Mohon tunggu...
Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Mohon Tunggu... Penulis, guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Artikel Utama

Puisi | Sebagai Perempuan dari Dua Lelaki Kehilangan

26 Mei 2019   05:53 Diperbarui: 26 Mei 2019   19:08 0 62 33 Mohon Tunggu...
Puisi | Sebagai Perempuan dari Dua Lelaki Kehilangan
Sumber ilustrasi: Pixabay.com

Benar atau salah, vonis itu harus dihadapi. Kakimu terlatih untuk berpijak pada kepastian ketetapan. Ragamu goyah tetapi pandanganmu harus tetap tegak. Hatimu putih jernih ditengah silang sengkarut dunia.

Sebagai perempuan, 

Ada dua lelaki yang harus engkau bahagiakan. Maka hatimu sendiri harus lebih luas melebihi samudera. Agar dua kali dapat engkau tampung di muara. Dan kau sediakan pantai yang indah untuk kehidupan mereka. Di setiap pertemuan samudera dirimu dan problematika dua kali itu.

Sebagai perempuan dengan dua lelaki kehilangan.

Harus lepas dari inginnya sendiri. Mau lepas dari butuhnya sendiri. Rela lepas dari haknya sendiri. Dua Lelaki itu telah kehilangan penopang, maka kau harus siap mengisi kekosongan, menjadi pasak, menjadi tonggak, agar mereka tak merasa rapuh menantang garang kehidupan.

Engkau perempuan, dan perempuan pasti dalam tuntutan.

Perempuan dengan dua lelaki kehilangan dituntut untuk mandiri. Maka kurangi tidurmu dan berjuanglah sekarang . Perjudianmu dengan nasib adalah tetes peluh. Taruhanmu gemeretak bantingan tulang. Deritamu sekarang buat bahagia dua lelakimu kelak.

Untuk beroleh kemuliaan kamu diberi tanggung jawab. Kamu pikul itu baik-baik, jangan tumpah. Menumpahi dua lelakimu, anak- anakmu. Perempuan kehilangan dengan dua lelaki peninggalan diciptakan untuk memikul beban. Beban apa saja.

Perempuan kehilangan dimuliakan untuk tidak lebih sayang diri sendiri daripada anak-anaknya. Maka bersabarlah kalau mendapat lebih sedikit rasa cinta. Anak anakmu paham benar itu. Kau tahu? Sebenarnya mereka mencintaimu, malu saja mereka bicara.

Perempuan dengan dua lelaki kehilangan itu kuat. Maka mengeluhmu hanya boleh kepada Tuhan saja. Tidak kurang, tidak lebih.

Menangislah di bawah hujan. Agar banjir tangismu tak terlihat pandangan. Sedang ketika hujan reda, kau tersenyum seolah terang benderang sepanjang siang.

Pujon,  260519