Mohon tunggu...
Anggi Hafiz Al Hakam
Anggi Hafiz Al Hakam Mohon Tunggu...

Saya membaca maka saya menulis. | literature enthusiast | Pembaca SGA | Bee Gees | penulis-kolumnis dadakan | baca Horison sebulan sekali | selendangwarna.blogspot.com |

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Norwegian Wood (Dan Sebuah Catatan Singkat)

4 Juni 2014   21:21 Diperbarui: 20 Juni 2015   05:21 284 0 0 Mohon Tunggu...

I sat on the rug, biding my time, drinking her wine We talked until two and then she said, "It's time for bed" The Beatles - Norwegian Wood Dapat dibaca juga di blog penulis

Mendengar lagu 'Norwegian Wood milik The Beatles mengalun kembali, Watanabe kembali teringat kepada sosok yang pernah dicintai dan diinginkannya, Naoko. Persahabatannya dengan Kizuki membawanya kepada perkenalan dengan Naoko. Selepas kematian Kizuki, Watanabe menjadi satu-satunya bagi Naoko. Hari demi hari, ikatan mereka bertambah kuat. Tanpa ada pernyataan cinta sekalipun dari Watanabe. Kedekatan mereka pula yang akhirnya mendorong mereka melakukan hubungan intim. Usai malam itu, watanabe kembali ke dunianya, kembali ke kehidupannya semula. Watanabe bersahat dengan Nagasawa yang dipandangnya sebagai sosok lelaki yang memang punya banyak kesamaan dengannya. Mereka membaca buku dan memiliki selera yang sama. Ketertarikan mereka berpusat pada diri mereka tidak kepada dunia di luar diri mereka. Dari Nagasawa kelak Watanabe akan mengenal Hatsumi-san, kekasih Nagasawa yang dinilainya terlalu baik untuk Nagasawa. Kehidupan kampus membawa Watanabe kepada sosok perempuan ceria bernama Midori, teman sekelas di kelas drama. Watanabe kemudian mulai dekat dengan Midori yang ternyata memendam perasaan kepadanya. Ketika Naoko menghilang untuk sebuah alasan, Watanabe menemukan sesuatu yang menarik dalam diri Midori. Watanabe tidak bisa melepaskan kebiasaannya dengan Nagasawa. Bila ada waktu senggang, mereka akan keluar dari asrama dan tidur dengan perempuan yang dijumpainya di tempat minum. Kebiasaan Watanabe itu didasari rasa haus, kesepian, dan kegalauan atas perasaannya. Ia tidak mampu menjelaskan perasaanya sendiri untuk Naoko maupun Midori. Kebetulan, Nagasawa punya cara sendiri untuk melampiaskan itu semua sehingga Watanabe mengikutinya. Watanabe tetap tidak bisa melupakan Naoko. Maka ketika surat dari Naoko tiba, Watanabe segera merencanakan perjalanan untuk menemuinya. Naoko sedang menjalani penyembuhan di sebuah tempat di daerah pegunungan. Bukan panti rehabilitasi biasa. Naoko berada dalam lingkungan yang menjaga penghuninya dari dunia luar. Sebuah tempat dengan lingkungan yang betul-betul aneh namun tidak bagi Watanabe. Pertemuan kembali dengan Naoko membuat roda gigi kehidupan Watanabe kembali melaju. Watanabe juga bertemu dengan Reiko-san teman sekamar Naoko. Dari Reiko, Watanabe dapat memahami apa yang terjadi pada Naoko. Kelak, Reiko akan menemui Watanabe kembali demi sebuah penjelasan. Usai berpisah dengan Naoko, Watanabe menjalin kembali hubungannya dengan Midori. Midori semakin menunjukkan perasaan sukanya. Hanya saja ia tidak mampu memahami apa yang terjadi dengan Watanabe. Watanabe sendiri lebih bergairah mengingat ia telah menjanjikan Naoko untuk hidup bersama. Sekeluarnya dari asrama, Watanabe menyiapkan semuanya untuk menyambut kepindahan Naoko. Dan ketika hubungannya berjalan tidak lancar dengan Midori, terjadi sesuatu pada Naoko. Pada kunjungannya yang kedua ke tempat Naoko, Watanabe tidak melihat sesuatu yang aneh pada Naoko. Melalui Reiko juga, Watanabe tahu bahwa Naoko sering mengalami gangguan bisikan yang dikaitkan dengan kesehatan jiwa. Watanabe mengerti dan memahami tindakan Naoko yang lebih banyak diam itu. Midori pun semakin menjauh dari Watanabe. Midori sadar bahwa ada perempuan lain dalam hidup Watanabe. Ia mengerti itu namun ia tidak dapat menahan perasaannya. Sehingga ketika bertemu kembali dengan Watanabe, ia memutuskan untuk menghilang saja dari kehidupan Watanabe. Dua bulan Midori menghilang, sementara Watanabe sendiri makin bimbang dengan perasaannya. Ia segera mencari cara untuk dapat menghubungi Midori. Namun semua itu sia-sia belaka hingga akhirnya Naoko menjemput ajal dengan bunuh diri di hutan dalam tempat rehabilitasi. Reiko-san meminta Watanabe hadir dalam upacara kremasi Naoko yang sepi itu. Watanabe semakin dilanda kekalutan hingga ia pun menghilang sementara waktu. Watanabe melakukan perjalanan yang tak tentu arah. Ia naik kereta, menumpang truk, tiduran di tepi toko, berjalan tak tentu arah hingga terdampar di tepi pantai dan menerima belas kasihan dari seorang anak nelayan. Watanabe sadar bahwa ia harus segera pulang. Kematian Naoko tidak ada hubungannya dengan kekalutan dunianya. Memang benar dunianya kini hampa dengan tiadanya Naoko dan harapan-harapan yang ia simpan bersamanya. Watanabe bergulat dengan dirinya sendiri dan ia memenangkannya. Kematian dan kehidupan adalah dua hal yang berbeda. Ia segera kembali ke Tokyo setelah sebulan menghilang. Ia mencoba menghubungi Midori namun belum berhasil. Watanabe melanjutkan hidupnya dan menerima surat dari Reiko-san yang memberitahunya bahwa ia akan menemuinya. Reiko-san telah memutuskan untuk keluar dari tempat rehabilitasi yang dulu ditinggalinya bersama Naoko. Pertemuan dengan Reiko-san ini menyingkap banyak tabir seputar kematian tragis Naoko. Reiko-san bersama Watanabe bahkan melakukan upacara kematian Naoko dengan menyanyikan lagu-lagu Beatles yang dimainkan reiko-san dengan gitarnya. Lima puluh lebih lagu mereka mainkan malam itu hingga mereka sama-sama tersadar bahwa mereka saling menginginkan. Mereka menutup malam dengan tidur bersama untuk merayakan Naoko yang sudah tiada dan Reiko-san yang akan kembali mengajar di sekolah musik milik temannya. Tiba waktunya Reiko-san untuk segera melanjutkan perjalanan ke kota tujuannya. Watanabe kembali berpisah dengan Reiko-san. Keduanya telah mengikat janji untuk saling bertukar kabar. Sementara Watanabe telah memutuskan untuk mencari Midori. Ia berhasil menghubungi Midori dan bercakap-cakap dengannya ketika ia benar-benar tidak sadar dimana ia berada. Catatan Personal

