Anis Hidayatie
Anis Hidayatie Guru

Perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata. Cinta adalah muasal segalanya. Mari tebar cinta dengan kata-kata.

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Aku Datang untuk Kehidupan

16 Maret 2019   06:32 Diperbarui: 16 Maret 2019   06:43 218 33 22
Aku Datang untuk Kehidupan
Pixabay.com

Pada hujan pagi ku tuliskan bait kenangan, tentang separuh sukma yang tlah berpulang. Kubiarkan air langit beradu dengan linangan untuk tak terlihat aku sedang dalam kesedihan. Temu dengannya menumbuhkan pilu remuk redam yang coba kutahan, kesepian meradang, mendendangkan ingin susul dalam penyatuan.

Kalaulah tak ingat amanah, andai kusangka menyusulmu tak perlu bekal, talah kusayat nadi ini demi sua kita arungi hidup bersama di sana. Bertahan, dia pompakan aku semangat, ada jalan lain yang bisa kutempuh untuk menemuimu dalam nikmat. Merawat peninggalan, memperjuangkan asamu, agar dua buah cinta kita pandai mengeja ayat pun melantunkan tanpa melihat.

Untuk mereka aku kuat, ditambah bahu sahabat, yang selalu siap sebagai tempat, bagiku bersandar bila kepala ini penat. Meski kadang aku malu mengakui, walau sering aku bersembunyi dari lemah diri ini. Ternyata rebah sebentar mampu memunculkan lagi kekuatan, bahwa hidup ini bukan beban, tapi tantangan yang harus ditaklukkan.

Duhai sahabat dengan pundak yang selalu siap, untukmu kuhamparkan rindu sua, bila bila masa mempertemukan, kan kusampaikan buah petuah darimu berkata- kata. Tlah bertunas lagi ulas senyum ini. Demi memperjuangkan warisan bagi dia yang tlah berpulang.

 Pun tahu aku kini. Bahwa hidupku tidak sendiri. Ada banyak tangan yang dengan senang hati menerima gapai jemari. Bila di hadapan ada pengharapan, masih haruskah langka ini surut ke belakang? Aku melihat dengan mata hatiku sendiri. Jalan terang di depan, lebar membentang, menunggu aku datang.

Malang, 16032019