Mohon tunggu...
Siska Dewi
Siska Dewi Mohon Tunggu... Count your blessings and be grateful

Previously freelance writer https://ajournalofblessings.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Ibuku "Toksik" dan Mewariskan "Toksisitas" Kepadaku

25 November 2020   18:00 Diperbarui: 25 November 2020   18:03 1321 112 27 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Ibuku "Toksik" dan Mewariskan "Toksisitas" Kepadaku
Thinkstockphotos.com via Kompas.com

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Idealnya, ibu (bersama ayah) menanamkan nilai, norma dan karakter positif bagi anak sebagai bekal di masa dewasa. Sayangnya, realita tidak selalu ideal.

Swanny (nama samaran), wanita setengah baya yang kini duduk di hadapan saya, adalah contohnya. Setelah berusia setengah abad dan memiliki anak perempuan yang sudah menikah, tetiba dia merasa almarhumah ibunya adalah seorang “ibu beracun” dan dirinya mewarisi karakter “ibu beracun” tersebut.

“Sejak kapan kamu menyadari diri sebagai ‘ibu beracun’ dan apa yang telah dilakukan almarhumah ibumu hingga kamu melabelinya sebagai ‘ibu beracun’ yang menghancurkan hidupmu?”

Swanny mengangkat muka. Matanya menerawang jauh dengan tatapan kosong. Yang dapat saya lakukan hanya sabar menunggu, memberinya kesempatan mengeluarkan isi hatinya.

Swanny menghela nafas panjang dan menjawab, “Sejak aku membaca artikel-artikel tentang ‘toxic mother’ dan mencocokkan ciri-cirinya dengan caraku mendidik anak. Alih-alih membantu anak-anak berkembang optimal, aku menghancurkan hidup mereka. Ibu macam apa aku ini? Kamu bisa merasakan betapa frustrasinya aku?”

Setelah melihat dia agak tenang, saya mengajaknya membahas ciri-ciri ‘ibu beracun’ dari sudut pandang yang sedikit berbeda.

                                                                   ***

Kekerasan Verbal dan Kekerasan Fisik

Swanny memilih menceritakan kepada saya momen kekerasan verbal dan kekerasan fisik yang terekam erat dalam memorinya.

“Siang itu, aku sedang membaca novel di kamar. Ada tugas bahasa Indonesia, membuat resensi novel. Tiba-tiba, ibuku masuk ke kamar dengan rotan di tangan. Direnggutnya novel dari tanganku.

Sampul novel itu bergambar sepasang remaja sedang bergandengan tangan. Aku lupa judulnya. Aku sangat ketakutan melihat wajahnya yang memerah. Benar saja, tak lama kemudian, beliau menangis histeris dan mulai mengayunkan rotan di tangannya ke arahku.

Aku berusaha menghindar namun kena juga beberapa sabetan. Akhirnya, aku meringkuk di pojok ranjang. Aku berusaha keras untuk tidak menangis karena ibu tidak suka melihat aku menangis.

Ibu terduduk di bibir ranjang. Aku lihat tangan kanannya yang memegang rotan terkulai lemas. Beliau menghapus air mata dengan tangan kiri, lalu berkata sambil terisak, tanpa memandang aku. ‘Masih SMP sudah curi-curi baca buku tentang cinta-cintaan. Mau jadi apa kamu nanti?’

Aku diam saja. Percuma menjelaskan bahwa novel itu kupinjam dari perpustakaan sekolah. Beliau tidak akan percaya jika aku katakan bahwa sesungguhnya aku sedang mengerjakan tugas dari guruku.

Ketika beliau mengultimatum aku untuk berhenti curi-curi kesempatan membaca buku yang menurutnya belum cocok untuk usiaku pada saat itu jika tidak ingin mendapat hukuman yang lebih berat lagi, aku memilih diam.

Aku hanya menjawab ‘ya’ ketika beliau memintaku tidak mengulang perbuatan membaca buku yang menurutnya akan merusak masa depanku. Dalam hati aku berjanji, jika kelak punya anak, aku tidak akan memukul mereka.”

Swanny mengakhiri ceritanya. Saya mempersilakan dia menyeruput kopi yang saya sediakan.

“Lalu, apakah kamu berhasil memenuhi janjimu? Kamu sudah hampir 30 tahun menjadi ibu. Pernahkah kamu memukul anak-anakmu?” tanya saya.

“Aku bersyukur, aku tidak pernah memukul mereka.” Swanny tersenyum kecil ketika berkata demikian. Dia tampak sudah sedikit lega.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN