Mohon tunggu...
Anshar Saud
Anshar Saud Mohon Tunggu... dad, husband, mureed, Khudi

Pluviophile

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Prof Amiruddin di Mata Seorang Dosen Muda

5 Mei 2014   06:50 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:52 125 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Prof Amiruddin di Mata Seorang Dosen Muda
1399225614310771250

SEBAGAI mahasiswa generasi angkatan akhir tahun 90-an, tentu saya tidak memiliki kesempatan berinteraksi dengan Prof. Ahmad Amiruddin sebanyak generasi mahasiswa Unhas tahun 70-an. Generasi saya hanya mengenalnya melalui berita daerah di TVRI Makassar, koran, atau dialog-dialog di kampus, juga lewat buku-buku yang ditulis untuk beliau. Pun saya hanya sempat menyalaminya di beberapa kali acara Halal bi Halal Keluarga Besar Universitas Hasanuddin.

Hingga suatu hari di awal Maret 2009, belasan orang dari kami yang tergabung dalam Komunitas Dosen Muda Universitas Hasanuddin mendapatkan kesempatan langka. Betapa tidak, salah seorang dari kami berhasil meminta waktu sang legenda hidup - mantan rektor Unhas dan gubernur Sulsel ini untuk bertemu. Memang sejak awal berdirinya ‘paguyuban’ ini, sudah beberapa kali kami bersilaturrahmi sekaligus menggali ilmu dan kebijaksanaan beberapa senior dosen terpilih. Kali ini lebih terasa istimewa lagi, tidak main-mainkarena hari itu Prof. Amiruddin bersedia menerima kami di kediaman beliau.




[caption id="attachment_306049" align="aligncenter" width="149" caption="Prof. Ahmad Amiruddin, Ph.D (dok. Identitas)"][/caption]

Kami merasakan semangat yang membuncah begitu diterima dan menjabat tangannya yang halus itu. Kami juga melihat antusiasme sang tuan rumah dengan senyuman khas, suara serak khas, dan alat bantu dengar di teliga kirinya nampak senang menerima kami. Saya ingat, dialog di sore yang lumayan terik itu, tenggorokan menjadi segar oleh hidangan es pisang ijo dan teh manis yang disuguhkan sang nyonya rumah. Hj. Rosani dibantu beberapa pelayan. Ibu Rosani keluar menyapa singkat dan menyebutbahwa keseharian sang suami adalah tetap aktif membaca dan berselancar di dunia internet. Prof. Amiruddin dan ibu adalah tuan rumah yang ramah.

Aktifis cum birokratintelektual

Kesan saya sewaktu bertemu langsung adalah bahwa tokoh inijujur, lurus, dan menjalani hidup dengan mempertahankan prinsip dan nilai-nilai yang diyakininya. Saya sudah hampir lupa persisnya apa-apa saja yang dibicarakan, intinya satu per satu kami bergantian menanyakan dan mengkonfirmasi cerita yang kami pernah dengar dan ketahui tentang Unhas sambil menyerap kearifan hidup to panrita ini. Yang jelas kami tidak begitu lama bertamu karena mempertimbangkan kondisi fisik beliau yang tidak sebugar dahulu.

Tidak ada yang meragukan kiprahnya. Walaupun berhasil membangun kampus baru Tamalanrea, juga kompleks dosen jalan Sunu untuk dosen, menghidupkan kultur akademik dan gubernur futuristik yang berhasil dengan konsep“Tri konsepsi pembangunan” dan Sulsel sebagai gerbang KTI,beliau begitu rendah hati. Ia jauh dari kesan sebagai mantan pejabat feodal yang suka menggurui. Itu bukan kepribadiannya, justru kita mengenal beliau lebih dekat dari buku-buku yang ditulis oleh murid-murid dan mantan bawahannya. Dari buku A. Amiruddin : Nahkodadari Timur (Rudy Harahap dkk, 1999) saya mencatat bahwa beliau adalah aktifis mahasiswa di masa muda dan intelektual di masa-masa setelahnya. Menjadi ketua umum HMI cabang Bandung, berhasil menggalang demonstasi menentang dosen galak yang menyulitkan mahasiswa, ikut mendirikan Himpunan Mahasiswa Kimia dan Fisika ITB serta menjadi wakil ITB di Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia yang masa itu masih merupakan cabang UI. Kemudian menjadi doktor dalam bidang kimia nuklir dari Kentucky University Amerika pada usia 29 tahun lalu menjadi sekertaris hingga menjadi Dekan Ilmu Kimia dan Fisika ITB.

