Mohon tunggu...
Anggi Hafiz Al Hakam
Anggi Hafiz Al Hakam Mohon Tunggu...

Saya membaca maka saya menulis. | literature enthusiast | Pembaca SGA | Bee Gees | penulis-kolumnis dadakan | baca Horison sebulan sekali | selendangwarna.blogspot.com |

Selanjutnya

Tutup

Politik

Senja dan Cinta yang Berdarah

19 Juni 2015   09:23 Diperbarui: 20 Juni 2015   02:41 45 0 1 Mohon Tunggu...

Apa salahnya punya harapan. Hidup begitu singkat, apa jadinya kalau harapan saja tidak punya.
(Ibu Yang Anaknya Diculik Itu, hal. 743)

Kumpulan ini memuat semua publikasi cerita pendek SGA secara historis. Kesemuanya merupakan cerpen yang terbit di media cetak (harian/koran). Bagi para pembaca SGA tentu sudah tidak asing menjumpai kembali cerpen-cerpen yang sudah lebih dulu dibukukan. Walau begitu, buku ini tidak sekedar menjadi buku "reborn" dari cerpen-cerpen SGA.

Ada beberapa cerpen yang sudah naik cetak dan beredar namun belum dibukukan. Menariknya lagi, cerpen-cerpen itu tidak hanya muncul dari karya SGA yang kekinian. Hal semacam inilah yang menjadikan buku ini semacam satu karya kumpulan cerpen lagi. Khusus, untuk cerpen-cerpen yang belum dibukukan. Untuk alasan itulah, publikasi terbaru dari SGA ini hadir ke ruang baca pemirsa.

Total ada 85 cerpen dengan tiga pembagian periodisasi. Periode 1978-1981, 1982-1990, dan 1991 hingga 2013. Sejarah kepenulisan SGA sebagai cerpenis terlihat jelas dalam periodisasi yang sedemikian rupa disusun oleh editor. Muatan nilai dan pesan yang ingin disampaikan SGA juga mencerminkan satu keadaan atau satu masa dalam sejarah bangsa yang panjang. Contoh saja, SGA menulis tentang cerita seorang penembak jitu yang pada saat itu erat sekali kaitannya dengan Petrus (Penembak Misterius) pada masa Orde Baru.

Kehadiran kembali cerpen-cerpen SGA ini mengingatkan saya pada tulisan SGA yang dimuat dalam buku “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara”. Seno menulis (kalau saya tidak lupa) “Tak ada yang abadi, kecuali dokumentasi”. Rupanya, SGA serius dengan apa yang pernah dikatakannya. Maka, saya juga tidak ragu tatkala beliau menolak penghargaan Ahmad Bakrie pada tahun 2012 lalu.

Dengan demikian, Sang Nagabumi kian paripurna dalam mencapai keabadiannya. Buku ini membuktikan bahwa kelak dokumentasi akan punya ruangnya sendiri dalam jalan sejarah. Saya tentu masih punya harapan besar bahwa SGA akan mengeluarkan karya terbarunya, walau hanya remake. Saya berharap SGA juga tidak lupa dengan kalimat penutup pada pidato sambutannya kala menerima SEA Writing Award tahun 1997 di Thailand : “Saya akan terus menulis.”


Judul        : Senja dan Cinta yang Berdarah
Penulis     : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit   : Penerbit Buku Kompas
Tebal        : 822 hal.
Tahun       : 2014
Genre       : Sastra - Cerita Pendek


Dharmawangsa-Medan Merdeka Barat, 20 April 2015.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x