai diri kita dalam 4 hal berikut :
1. Apa yang kita lakukan
2. Bagaimana penampilan kita
3. Apa yang kita katakan
4. Bagaimana cara kita mengatakannya
Terakhir mengenai Emotional Bank Account, ia pada hakekatnya adalah virtual bank account di mana kita mempersepsikan bahwa setiap kebaikan yang kita berikan untuk orang lain maka akan tercatat sebagai tabungan pada account kita. Namun logika berpikirnya, Emitional Bank Account adalah upaya kita membangun hubungan dengan orang lain dengan dasar kepercayaan (trust). Sehingga jika orang sudah punya trust terhadap kita, ia merasa nyaman untuk berurusan tentang apapun dengan kita, tidak terkecuali tentang bisnis.

Dan dengan adanya trust tersebut, jika suatu saat kita berada di posisi sulit, maka orang lain akan senang hati membantu kita. Itulah energi kebaikan yang akan kembali kepada kita. Itulah tabungan pada Emotional Bank Account yang bisa kita cairkan saat kita membutuhkan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun