Mohon tunggu...
Anita Eka Pratiwi
Anita Eka Pratiwi Mohon Tunggu...

Mahasiswi 09 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jurusan Pendidikan Kimia

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Jagung Transgenik

20 Mei 2012   13:01 Diperbarui: 25 Juni 2015   05:03 0 0 1 Mohon Tunggu...

Di Indonesia jagung merupakan bahan pangan kedua setelah padi. Selain itu, jagung juga digunakan sebagai bahan baku industri pakan dan industri lainnya. Hal ini mengakibatkan kebutuhan jagung di dalam negeri terus meningkat dari tahun ke tahun. Diperkirakan kebutuhan jagung dalam negeri akan terus meningkat sehubungan dengan bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri pangan. Untuk mencukupi kebutuhan pangan penduduk yang populasinya terus bertambah dengan pesat ini, diperlukan terobosan-terobosan dibidang teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

Kendala dalam budidaya jagung yang menyebabkan rendahnya produktivitas jagung antara lain adalah serangan hama dan penyakit. Hama yang sering dijumpai menyerang pertanaman jagung adalah ulat penggerek batang jagung, kutu daun, ulat penggerek tongkol, dan Thrips. Upaya pengendalian oleh petani pada saat ini adalah dengan menggunakan pestisida atau bahan kimia lainnya yang tidak ramah lingkungan. Dengan berkembangnya bioteknologi, perbaikan genetik jagung melalui rekayasa genetik akan menjadi andalan dalam pemecahan masalah perjagungan di masa mendatang. Perbaikan genetik jagung dapat dilakukan secara konvensional maupun melalui rekayasa genetik (genetic engeenering). Seperti diketahui, pemuliaan secara konvensional mempunyai keterbatasan dalam mendapatkan sifat unggul dari tanaman. Dalam rekayasa genetik jagung, sifat unggul tidak hanya didapatkan dari tanaman jagung itu sendiri, tetapi juga dari spesies lain sehingga dapat dihasilkan tanaman transgenik. Salah satu contohnya adalah jagung transgenik Bt. Jagung Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus thuringiensis. Jagung Bt adalah jagung hasil rekayasa genetika yang telah disisipi gen dari bakteri Bacillus thuringiensis. Gen yang diambil dari bakteri tersebut adalah gen penyandi protein Bt (delta endotoksin) yang dapat membunuh larva hama lepidoptera. Hama tersebut dapat mengurangi hasil panen jagung hingga 30%. Protein toksin  Bt mampu berikatan pada dinding usus dan menyebabkan hama berhenti makan. Selanjutnya toksin menyebabkan dinding usus pecah dan bakteri usus berpindah ke rongga tubuh dan berkembangbiak dalam darah. Akibatnya, hama lepidoptera akan mati karena keracunan darah (septicaemia). Untuk memasukkan gen ke dalam jagung, digunakan suatu proses yang disebut tramsformasi. Beberapa metode transformasi yang telah diaplikasikan pada jagung adalah penembakan mikroproyektil (microprojectile bombardment) dan transformasi yang dimediasi oleh Agrobacterium tumefaciens. Salah satu jagung Bt yang beredar di Indonesia adalah Jagung PRG MON 89034. Jagung PRG MON 89034 adalah produk generasi kedua dari perusahaan Monsanto yang diklaim dikembangkan untuk memberikan aneka manfaat yang makin besar bagi pengendalian hama serangga Lepidoptera pada jagung. Jagung PRG MON 89034 menghasilkan protein Cry1A.105 dan Cry2Ab2 hasil turunan Bacillus thuringiensis (Bt), yang secara bersama-sama mengendalikan serangga-serangga lepidoptera dengan spektrum yang lebih luas serta menawarkan sistem pengelolaan resistensi serangga yang efektif. Itulah sebabnya disebut sebagai jagung Bt. Manfaatnya adalah bisa mencegah terjadinya kerusakan yang ditimbulkan oleh hama penggerek batang jagung tanpa menggunakan pestisida buatan pabrik. Pengurangan pestisida berarti menurunkan biaya produksi dan ramah lingkungan.Manfaat lain dari pertanaman jagung Bt adalah ketahanan tanaman terhadap jamur toksin dari Fusarium penyebab busuk tongkol. Untuk melihat apakah jagung Bt aman atau tidak, telah dilakukan analisis bioinformatik secara menyeluruh. Berdasarkan hasil analisis mikotoksin, jagung Bt mempunyai kandungan fumonisin 1,5 ppm, sedangkan jagung non-Bt mempunyai kadar yang lebih tinggi, mencapai 14,5 ppm (Fuller 1999). Fumonisin B 1 (FB1) merupakan jenis fumonisin yang paling banyak ditemui di alam dan paling toksik (racun), diklasifikasikan sebagai senyawa karsinogen (penyebab kanker).

KONTEN MENARIK LAINNYA
x