Norwegian Wood milik Haruki Murakami adalah karya penulis Jepang kesekian yang pernah saya baca. Sebelumnya, saya lebih dulu menamatkan Botchan (Natsume Soseki), sebuah buku biografi Soseki dan Toson, Rashomon milik Ryunosuke Akutagawa, dan Snow Country dari Yasunari Kawabata. Rasa penasaran akan buku ini dimulai sejak saya mulai mengakrabi bacaan-bacaan itu tadi. Namun, saya terus menunda pembacaan karya Murakami ini hingga memasuki pertengahan tahun ini. Saya kembali dilanda rasa penasaran setelah berbincang ringan dengan seorang kawan. Norwegian Wood saya rasa berhasil mendeskripsikan dengan detail keadaan kaum muda di Jepang pada satu linimasa, akhir 1960-an hingga awal 1970-an. Kegalauan, harapan, pretensi, ekspektasi kamu muda negeri Sakura terlukis jelas dalam novel dewasa yang mengambil judul lagu dari The Beatles ini. Melalui cerita Watanabe, pembaca dapat menangkap dengan jelas segala gejolak dan gairah anak muda Jepang pada masa itu. Masa muda yang penuh dengan segala hasrat pencapaian dan nafsu pelampiasan. Tak pelak, seks pun ikut menjadi bumbu yang tidak hanya menjelaskan isi cerita namun terlebih sebagai simbol suatu fenomena yang terjadi saat itu. Murakami memiliki cara yang cerdas untuk menempatkan tokoh Watanabe dalam cerita. Watanabe diposisikan sebagai sosok sentris yang memegang segala sesuatu untuk menentukan akhir cerita. Memang tidak salah bila kemudian pembaca menebak-nebak akhir cerita akan seperti apa. Murakami menempatkan kebingungan, kebimbangan, kegalauan, dan kekalutan sekaligus pada Watanabe. Sehingga, tidak mudah untuk menebak kepada siapa Watanabe akan menentukan pilihan. Bila pembaca sedikit sensitif dengan beberapa 'clue' dalam cerita tentu akan mampu membuat tebakan yang jitu. Ambil contoh, Naoko kecil melihat sendiri kakaknya meninggal secara tragis dengan menggantung ddiri. Kemudian, apa yang terjadi pada Naoko seharusnya sudah bisa ditebak. Ia akan menggantung dirinya setelah mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Apapun itu, kiranya Murakami seakan ingin berkata bahwa kebahagiaan itu dicari dengan pilihan. Pilihlah jalan kebahagiaanmu sendiri. Segenap konflik yang terjadi pada Watanabe, Naoko, Midori, Nagasawa-Hatsumi, dan Reiko adalah perjalanan menuju kebahagiaan itu sendiri. Judul        : Norwegian Wood Penulis      : Haruki Murakami Penerbit    : Kepustakaan Populer Gramedia Tahun       : 2013 Tebal        : 426 hal. Genre       : Sastra Jepang-Novel Dewasa Medan Merdeka Barat, 4 Juni 2014. Usai makan nasi bebek Dapat dibaca di blog penulis

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x