Tidak hanya itu, sebagai rektor yang terkenal ‘galak’ dan ‘keras’ di masanya, justru para aktifis mahasiswa Unhas waktu itu justru menikmati dan bangga jika dimarahi beliau. Karena itu merupakan kesempatan untuk berinteraksi langsung. Ia juga ‘memaksa’ dan aktif mencari beasiswa untuk dosen-dosen Unhas agar melanjutkan studi ke luar negeri. Ia kaya terobosan. Sejak 1 April 1975, oleh beliau gaji dosen dan karyawan Unhas dibayar melalui bank. Suatu kebijakan yang kemudian diikuti sejumlah universitas di Jawa dan kawasan timur Indonesia. Demikian beberapa kisah dalam Maha Guru di Mata Para Guru (Dahlan Abubakar, 2007).

Hari itu tergambar nyata bahwa Prof. Amiruddin adalah komunikator yang efektif. Beliau juga penghancur tembok blok-blok. Unhas yang tadinya merupakan federasi fakultas yang tersekat-sekat menjadi cair dan egaliter dengan sistem matriks yang dibangunnya. Namun seperti diceritakannya, semua kebijakannya tidak berjalan mulus. Beberapa mendapat resistensi dan penentangan dari berbagai kalangan dosen dan mahasiswa. Dengan keterbukaan, konsistensi dan komunikasi dua arah, lama kelamaan resistensi itu berhenti.

Hibahkan koleksi buku

Not all readers are leaders, but all leaders are readers” kata Harry Truman suatu waktu. Semua pemimpin itu adalah pembaca. Termasuk juga Prof. Amiruddin. Cobalah berjalan-jalan ke perpustakaan wilayah Makassar. Disana akan ditemukan beberapa rak besar koleksi buku Prof. Amiruddin yang dihibahkannya untuk dibaca di bagian referensi. Saya adalah saksi matanya.

Ribuan buku bertanda “Ex Libris A. Amiruddin” di halaman judul buku-bukunya menjadi saksi betapa luasnya horizon pemikiran Prof. Amiruddin. Mulai dari buku-buku kimia fisika hingga manajemen perguruan tinggi, agama, sosial, ekonomi, budaya, psikologi, filsafat dan politik. Sekedar menyebut beberapa, saya menemukan buku-buku The Academic Ethic karangan Edward Shils, Collected Works of CG Jung yang sampai 20 Volume buku berjilid-jilid tebal itu, buku karangan ahli ekonomi John Kenneth Galbraith, Sayyid Qutb, Mattulada, Anhar Gonggong , Selo Soemardjan, Arief Budiman, Men Search of Meaning karya Victor Frankl, , hingga buku-buku motivasi seperti Unlimited Power Anthony Robbins, novel Don Quixote karangan Miguel de Cervantes dan novel Gone With The Wind yang terkenal itu.Karya sastra Arenawati, laki-laki berdarah Jeneponto yang menjadi novelis terkenal di Malaysia itu juga banyak disana. Kulihat juga buku-buku tentang Marx, Nietzsche, Heidegger, Lincoln, JFK, Mahathir, Soeharto dan banyak lagi. Tidak banyak tokoh seperti ini, yang menghibahkan buku-bukunya untuk dibaca dan dimanfaatkan khalayak umum. Dalam hal ini, Prof Amiruddin sekelompok dengan Bung Hatta. Pencinta buku dengan 30.000 koleksi bukunya itu.

Hari ini telah lewat 40 hari wafatnya beliau. Pikiran saya kembali menerawang ke pertemuan kami sore itu. Pesan terakhir kepada kami sebelum berpisah. “Selamat kepada kalian semua. Pesan saya, jangan berhenti belajar. Jangan berhenti mencoba”. Kita tidak akan lagi bertemu muka dengan beliau. Namun memori tentangnya dan segala kebaikan-kebaikannya merupakan mata air yang tidak pernah kering bagi kita semua. Sebuah mata air jernih, mata air keteladanan. [*]

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x