Mohon tunggu...
Anita Barkah
Anita Barkah Mohon Tunggu... Kepala Sekolah - Kepala Sekolah Di SDN Bakom Kecamatan Sukaresmi Cianjur

Lahir tahun 1973

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Qasidah, Seni Islami Sarana Menggapai Prestasi

12 April 2017   09:14 Diperbarui: 12 April 2017   18:00 3392
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Qasidah berasal dari  bahasa Arab adalah bentuk Syair epik  kesusastraan arab yang dinyanyikan. Penyanyi menyanyikan lirik berisi puji-pujian (dakwah keagamaan dan satire) untuk kaum muslim, diiringi alat musik rebana dan kecrek.  Pada perkembangan selanjutnya kesenia qasidah dapat juga dimainkan dengan alat kesenian lainnya.

Qasidah biasa dipergunakan pada acara peringatan hari besar agama Islam atau kegiatan Marhaban, yaitu acara menyambut kelahiran bayi. Berbeda dengan jenis-jenis musik lainnya yang tumbuh dalam budaya Indonesia, qasidah merupakan kesenian yang diapresiasi oleh kalangan ulama dan pesantren, sehingga kesenian qasidah lebih banyak berkembang pada masyarakat yang memiliki budaya Islam yang kental.

Isi dan syair lagu-lagu pada seni qasidah para ulama membuat batasan. Bahwa lagu qasidah haruslah mengandung pada keimanan pada Allah SWT, ketaatan dalam beribadah , berbuat kebajikan dan hal-hal positif lainnya.

Qasidah sebagai salah satu kesenian terus mengikuti perkembangan jaman, mulai dari alat-alat yang digunakan (dicampur dengan alat musik modern) sampai pada tata tampilan di panggung, tetapi ada juga group qasidah yang masih mempertahankan keasliannya.

Di Indonesia beberapa tahun yang lalu pernah muncul group qasidah modern yang cukup populer, diantaranya  Rofiqoh Dartowahab dan Nasida Ria. Pemain qasidah paling sedikit ada 8 orang, terdiri atas 3 orang pemain rebana kecil yang berfungsi sebagai melodi atau pengatur lagu, 4 orang pemegang rebana besar. Dari rebana ke-4 hingga ke-7 ukurannya bertambah besar, sehingga rebana ke -7 merupakan yang paling besar. 1 orang pembawa kecrek yang bertugas mengiringi tabuhan ke-7 rebana tersebut.

Kesenian qasidah dapat dikenal dan dipelajari  di sekolah-sekolah baik tingkat SD,SLTP, maupun SMA sebagai bagian dari kegiatan ekstrakuikuler, dan sejak 8 tahun yang lalu kesenian qasidah merupakan salah satu mata lomba dalam kegiatan Pentas PAI (Pekan Keterampilan dan Seni Pendidikan Agama Islam) dan dilombakan mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, serta provinsi, sedangkan beberapa mata lomba lainnya seperti pildacil dan MTQ  sudah dilombakan sampai tingkat nasional.

Kegiatan Ekstrakulikuler Qasidah di SDN Banjarsari

Kesenian qasidah mulai diperkenalkan pada siswa di SD tempat saya mengabdi pada tahun  2010.  Awalnya saya sendiri yang memperkenalkan pada siswa karena saya pernah belajar di majelis  ta’lim tempat ibu-ibu di sekitar rumah mengadakan kegiatan pengajian, rebananya pun masih meminjam dari majelis ta’lim. Setelah beberapa kali latihan terbentuklah  satu group qasidah sekolah yang akan diikutsertakan dalam lomba  Pentas PAI tingkat kecamatan tahun 2010. Allhamdulillah walaupun masih baru belajar, grup qasidah sekolah kami berhasil menjadi juara III.

Berawal dari kegiatan lomba tahun 2010 itulah saya bertekad untuk lebih mengembangkan lagi kesenian qasidah di sekolah kami, karena melihat dari sisi positif kesenian qasidah yang islami, syairnya sarat makna dan juga mendidik, saya berfikir bahwa dengan  mencintai qasidah akan mengurangi pengaruh buruk  pada siswa dari kesenian lainnya yang beberapa diantaranya kurang mendidik, misalnya saja  syair lagu yang vulgar, gerakan yang tidak senonoh, ataupun tata busana yang sangat minim, yang kurang pantas untuk ditiru anak sekolah apalagi seusia sekolah dasar, sedangkan dalam seni qasidah selain syairnya yang sarat makna, berisi pendidikan  juga tata busana dan variasi gerakan yang sangat terjaga nilai-nilai kesopanannya.

Seni qasidah merupakan suatu seni yang berbentuk kelompok, tidak mungkin menyajikannya secara individual, oleh karena itu diperlukan kerjasama tim yang kompak dan solid untuk dapat menampilkan qasidah yang baik. Bentuk kerjasama inilah yang juga memotivasi saya untuk  terus mengembangkan kegiatannya dalam bentuk ekstrakurikuler di sekolah,  karena  selain dapat membina karaktek siswa dari segi kerjasama dengan orang lain, saling menghargai, dan kedisiplinan  sekolah pun dapat menjadikannya  sebagai ajang untuk meraih prestasi.

Tahun 2011 dimulai pembinaan yang intensif, di sela-sela jam istirahat siswa-siswa yang lolos audisi melakukan latihan,  dan lebih intensif lagi saat kegiatan ekstrakulikuler setiap hari Sabtu sore. Untuk mendukung  penampilannya saya khusus pergi ke Pasar Tanah  Abang Jakarta untuk membeli kostum yang sesuai, walau akhirnya yang bisa dibeli saat itu adalah kostum yang masih sederhana, sesuai harga. Rebana juga akhirnya sekolah membeli yang baru, sehingga menambah semangat anak-anak untuk berlatih. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun